Siapapun tak akan menyangka akan datangnya cinta yang mungkin secara tiba-tiba. Cinta adalah fitrah manusia, tetapi bagaimana manusia mengelolanya akan menentukan apakah ia mendatangkan berkah atau justru menjauhkan dari Allah. Di era modern ini, banyak anak muda yang merespons perasaan itu dengan cara yang sering kali kurang tepat. Mereka akan menyikapinya dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang memendam rasa dalam diam, ada yang bungkam karena takut kehilangan, bahkan ada pula yang menghapusnya karena sadar sedikit kemungkinan akan terwujud.
Zaman sekarang banyak dari kalangan anak muda yang berhubungan dekat dengan lawan jenis tetapi mereka kurang memperhatikan batasan. Bahkan mereka akan mengatakan hal semacam itu merupakan kewajaran. Padahal, jika dicermati lebih dalam, hal ini sering kali menggeser tujuan utama hidup seorang muslim, yaitu mencari rida Allah.
Banyak dari teman-teman yang sangat bahagia ketika dekat dengan seseorang, mungkin sebagian dari mereka merasa bahwa semakin dekat dan rajin beribadahnya ketika ada seorang penyemangat dalam hidupnya. Dan penyemangat itu bisa memiliki pengertian yang beda-beda. Akan tetapi, sadarkah kalian bahwa semua ini sebenarnya adalah tipu daya setan; jika penyemangat yang dimaksud berwujud cowok yang dicintai? Jujur saja, saya pribadi juga pernah merasakannya.
Hubungan sering kali bermula dari hal kecil, seperti chatting atau video call yang berulang hingga menumbuhkan rasa nyaman. Namun dari kebiasaan sederhana itu, setan bisa saja menggiring dua hati pada hal yang sia-sia. Karena itu, penting untuk mempertimbangkan; apakah lebih banyak manfaat atau justru mudaratnya? Ingat, masa muda tidak akan terulang, jadi jangan buang dengan sesuatu yang tidak memberi kebaikan, melainkan belajarlah memaknainya dengan kedewasaan.
Berawal dari munculnya ungkapan kiai di pesantren dulu. ‘’Aku tidak rida jika ada santriku yang berpacaran.” Dan berlanjut muncul pikiran lain, “Apakah bisa dibenarkan perbuatanku ini?” Tidak! Kami memang tidak berpacaran. Tetapi apa bedanya sikap kami dengan yang berpacaran. Hubungan tanpa status? Ya, kurang lebih seperti itu. Namun tetap saja ada rasa suka yang disadari keduanya. Hal ini tidak bisa dibenarkan karena mungkin bahkan jelas akan mengurangi waktu belajar, waktu kumpul dengan keluarga, dan waktu untuk hal-hal lain yang lebih bermanfaat.
Terlintas pula dalam benak “takdir Tuhan tidak ada yang tahu”. Bagaimana jika setelah bertahun-tahun menjalani hubungan, ternyata ia bukan jodoh kita? Bukankah sakitnya berlipat? Akhirnya aku mulai meninggalkan hal-hal yang sangat tidak berarti dan mulai fokus akan apa yang harusnya dijalani.
Dunia bukan hanya soal percintaan, dunia ingin tahu seberapa besar kalian korbankan soal percintaan untuk fokus masa depan. Pacaran Islami? Tidak ada ya! Walaupun kalian akan berpikir ‘‘tapi anak itu semakin tertutup pakaiannya setelah pacaran dengan cowok itu. Mungkin cowoknya selalu mengingatkan.’’ Pandangan itu keliru dan sempit. Semua itu hanyalah ilusi kebahagiaan yang menjauhkan kita dari hakikat tujuan hidup.
Pada akhirnya, setelah banyak perdebatan di pikiran sendiri, aku meyakinkan diri untuk mengirim pesan singkat kepadanya. Marah? Tentu ia marah. Cowok mana yang tidak marah jika hubungannya diberhentikan begitu saja, apalagi sepihak. Aku pun sebenarnya gelisah mengatakan hal itu, namun sekali lagi, ini demi kebaikan masing-masing. Prinsipku adalah memilih antara hidup mendapatkan rida-Nya tetapi meninggalkan yang kita sukai, atau melanjutkan hidup dengan yang kita sukai tanpa mendapat rida-Nya? Sungguh jelas jika pilihan pertama adalah jalan terbaik.
Malam-malam terasa panjang, doa menjadi satu-satunya tempat bersandar, sementara hati masih berperang dengan rasa rindu. Namun setelah beberapa minggu akhirnya ia bisa memahami dan kami memutus komunikasi. Ia berontak, tapi aku berusaha menjelaskan keputusanku. Berulang kali aku memikirkan apakah yang kulakukan itu benar? Dan ya, aku yakin itu benar. Aku kembali teringat lagi dawuh guruku di pesantren yang membuatku semakin yakin. Tidak ada yang salah dari keputusanku. Aku semakin yakin dengan pilihanku.
Setelah beberapa bulan aku melewati hari tanpanya, aku merasa ada yang kurang, akan tetapi aku harus berani bertanggung jawab atas keputusanku. Dan setelahnya, kami sama sekali tidak berkabar setelah menjalani ‘hubungan tanpa status’ itu selama 4 tahun.
Dua tahun kemudian, aku menjadi pribadi yang lebih mandiri dan kuat. Rasa yang ditiadakan itu benar-benar sudah tiada, seakan mati rasa. Namun sekali lagi, ini bukan akhir. Ini awal menuju masa depan cerah, mengembangkan potensi masing-masing dan menjadi lebih bermanfaat bagi orang lain. Siapapun tak akan tahu jodoh, kematian, dan takdir yang akan kita jalani.
Maka dari itu فاشتغال بإصلاح نفسه أولى “Lebih baik sibuk untuk memperbaiki diri sendiri”. Semoga kita semua diberi kekuatan untuk menjaga hati, memperbaiki diri, dan menunggu jodoh dengan cara yang Allah diridai.

Shilfina Hidayah, Mahasiswa Bahasa dan Sastra Arab 2023 Universitas Islam Maulana Malik Ibrahim Malang”, Asal Kabupaten Bojonegoro. Email: shilfinahidayah@gmail.com. IG: @inishilfinaaa_

