Kalimat “Ndak Ilok!” dalam Bayang-Bayang Mitos dan Otoritas Moral

Spread the love

Apakah kalian merasa pemerintah sampai hari ini anti-kritik? Sebagai mahasiswa tentu saja kita berhak bersuara dan mengemukakan aspirasi kita, bukan?

Mempertanyakan segala kebijakan agar kita tidak terperangkap dalam lingkungan yang terdoktrin. Nyatannya, aspirasi-aspirasi yang disampaikan tak juga tersampaikan, hanya berujung bacotan tanpa tuaian.

Namun, sebelum terlalu jauh menunjuk ke luar, pernahkah kita bertanya pada diri sendiri: Apakah sikap anti-kritik hanya terdapat dalam ruang-ruang kekuasaan yang besar, atau justru tumbuh dari ruang yang paling dekat dengan kita?

Melihat sikap anti-kritik tersebut, mengingatkan pada setiap jengkal memori masa kecilku. Sadar atau tidak, budaya anti-kritik ternyata bisa tumbuh dari ruang domestik yang paling sederhana, keluarga.

Tidak semua aturan datang dengan penjelasan yang panjang. Banyak di antaranya datang dalam bentuk pernyataan tegas yang tidak membuka ruang tawar. Sebagai anak, kita diajarkan untuk mengikuti lebih dulu sebelum mengerti sepenuhnya. Kepatuhan sering dianggap sebagai bentuk kebaikan, sementara pertanyaan yang terlalu banyak kadang dipahami sebagai pembangkangan. Alhasil, kita tumbuh dalam suasana yang menempatkan otoritas sebagai sumber kebenaran yang tidak perlu diuji.

Jika sejak kecil kita lebih sering diajarkan untuk tunduk daripada berdialog, maka tidak heran bila perbedaan pendapat terasa mengganggu, bahkan mengancam. Barangkali sebelum menuntut keterbukaan di tingkat negara, kita perlu melihat kembali bagaimana keterbukaan itu dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Dulu waktu kecil, aku kerap mendapatkan banyak larangan dari orang-orang dewasa di sekitarku, dengan berbagai dalih yang terkadang tidak masuk akal menurutku. Seperti pada suatu ketika aku duduk di tengah pintu, kemudian tertangkap basah oleh ibuku, sontak ibu meneriakiku “Ojo lungguh ndek tengah lawang, ndak ilok!” (Jangan duduk di tengah pintu, ndak ilok!) Kalimat itu cukup membuatku patuh, sehingga di lain waktu aku tidak mengulangi hal yang sama.

Dengan pikiran yang cukup polos selayaknya anak kecil, aku hanya penasaran, mengapa ibu melarang hal tersebut? Ibuku hanya menjawab “Lak diwarah ndal ilok, yo ndak ilok.” (Kalau dibilangi ndak ilok, yo ndak ilok) Meski ibu berkata dengan nada tegas, bahkan sampai melotot untuk menegaskan larangannya, aku tetap tidak benar-benar memahami alasan di baliknya. Hingga akhirnya muncul penjelasan lain yang terasa lebih menggetarkan bagi anak kecil sepertiku: “lak lungguh tengah lawang, ngko ndak oleh jodo” (kalau duduk di tengah pintu nanti tidak dapat jodoh). Kalimat itu sederhana, tetapi cukup untuk menanamkan rasa takut dan membuatku patuh tanpa banyak bertanya lagi.

Larangan-larangan yang aku dapatkan dari orang tuaku selalu diakhiri dengan kalimat “ndak ilok” sebuah kalimat final yang berhasil membungkam segala kecamuk rasa penasaran. Karena dengan banyak dalih yang kuterima di balik larangan itu, yang kupahami di balik kalimat “ndak ilok” adalah sebuah pamungkas yang menyimpan jawaban cukup menyeramkan.

