Bukit Sampah: Kumpulan Puisi Karya Supali Kasim
Bukit Sampah: Kumpulan Puisi Karya Supali Kasim
Bukit Sampah: Kumpulan Puisi Karya Supali Kasim
Subuh dijadikan tabu dalam lelap serak
Netra kosong di atas ranjang berderak
Rambut tergelar berantak
Tak peduli pada malaikat yang bersorak
Langkah berlalu melampaui batas
Badan terhuyung mengitari rasa
Mengusung unjuk demokrasi nyata
Yang mengapung dalam retorika
Aku mendengarkan. Seperti biasa. Selama satu setengah jam, aku mendengar tangisannya, kemarahannya, kecewaannya. Aku memberi saran yang sama seperti tiga bulan lalu ketika mereka putus—sebelum akhirnya balikan lagi. Aku bahkan melucu agar dia tertawa sebentar.
Ketika Ayah kembali ke kamar rumah sakit, aroma gurih mie ayam langsung memenuhi ruangan. Bima, yang tadinya terpejam, sedikit membuka matanya dan tersenyum. Aroma itu, aroma yang selalu ia dambakan dari jauh, kini nyata di hadapannya.
sejatinya usaha dan doa itu suatu hal yang tidak dapat dipisahkan. Dengan doa dan usaha ketidakmungkinan dapat menjadi mungkin.
“Ayo dibeli, dibeli! Kesedihan satu ikat dua ribu! Kalau kamu sangat membutuhkannya, akan kuberi cuma-cuma! Jangan takut kehabisan stok, jika habis akan kubuat lagi dengan mudah!” seru Atin lantang kepada siapa pun yang lewat.