Free will atau kehendak bebas adalah bahwa manusia itu menentukan dan memutuskan segala sesuatunya atas kehendaknya sendiri, dia tidak dipaksa oleh siapapun dan apapun. Sebelum ilmu neurosains berkembang seperti sekarang ini, pendapat tentang apakah manusia itu memiliki free will (kehendak bebas) atau tidak, belum ada bukti yang benar-benar teguh untuk bisa jadi pegangan.
Pada penelitian Libet’s Experiment yang dilakukan awal 1980-an, kapan otak mulai mempersiapkan gerakan dibandingkan dengan kesadaran kita untuk membuat keputusan. Dan ternyata otak mulai mempersiapkan gerakan 350 detik lebih awal sebelum orang merasakan bahwa mereka ‘memutuskan’ untuk bergerak. Eksperimen Libet menunjukkan bahwa aktivitas otak untuk melakukan suatu tindakan terjadi sebelum kita sadar membuat keputusan itu. Hal ini mengguncang pandangan klasik tentang kehendak bebas, dan memberi dasar pada argumen bahwa banyak dari tindakan kita mungkin ditentukan oleh proses otak tak sadar. Tapi masing-masing pendapat memiliki dasar pemikiran atau hipotesa.
Dalam ilmu pesantren misalnya, terdapat dua aliran yang bernama Jabariyah dan Qodariyah, yang mana kedua aliran ini dengan dasar argumentasinya masing-masing memiliki pandangan yang berbeda bahkan bertentangan satu sama lain dalam menentukan manusia memiliki free will atau tidak. Aliran Jabariyah, yang berasal dari kata “jabr” yang berarti “paksaan” dengan tokoh terkenalnya yang bernama Jahm bin Safwan pada abad ke-8 Masehi menyatakan bahwa manusia mutlak tidak memiliki free will, manusia tidak memiliki pilihan apapun untuk melakukan apapun. Jika diilustrasikan manusia itu layaknya wayang atau boneka yang dijalankan oleh dalangnya. Tidak ada satupun yang ada di alam semesta ini yang tidak direncanakan, tidak ada satupun yang tidak memenuhi keinginan sang dalang yang maha kuasa.
Berbanding terbalik dengan aliran Qodariyah yang dijabarkan oleh tokoh terkenal yang bernama Ma’bad al-Juhani dan Ghailan al-Dimasyqi, manusia justru dipandang sangat otoritatif terhadap diri mereka sendiri, manusia memiliki “qadar” yang berarti “kemampuan” atau “kekuasaan”, memiliki kehendak bebas. Manusia bertanggung jawab penuh atas amal perbuatannya, tidak dalam kekuasaan dalang yang maha kuasa dalam melakukan sesuatu, jadi wajar jika manusia akan dihukum dan ditempatkan di tempat yang sangat menyiksa jika berperilaku buruk dalam kehidupannya.
Dalam aliran Qodariyah dalang dipandang sebagai pengatur dunia yang kemudian diserahkan kepada manusia sebagai wakil yang dipercaya mengendalikan aturan-aturan yang dibuat oleh sang dalang, atau yang populer disebut Khalifah di muka bumi, segala tindakan dan keputusan manusia tidak ada intervensi dari dalang, murni atas kehendak manusia itu sendiri. Kedua aliran tasawuf ini sangat berbeda dan bertentengan satu sama lain dalam memandang free will.
Namun ada lagi aliran atau pandangan yang umum dan unik yang bernama Asy’ariah, dimana aliran ini berpandangan bahwa manusia berkehendak, tapi dalang yang menentukan dan memutuskan sesuai kehendak dalang. Unik sekali.
Pada saat ilmu pengetahuan belum berkembang pesat seperti sekarang ini, keyakinan kita diasuh oleh ide esensialisme dari seorang filsuf yang bernama Plato, bahwa dalam tubuh manusia memiliki dua entintas yang berupa raga dan jiwa yang terpisah. Ide ini sebenernya cukup bagus dijamannya, saat dimana kita belum mengetahui bagaimana cara kerja otak, dan bagaimana cara kerja biologi. Ide dan argumentasi Plato tersebut bisa dipegang sebagai landasan moral pada saat itu dan kemudian dijadikan landasan hukum masyarakat dibentuk.
Sejak lama free will memang menjadi perbincangan dan perdebatan, tapi hal itu masih dalam tataran filsafat dan pemikiran, bukan tataran sains yang bisa dikonfirmasi kebenarannya.
Sejak sekitar 1950-1960an ilmu pengetahuan telah meneguhkan bahwa tubuh manusia itu bekerja mengikuti hukum alam, termasuk sel itu sendiri bekerja juga sesuai hukum alam. Beda lagi kalau banyak orang yang percaya bahwa tubuh manusia itu bukan berasal dari alam tapi dari akhirat.
Sel tetap eksis dan bekerja adalah karena sistem natrium-kalium-pump, di dalam sel tubuh manusia/ natrium otomatis masuk ke dalam, untuk keluar lagi akan dipompa secara otomatis. Sementara kalium otomatis keluar dan untuk masuk ke dalam akan dipompa. Sementara pompa ini akan bekerja jika diberi bahan bakar yang bernama ATP (Adenosine Trifosfat), pada dasarnya secara fisiologis jaringan-jaringan tubuh kita bekerja karena sel kita sehat, jaringan yang sehat membentuk organ yang sehat, sehingga pekerjaan organ akan bagus jika jaringannya juga bagus, jaringan akan bagus jika sel-nya juga bagus, demikian kurang lebih penjelasan ringkasnya.