Polanya sama, setelah dilarang, aku akan selalu mendapatkan dalih larangan tersebut dari teman-teman, tetangga, atau bahkan dari orang yang tidak kukenal. Lagi dan lagi dalihnya tidak masuk akal.Dulu aku tidak tahu istilahnya, dan sekarang aku paham kalau itu hanyalah sebuah “mitos”.

Mungkin kalian yang berdomisili di pulau Jawa akan sedikit familiar dengan mitos-mitos ini: “kalau nyapunya ngga bersih, nanti dapat jodoh yang jelek” atau “kalau nasinya ngga habis, nanti ayamnya mati”. Dengan mitos-mitos itulah anak-anak di desaku tumbuh. Atau apa pun kesalahan yang terjadi baik melalui lisan atau tindakan, cukup dengan teguran “ndak ilok”, maka kami akan patuh. Duduk di tengah pintu? Ndak ilok. Bersiul di malam hari? Ndak ilok. Nyapu malam hari? Ndak ilok. Memotong kuku malam hari? Ndak ilok. Apa pun kesalahan yang dilakukan, pasti tegurannya “ndak ilok!”Seiring beranjak remaja, aku semakin mempertanyakan adanya mitos-mitos itu.

Sampai mendapatkan pengertian dari kalimat “ndak ilok!” sendiri itu ternyata sangat simple. Berasal dari pelesetan “ndak elok” yang artinya “tidak bagus”. Kalimat yang kupikir absolut, ternyata cukup sederhana. Lantas, mengapa orang-orang menambahi dalih-dalih berupa mitos yang semakin tidak kumengerti?

Pertanyaan ini pernah kutanyakan kepada bapakku. Lagi-lagi jawabannya simple: para orang tua malas mencari alasan yang rasional. Menurut mereka, anak-anak kecil itu susah dibilangi, yah solusinya adalah dengan menakuti mereka.

Metode seperti itu memang efektif untuk mendidik mereka menjadi anak yang patuh dan penurut, tetapi bagiku itu akan menutup nalar kritis mereka. Larangan-larangan yang selalu dihantam dengan kalimat “ndak ilok” dengan dalih-dalih mitos itu membuat pikiran mereka semakin tertutup oleh hal-hal mistis, yang kemudian menjadikan pikiran semakin tidak logis.

Dari situ, aku berpikir bahwa sebenarnya tidak ada larangan yang jelek. Ajaran-ajaran yang diajarkan para orang tua di sekitarku memang membuahkan moral yang cukup baik. Namun, karena penyampaiannya kurang logis, membuat sebagian anak-anak malas untuk bertanya dan berpikir sebatas: itu adalah sebuah keharusan. Padahal, anak-anak hanya butuh ruang untuk mengerti dan dimengerti, mereka punya hak untuk tahu.

Sama halnya seperti rakyat yang butuh kejelasan dari setiap kebijakan pemerintah, anak-anak pun berhak mendapatkan penjelasan yang masuk akal agar mereka belajar memahami, bukan sekadar mematuhi. Kepatuhan yang lahir dari pemahaman akan tumbuh menjadi kesadaran, bukan ketakutan. Semoga kedepannya, para orang tua bisa sabar dan terbuka kepada anak mereka sendiri.

Barangkali perubahan memang tidak selalu dimulai dari panggung politik yang besar. Ia bisa dimulai dari ruang keluarga, dari cara kita menjelaskan satu larangan yang cukup sederhana. Dengan begitu, anak-anak tidak mudah terprovokasi dan mampu mengembangkan cara berpikir yang lebih reflektif serta matang dalam menyikapi berbagai persoalan.

Miftachul Jannah, kelahiran abad 21 di tanah Semeru. Saat ini sedang menempuh studi di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang dengan prodi Bahasa dan Sastra Arab. Beberapa karyanya berhasil dimuat di beberapa antologi CERPEN di penerbit indie. Penulis tidak menerima singgah lantas pergi begitu saja, tetapi untuk kritik dan saran bisa hubungi lewat Email: miftachh05@gmail.com; dan Instagram: @miftahgemi.

Back To Top