TRENGGALEK – Di tengah maraknya jajanan modern yang serba instan, seorang wanita bernama Rohmi dari Desa Gador, Kecamatan Durenan, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, justru dengan tekun menekuni usaha jajanan tradisional tape singkong.
Perlu diketahui bahwa tape singkong merupakan salah satu kuliner khas dari Desa Gador. Hal ini karena banyak warga desa yang berprofesi sebagai petani singkong. Banyaknya petani singkong membuat pasokan melimpah, yang kemudian berdampak pada harga yang tidak stabil. Kondisi inilah yang mendorong para petani, termasuk Ibu Rohmi, untuk mencari solusi kreatif.
Ibu Rohmi pun berinisiatif mengolah singkong menjadi tape, jajanan tradisional yang sudah cukup dikenal masyarakat. Tak disangka, usaha ini membuahkan hasil. Tape singkong buatannya laku keras di pasaran. Harganya pun cukup terjangkau bagi berbagai kalangan.
“Untuk harga tape singkong saya bervariasi. Yang kiloan seharga Rp9.000 per kilogram, sedangkan setengah kilogram Rp4.500. Untuk kemasan kecil dari plastik atau daun jati, harganya seribuan,” ujar Ibu Rohmi, Sabtu (19/4/2025).
Usaha tape singkong ini telah berjalan selama lima tahun. Proses pembuatannya masih dilakukan secara tradisional dengan menggunakan tungku berbahan bakar kayu. Cara pengolahan seperti ini memberikan rasa yang khas—manis, legit, dan lembut. Tape buatan Ibu Rohmi dikemas sederhana menggunakan daun jati dan plastik.
“Usaha saya sudah berjalan sekitar lima tahun. Pengolahannya masih saya lakukan dengan tungku kayu. Untuk kemasan, saya masih memakai plastik dan daun jati. Banyak yang lebih suka tape dibungkus daun jati karena aromanya khas,” tuturnya.
Untuk menjaga kualitas, Ibu Rohmi sangat teliti dalam proses pembersihan singkong. Setelah dikupas, singkong disisir untuk menghilangkan kulit yang tersisa. Kemudian dilakukan pemotongan dan pencucian secara cermat untuk menghilangkan getahnya.
Setelah bersih, singkong melalui proses perebusan yang memakan waktu dua hari. Pada hari pertama, singkong direbus setengah matang. Kemudian, pada hari kedua, singkong direbus kembali hingga muncul bintik-bintik sebagai tanda kematangan. Setelah itu, singkong ditiriskan dan didinginkan sebelum diberi ragi. Proses fermentasi dilakukan dengan membungkus singkong menggunakan daun pisang atau daun waru di dalam keranjang.
Tape singkong yang sudah jadi kemudian dijual di pasar dan warung. Selain dikonsumsi langsung, tape ini juga diolah kembali menjadi berbagai jenis jajanan.
“Tape singkong saya biasa dijual di Pasar Ngranti, Tulungagung, dan juga warung-warung. Biasanya, tape ini akan diolah lagi menjadi berbagai macam jajanan seperti roti tape, onde-onde tape, tape pecel, dan masih banyak lagi,” jelasnya.
Meski hampir semua jenis singkong bisa diolah menjadi tape, Rohmi menegaskan bahwa tidak semua layak digunakan. Singkong yang rusak atau terik tidak bisa diolah karena dapat membuat tape menjadi asam.
“Kalau singkong terik atau rusak biasanya saya jadikan pakan ternak, seperti pakan sapi. Kalau tetap dipakai, rasanya akan jadi asam. Jadi, saya harus benar-benar teliti dalam memilih singkong agar kualitas tape tetap terjaga,” tutupnya. (Self/06)
Penulis : Selfia Nela Natasya, lahir di Trenggalek, 06 Januari 2006. Dengan hobi di bidang editing video, desaign, dan VO yang memutuskan melanjutkan ke jenjang perkuliahan di Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, dengan Prodi Komunikasi Penyiaran Islam. Ig: @fiaaafiiiii tiktok: Selfia✨

