Tiga Sunnah Ringan Nabi Muhammad SAW Yang Mulai Terlupakan

Spread the love

Dinamika kehidupan yang terjadi saat ini, semangat spiritual dalam menjalankan ibadah masih menyala. Kampanye salat lima waktu terus disebar, puasa Ramadhan juga dilaksanakan, serta kajian Islam terus berkembang di berbagai tempat. Akan tetapi dibalik itu, terdapat beberapa sunah Nabi SAW yang lambat laun terlupakan.

Hal ini bukan karena dianggap salah, melainkan ada alasan lain yakni dianggap remeh (tak wajib) bagi kebanyakan orang. Padahal sunah bukan sekedar pelengkap ibadah dalam ibadah, melainkan juga sebagai warisan hidup Nabi SAW.

Tulisan ini ingin menyorot tiga sunah yang kini hampir tidak dilakukan, atau bahkan tidak diketahui oleh beberapa orang, berikut tiga sunah tersebut:

Jalsah Istirahah
Duduk sejenak yang dilakukan setelah sujud kedua, sebelum berdiri untuk melanjutkan ke rakaat selanjutnya, itulah jalsah istirahah. Duduk ini dilakukan tanpa membaca apa pun, hanya berhenti sejenak dalam posisi sama seperti duduk di antara dua sujud, kemudian berdiri. Rasulullah SAW sering melakukan ini, sebagaimana yang dikisahkan oleh sahabat Malik bin al-Huwarits,
…أَخْبَرَنَا مَالِكُ بْنُ الْحُوَيْرِثِ اللَّيْثِيُّ: «أَنَّهُ رَأَى النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّي، فَإِذَا كَانَ فِي وِتْرٍ مِنْ صَلَاتِهِ لَمْ يَنْهَضْ ‌حَتَّى ‌يَسْتَوِيَ ‌قَاعِدًا.
Artinya: “…mengabarkan kepada kami Malik bin al-Huwairits al-Laitsi, bahwa ia melihat Nabi SAW melaksanakan salat, ketika sampai pada rakaat yang ganjil, maka beliau tidak bangkit berdiri hingga duduk sejenak.” (HR. Imam al-Bukhari No. 823)

Dalam kitab Fathu al-Bari karya Ibnu Hajar al-Asqalani dijelaskan bahwa Imam al-Syafi’i dan sekelompok ahli hadis menganjurkan untuk melakukan hal tersebut, berikut redaksinya:
…وَفِيهِ مَشْرُوعِيَّةُ جِلْسَةِ الِاسْتِرَاحَةِ، وَأَخَذَ بِهَا الشَّافِعِيُّ وَطَائِفَةٌ مِنْ أَهْلِ الْحَدِيثِ…

Namun sayangnya, jalsah istirahah ini tidak terlalu sering dilakukan dalam salat berjamaah zaman sekarang. Padahal, dengan melakukannya dapat mengatur tempo salat agar tidak tergesa-gesa, serta dapat membuat seseorang khusuk dalam melaksanakan salat.

Menggunakan Sutrah Saat Salat
Sutrah merupakan pembatas yang diletakkan di depan orang yang salat, bisa berupa dinding, tas, tongkat, atau benda-benda yang lain. Nabi SAW memerintahkan menggunakan sutrah sebagaiman yang diriwayatkan oleh sahabat Abi Said al-Khudri, berikut redaksinya:
…قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: “‌إِذَا ‌صَلَّى ‌أَحَدُكُمْ ‌فَلْيُصَلِّ ‌إِلَى ‌سُتْرَةٍ، وَلْيَدْنُ مِنْهَا…
Artinya: “…dari Abdurrahman bin Abu Said dari Bapaknya ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: Jika salah seorang dari kalian salat, hendaklah menghadap ke sutrah dan mendekatinya….” (HR. Imam Ibnu Majah No. 954)

