kirim opini di media massa terbaik

Lari: Dari Aktivitas Sehat Menjadi Ajang Gengsi Sosial

Spread the love

Lari didefinisikan sebagai olahraga yang paling sederhana karena hanya membutuhkan kedua kaki untuk melangkah cepat, tetapi kini makna itu telah bergeser. Generasi produktif, khususnya, menjadikan lari sebagai gaya hidup yang mungkin tidak afdol jika belum melakukannya. Lekat dengan media sosial, pelari “kalcer” tampil bak model yang lengkap dengan sepatu bermerek, aksesoris ratusan ribu, serta kaos bertuliskan klub lari yang diikuti.

Penyebaran tren lari ini bisa dikatakan sebagai virus hidup yang dapat menyerang individu dengan cepat hanya dengan melihat postingan di media sosial. Dapat dijumpai dengan nyata terlebih di fasilitas stadion olahraga ataupun saat Car Free Day. Tak luput juga event fun run atau lari senang yang bertebaran tiap akhir pekan. Sehingga timbul pertanyaan, peranan tren lari ini untuk kesehatan atau demi citra status sosial?

Tak ada yang tiba-tiba menjadikan lari sebagai tren masa kini. Setiap orang tentu ingin menjalani kehidupan yang sehat. Dengan meluangkan waktu untuk berolahraga secara teratur seperti berlari, tentu saja dapat meningkatkan kualitas kesehatan. Faktor lain kemunculan budaya berlari tentu saja didukung dengan produk sepatu yang terus bersaing dengan peningkatan performa, event lari, dan eksposur di media sosial. Beriringan dengan itu, muncul istilah “pelari kalcer”, singkatan dari Running Culture, sebagai simbolis pelari yang tak asal melangkah tapi menaburkan bumbu fesyen. Tak berhenti disitu saja, unggahan pose foto agar terlihat keren serta Strava (aplikasi penghitung langkah kaki) di media sosial bertujuan agar mendapat pengakuan publik.

Fenomena Fear of Missing Out membuat pelari rela mengantre atau pre-order demi mendapatkan sepatu berharga jutaan rupiah dengan edisi terbatas. Trik promosi oleh merek ternama dengan menyediakan percobaan berlari memakai sepatu secara gratis untuk mengikuti event lari pun mampu memberikan sensasi yang berbeda. Ranking sepatu lari dari berbagai brand dunia juga meramaikan popularitas di kalangan pelari. Ini semua mampu mengubah pandangan individu bahwa lari harus menggunakan barang mahal, malah terkadang ada yang memaksakan dengan membeli barang palsu agar terlihat “kalcer”. Di titik ini, lari telah menggeser manfaat bukan hanya untuk kesehatan tetapi juga menjadi perlombaan gaya hidup.

Tidak bisa dipungkiri, sejatinya lari membawa banyak dampak positif. Gerakan lari yang digaungkan di media sosial mampu menggerakkan generasi usia produktif untuk peduli dengan kesehatan mengingat saat ini porsi hidup tak lagi mencapai keseimbangan. Komunitas lari yang tumbuh dan terdapat di berbagai kota di Indonesia semakin memperkuat keberadaan tren lari. Informasi yang diperoleh dari Garmin, produsen smartwatch asal Amerika Serikat, mengindikasikan bahwa aktivitas berlari mengalami peningkatan pada tahun 2024.

Berdasarkan informasi yang terdaftar di aplikasi Garmin Connect pada Mei 2024, terdapat lebih dari 80 ribu pengguna yang secara rutin berlari di Indonesia. Angka ini meningkat dibandingkan bulan Mei tahun lalu yang hanya mencapai 35 ribu pelari. Inisiatif muncul ketika para pegiat lingkungan menyadari fenomena ini sebagai kesempatan besar untuk menciptakan gerakan Plogging atau aktivitas berlari sambil mengumpulkan sampah. Tindakan ini dapat memperbesar tantangan dan kesadaran masyarakat terhadap lingkungan di sekitarnya. Harapannya, masyarakat dapat menjadikan kebiasaan ini tidak hanya untuk keperluan konten semata.

Kebutuhan akan sarana lari mendorong pemerintah agar terus memperbaiki infrastruktur demi kelancaran aktivitas masyarakat. Sama seperti itu, pembangunan jogging track di Kota Kebumen yang telah selesai pada September 2024. Dampak yang berkelanjutan terlihat ketika masyarakat merasa nyaman dan aman menggunakan fasilitas umum, mendorong pertumbuhan ekonomi pedagang kaki lima di sekitarnya, serta menjadikan tata kota lebih estetis dan fungsional.

Namun, bersamaan dengan itu, budaya berlari kemudian menciptakan lapisan kelas sosial. Masyarakat yang awalnya menganggap lari sebagai olahraga sederhana, dengan adanya Running Culture ini menimbulkan kecemasan jika tak memakai printilan bermerek. Sepatu berharga jutaan, pakaian dengan warna mencolok, jam tangan pintar, serta berbagai aksesoris lainnya merupakan bukti nyata bahwa lari telah menjadi kenaikan pangkat sosial.

Perilaku “konsumerisme” berpacu dengan langkah yang mungkin belum sepenuhnya menyentuh finish. Adapun yang berlari hanya sekadar ingin dijeprt oleh photographer jalanan yang kini marak berjajar di sepanjang jalur lari. Untuk mengambil hak milik fotonya pun perlu merogoh kocek mulai dari 30 ribu rupiah yang kemudian menjadi ajang perlombaan postingan media sosial bersamaan dengan unggahan Strava. Fenomena ini membuktikan bahwa ada kompetisi halus dibalik layar ponsel. Dahulu dengan mudahnya seperti “tinggal berlari saja” sekarang menjadi suatu keharusan untuk setidaknya memakai salah satu aksesoris yang bermerek. Urgensi lari sebagai upaya memperbaiki pola hidup, meningkatkan kesehatan tubuh, dan produktivitas pun mulai sirna.

Budaya lari masa kini cenderung melihat perspektif lari sebagai sarana “si paling kalcer” bukan mengagungkan siapa yang paling bugar. Mereka yang mampu membeli sepatu berharga jutaan serta setelan yang mencolok mampu mendapatkan tempat tersendiri di kalangan komunitas lari. Bahkan, keringat pun memiliki nilai estetis tersendiri.

Sudah saatnya mengembalikan identitas berlari sebagai aktivitas berkeringat sesederhana mungkin. Berupaya yang terbaik untuk gerak tubuh dan bukan lagi untuk menaiki status sosial. Tak dilarang jika ingin tampil modis, asalkan esensi lari seimbang dengan langkah yang diraih. Di zaman konten digital ini, seyogianya masyarakat mengingat kembali bahwa langkah yang penting bukanlah siapa yang tercepat atau termahal, melainkan yang paling konsisten dengan tujuan awal yaitu hidup sehat dan bahagia.

Atiqah Muthia Zulfa, seorang mahasiswa Program Studi Administrasi Publik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro. Berdomisili di Yogyakarta. Mempunyai akun instagram dengan nama atqiamuthia.

Back To Top