Batu — Kegiatan Reses Tahun 2025 yang dilakukan oleh Muhammad Arbayanto, SH., MH., anggota DPRD dari Fraksi Demokrat, berlangsung dalam suasana berbeda dan penuh keakraban. Bertempat di Kedai Kopi Jaler Tenan, kegiatan ini mengusung konsep “ngopi santai” atau cangkrukan, membuat masyarakat merasa lebih nyaman dalam menyampaikan aspirasi mereka secara langsung kepada wakil rakyat.
Hadir dalam kegiatan ini unsur-unsur masyarakat seperti Ketua RW, Karang Taruna, Kelompok Wanita Tani (KWT), Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK), serta tokoh pemuda dan perempuan. Reses ini turut difasilitasi oleh Kelompok Masyarakat (Pokmas) Brantas Connection yang bertindak sebagai mitra pelaksana dan jembatan antara masyarakat dan dewan.
Konsep santai yang diusung Muhammad Arbayanto ternyata mendapat apresiasi tinggi dari warga. Salah satu peserta menyampaikan bahwa, “Selama ini jarang sekali bisa berbicara sedekat ini dengan anggota dewan. Biasanya kesannya jauh, tapi sekarang terasa sangat terbuka.”
Berbagai aspirasi mengemuka dalam sesi diskusi malam itu. Di antaranya permasalahan legalitas komunitas yang tumbuh di masyarakat, keterlibatan dan peran aktif perempuan dalam program-program pemberdayaan seperti PKK dan kegiatan swadaya, beban pajak yang dirasa memberatkan pelaku UMKM, perhatian terhadap pelayanan Posyandu, hingga isu mendasar tentang kualitas air bersih.
Muhammad Arbayanto menanggapi semua masukan dengan terbuka dan mencatat seluruh poin penting untuk ditindaklanjuti. Ia menegaskan bahwa reses bukan hanya formalitas, tetapi momen penting untuk mendengar langsung denyut nadi persoalan masyarakat.
Sementara itu, Ketua Pokmas Brantas Connection, Rofi’i, menyampaikan bahwa pihaknya siap terus menjadi mitra aktif dalam menjembatani suara masyarakat. “Kami mencatat dengan rapi semua poin yang disampaikan malam ini. Tinggal nanti kita kawal bersama bagaimana solusi yang sudah dimusyawarahkan bisa direalisasikan.”
Kegiatan reses ini menjadi bukti bahwa komunikasi antara wakil rakyat dan masyarakat bisa berlangsung hangat dan tanpa sekat. Diharapkan, model cangkrukan seperti ini bisa menjadi contoh pendekatan politik partisipatif yang lebih membumi dan efektif ke depan.