Hadis ini menunjukkan bahwa penggunaan sutrah ketika salat berfungsi untuk mencegah gangguan dari orang yang melangkah melewati area sujud seseorang. Rasulullah SAW bersabda dalam riwayat sahabat Abu Juhaim, beliau berkata
…قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: ‌لَوْ ‌يَعْلَمُ ‌الْمَارُّ ‌بَيْنَ ‌يَدَيِ ‌الْمُصَلِّي مَاذَا عَلَيْهِ، لَكَانَ أَنْ يَقِفَ أَرْبَعِينَ خَيْرًا لَهُ مِنْ أَنْ يَمُرَّ بَيْنَ يَدَيْهِ. قَالَ أَبُو النَّضْرِ: لَا أَدْرِي، أَقَالَ أَرْبَعِينَ يَوْمًا، أَوْ شَهْرًا، أَوْ سَنَةً.
Artinya: “…Rasulullah SAW bersabda: ‘Seandainya orang yang lewat di depan orang yang mengerjakan salat mengetahui apa akibat yang akan ia tanggung, niscaya berdiri selama empat puluh lebih baik baginya dari pada dia lewat di depan orang yang sedang salat.’

Abu An Nadlr berkata: ‘Aku tidak tahu yang dimaksud dengan jumlah ‘empat puluh itu’, apakah empat puluh hari, atau bulan, atau tahun.’” (HR. Imam al-Bukhari No. 510)

Pemaparan dua hadis di atas menunjukkan bahwa sutrah (pembatas) salat dianjurkan oleh Nabi SAW untuk mencegah gangguan orang-orang yang lewat di depan kita. Di sisi yang lain Nabi juga melarang seseorang melangkahi atau melewati sutrah disebabkan ada akibatnya jika melakukannya.

Membaca dan Berdoa Setelah Wudhu
Berdoa setelah wudhu merupakan perkara sunah yang sangat dianjurkan oleh nabi Muhammad SAW seperti yang disabdakan oleh beliau dalam kitab hadis Sunan Tirmidzi :
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ قَالَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنْ التَّوَّابِينَ وَاجْعَلْنِي مِنْ الْمُتَطَهِّرِينَ فُتِحَتْ لَهُ ثَمَانِيَةُ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ يَدْخُلُ مِنْ أَيِّهَا شَاءَ.
Artinya: “Barang siapa berwudhu dan menyempurnakan wudhunya kemudian membaca: “aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah Yang Maha Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.

Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bertobat dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mensucikan diri). Niscaya akan dibukakan baginya delapan pintu surga, ia dipersilahkan masuk dari pintu mana saja yang ia kehendaki.” (HR. Sunan Tirmidzi No. 55)

Keutamaan bagi orang yang melaksanakan sunah berdoa setelah wudhu yakni akan dibukakan delapan pintu surga, bukan berarti orang yang tidak membaca doa tersebut tidak mendapatkan limpahan pahala, melainkan ini adalah sebuah anjuran sunah yang nabi pernah lakukan di masa hidupnya, maka apa pun sunah tersebut adalah sesuatu kebajikan yang patut dia lakukan sebagai seorang muslim.

Sunah-sunah Nabi SAW di atas mungkin terlihat ringan dan sepele, tidak berimplikasi pada sahnya ibadah, namun itulah yang menjadi bukti seberapa peduli kita terhadap ajaran Rasulullah SAW hingga perkara-perkara yang kecil. Tiga sunah ini sebagai awal yang sangat mudah untuk kita amalkan dan biasakan, sebab itu sebagai satu langkah nyata dalam melestarikan kembali sunah Nabi SAW dalam kehidupan sehari-hari.

Penulis adalah Abdika Achmad Firmansyah, Lahir di Bojonegoro 28 September 2005. Mahasiswa yang sedang menempuh studi Ilmu Hadis di Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung. Pernah menempuh studi di MAN 3 Jombang bersamaan dengan itu juga di Pondok Pesantren An-Najiyah 2 Bahrul Ulum Tambakberas Jombang. Saat ini, penulis aktif pada berbagai organisasi kemahasiswaan baik internal maupun eksternal kampus, salah satunya menjabat sebagai Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Tulungagung Alumni Bahrul Ulum Periode 2025/2026. instagram @abdika.achmad

Back To Top