Sore itu jalan menuju dusun terlihat begitu sunyi. Tidak terlihat aktivitas manusia di setiap teras rumah. Suasana semakin terasa syahdu karena sehabis hujan dan waktu sandyakala. Tidak seperti hari-hari biasanya, perjalanan ini menjadi semakin “khas” ketika aroma “dupa ratus” menemani setiap langkah.
Aroma dupa ini sekaligus memberikan kabar jika sore itu adalah hari yang disakralkan sebagian besar warga di dusun ini. Ya… sore itu adalah hari Kamis Kliwon menjelang malam Jumat Legi. Sebuah momen yang dipercaya warga dusun jika para leluhurnya akan pulang ke rumah.
Aroma dupa itu juga sudah tercium kuat ketika aku menginjakkan kaki di teras rumah. Terlihat dari jendela rumah, tiga batang dupa yang sudah dibakar tertancap kokoh di gelas yang berisi beras. Di sekitar dupa itu juga sudah tersaji secangkir kopi, segelas air putih, segelas bunga, sebatang rokok, satu buah pisang, dan sepiring ketan bubuk. Semua tertata rapi di tempat yang sudah pasti. Orang-orang menyebut sajian khusus itu dengan istilah “among-among”. Terlihat juga bapak yang sudah memakai “kopiah” hitam sembari mengangkat kedua tangan menandakan sedang khusuk berdoa.
Selesai memanjatkan doa, bapak lantas pergi menuju kamar. Aku pun melanjutkan langkahku untuk masuk kedalam rumah. Tidak seperti hari-hari biasanya yang langsung menuju kamar, kali ini aku memilih untuk duduk santai di ruang tamu sembari mengamati sajian dan menikmati aroma dupa yang sudah aku rasakan sejak terlahir di rumah sederhana ini.
Mataku masih tetap konsisten tertuju pada sajian yang terlihat menyatu dengan asap dupa. Aku hanya melihat dan merenungkan tujuan apa yang hendak dicapai setiap malam Jumat Legi ini. Makanan yang nampak enak dilahap, tapi hanya boleh dipandang. Jangankan memakannya, mencoba mendekat saja pasti masih terngiang nada peringatan dari emak dan bapak.
Aku masih tidak bisa lepas dari pertanyaan yang ada di alam pikiran. Dalam keadaan yang masih sulit untuk mencari makan, mengapa masih ada sela untuk menyiapkan sajian semacam ini?. Sungguh diluar nalar, meskipun ini sebuah kenyataan.
Belum selesai aku mencari jawaban, tiba-tiba adik berjalan pelan di depanku. Dia menoleh kecil ke wajahku sembari memberikan kode jari telunjuk ditempelkan di depan bibir.
Husssttttt…….!!!!!
Aku hanya terdiam dengan kening agak mengkerut. Bingung menerjemahkan apa maksud dari kode adik itu. Aku hanya mengamati langkah demi langkah adik menuju tempat yang aku anggap sakral itu. Saat berada di dekat sajian itu, adik mulai melihat kanan dan kiri. Dikeluarkannya sebuah sedotan plastik dari dalam celana kolornya. Ketika aku mencoba menggerakkan bibir, dia kembali meletakkan jari telunjuknya di bibirnya sembari mengeluarkan suara,
Hustttttt…….!!!
Aku yang terbengong dan penasaran akan tingkah laku adik, akhirnya hanya memilih diam sambil menunggu apa yang akan dia lakukan terhadap aneka sajian itu. Aku hanya berpikir positif, mungkin dia ingin menaruh sedotan sebagai pelengkap di sajian, atau mengusir serangga, atau menata sajian yang agak bergeser.
Pikiran positif itu akhirnya terbantahkan oleh tindakan yang dilakukan oleh adik. Dengan cepat ia menaruh sedotan di cangkir kopi dan secepat mungkin menyedotnya.
Secara spontan, aku langsung memanggil..
Dikkkkk…….!!!
Dengan cepat dia berlari menuju kamarnya.
Bapak yang mendengar teriakanku langsung keluar dan menuju ruang tamu. Belum sempat berbicara, pandangan bapak mengarah pada sajian itu. Dia tersenyum senang, sambil berucap,
“Alhamdulillahhh….. tamunya datang. Rupanya kopinya cocok sehingga tinggal separuh.” ucap bapak dengan wajah yang senang dan sedikit terharu.
Memang karena minumnya memakai sedotan, maka tidak akan terlihat bekas bibir atau tuangan kopi. Sehingga tidak ada sedikitpun kecurigaan dibenaknya.
Karena tidak tega merusak suasana hati bapak, akhirnya rencana mau menyampaikan yang sebenarnya terjadi urung aku lakukan.
Aku hanya mengamati setiap nafas syukur yang dilakukan oleh bapak. Melihat wajahnya, sungguh membuat aku ikut senang. Tapi begitu ingat itu kelakuan siapa, akhirnya aku merasa jengkel dan ingin segera mendatangi adikku.
Sebelum bapak bertanya apa yang sebenarnya terjadi, aku putuskan untuk segera pergi ke kamar adik. Aku temui dan aku ajak bicara. Memang dia masih kecil, tapi ini tidak bisa dibiarkan. Meskipun aku sendiri tidak tahu maksud dan tujuannya apa “among-among” itu apa, setidaknya aku harus bisa memberikan pengertian jika perilakunya tersebut tidak baik.
Selesai menyelesaikan masalah dengan adik, aku segera bergegas menuju kamar. Sembari rebahan di kasur yang sudah mulai usang, kali ini aku tersadar makna dari adanya “among-among” itu. Maknanya sangat dalam. Ya sangat dalam.
Pikiranku masih terngiang wajah bapak ketika mengetahui kopi di cangkir berkurang. Sangat senang dan terharu. Tentu ini ada kata yang tidak bisa dielakkan lagi, yaitu “rindu”. Dimensi yang berbeda, membuat orang berkeinginan membuat ruang untuk saling bertemu dan melepas rindu pada pendahulu atau leluhur.
“Among-among” adalah ruang yang diciptakan untuk melepas rindu melalui untaian doa. Lantas apa maksud dari berbagai sajian itu? Yang jelas itu adalah sebagai penghargaan, penghormatan, dan pengingat pada leluhur. Dengan menyajikan berbagai aneka makanan dan minuman, itu adalah jalan menuju bersatunya untaian doa antar dua dimensi yang berbeda.
Eri Hendro Kusuma
Editor : Deni Iska Dian Nita