Jadi sesungguhnya dengan dasar pengetahuan ini saja kita bisa menyimpulkan bahwa kehendak bebas atau free will itu tidak ada. Natrium dan kalium keluar masuk itu jelas bukan kemauan atau kehendak kita tapi kemauan dan kehendak alam. Kerja otak manusia sangat bergantung pada kadar kalium dalam darah, sangat tergantung dengan kadar kalsium dan natrium. Andaikata kadar natrium dalam darah kita turun dari batas normal 135 menjadi 130 atau 125 bisa dipastikan kita akan “teler”. Nah apakah itu merupakan kemauan atau kehendak kita? Dengan pengetahuan yang berasal sekitar tahun 1950-1960an ini saja, sesungguhnya kita bisa memastikan bahwa free will tidaklah ada.
Pada umumnya spesies manusia mulai memiliki ingatan atau kesadaran disaat mereka berusia sekitar 4 atau 5 tahun, ketika berumur 1 – 3 tahun manusia masih belum merasa bahwa dirinya ada, belum memiliki kesadaran. Lantas ketika ada anak kecil yang berumur 1 – 3 tahun menangis atau meronta meminta sebuah permen, hal itu atas keinginan dan kehendak siapa? Jelas itu kemauan otaknya, karena anak yang masih dalam tahap usia itu tidak memiliki kemampuan memutusakan apa yang seharusnya dilakukan karena belum sadar bahwa dirinya ada, etika baik dan buruk, anak tersebut juga masih belum mengenal, apalagi soal salah dan benar.
Kemudian seandainya free will pada manusia itu ada, maka pertanyaan logisnya adalah sejak kapan free will itu ada? Inilah yang menjadi perdebatan sejak lama tentang batasan-batasan keberadaan free will pada manusia, sementara sekali lagi perdebatan ini hanya ada dalam tahap pemikiran, dan masing-masing pemikirian tersebut tidak memiliki bukti yang teguh dan kokoh untuk bisa dijadikan pegangan bahwa manusia memiliki free will.
Sesungguhnya sejak dulu cara kerja sains tidak untuk membuktikan sesuatu yang tidak ada, sains adalah upaya manusia dalam mencari dan menemukan mekanisme dari hal-hal yang ada, bukan hal yang tidak ada.
Sekalipun ada pemikiran yang memiliki narasi bahwa kita belum menemukan bukti ada free will, bukan berarti bukti free will itu tidak ada, bahwa ketiadaan bukti itu bukan berarti bahwa butki itu tidak ada. Ini adalah akrobatik pemikiran dalam wilayah filsafat, sementara sains tidak peduli dengan hal-hal seperti itu, sains tidak peduli dengan sesuatu yang tidak ada, dalam konteks manusia sebagai makhluk biologi, sains dengan tegas menyatakan bahwa tubuh manusia ini disusun oleh bahan-bahan alam yang berkerja sesuai dengan hukum alam (determinisme), memiliki alur, memiliki mekanisme dan alam juga memiliki alogaritmanya sendiri (flowchart).
Dan alogaritma alam ini bersifat konsisten, contohnya adalah pesawat yang sebesar dan seberat itu bisa terbang karena alogaritma hukum alam ini bisa dihitung karena konsisten. Dan hukum alam ini berlaku juga pada tubuh manusia, karena tubuh manusia memang disusun oleh bahan-bahan alam. Atas dasar pemikiran inilah bisa dikatakan bahwa sesungguhnya free will itu tidak ada.
Pada akhir tahun 1990an Sam Harris dkk melakukan penelitian dan menemukan fakta bahwa sebelum seseorang memiliki keinginan, sel di dalam tubuhnya sudah aktif terlebih dahulu, bahkan keinginan itu muncul setelah adanya aktifitas sel dan jaringan di dalam otak. Jadi kita tidak bisa menentukan akan berkeinginan apa atau berperilaku seperti apa, karena sesaat sebelum hal itu terjadi sudah ada aktifitas sel, sehingga ketika kita memutuskan sesuatu adalah diluar keinginan kita. Dari hasil penemuan ini akhirnya disimpulkan bahwa secara sains free will itu tidak ada. Namun demikian hal ini tidak bisa serta merta disimpulkan bahwa sains beraliran Jabariyah, karena sains tidak peduli dengan Jabariyah atau Qodariyah, sains tidak diatribusikan kepada jenis keyakinan apapun.
Akan tetapi meskipun sudah dinyatakan bahwa free will itu tidak ada, perilaku manusia itu bisa diatur atau didesain seperti yang kita harapkan karena telah diketahui bahwa cara kerja sel otak itu memiliki dasar-dasar biologisnya, dan justru manusia bisa didesain perilakunya karena telah diketahui bahwa manusia tidak memiliki free will. Perilaku manusia bisa diarahkan (di-drive) untuk berperilaku jahat atau tidak, baik atau buruk itu karena justru karena kita tahu bahwa free will itu tidak ada. Contohnya ketika anak-anak diajari dan dilatih untuk antri, dilatih buang sampah pada tempatnya, atau dilatih untuk tidak mengambil barang milik orang lain, anak-anak tersebut menjadi memiliki empati yang tinggi. Nah, empati yang ada di dalam diri seseorang itu bukan karena free will tetapi karena direkayasa dan dilatih untuk mendapatkan perilaku seperti yang diharapkan.
Sokran Candra Ori, tinggal di Kota Malang Jawa Timur

