Menjadi Mahasiswa Itu Privilege Sekaligus Tanggung Jawab

Spread the love

“Enak ya jadi kamu bisa ngerasain kuliah, aku pengen kuliah tapi nggak dibolehin sama ibukku”. Kalimat yang keluar dari mulut temanku itu sontak membuatku terdiam. Kuliah memang menjadi impianku, ya hanya sebatas impian, kalaupun tercapai ya udah selesai.

Pernahkah kalian berpikir bahwa kuliah itu merupakan sebuah privilege (keistimewaan) yang tidak dimiliki semua orang? Kalau iya, berarti saat ini kita sedang memikirkan hal yang sama. Sebelum saya berpikir kalau kuliah itu sebuah keistimewaan, selama itu saya merasa kuliah hanya sebagai rutinitas harian untuk menggugurkan kewajiban.

Berangkat pagi, sesampainya di kelas duduk mendengarkan penyampaian materi dari dosen, presentasi, dan diskusi, kemudian pulang ke kost bukannya enjoy malah ngerasa capek kayak ada beban. Dulu saya pikir setiap orang yang sudah menyelesaikan pendidikan dari jenjang SMA/SMK/MA akan melanjutkan ke jenjang lebih tinggi yakni perguruan tinggi namun ternyata tidak.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) hingga Agustus tahun 2023, ada sebanyak 3,5 juta lulusan SMA yang tidak melanjutkan kuliah, tidak bekerja ataupun mendapatkan pelatihan. Fakta tersebut membuat saya semakin sadar bahwa kuliah merupakan sebuah privilege yang menjadi impian jutaan orang diluar sana.

Mereka yang punya cita-cita untuk melanjutkan kuliah justru terkendala dengan terbatasnya biaya, letak geografis, dan juga akses pendidikan yang belum merata. Oleh karena itu, hal ini menjadi alasan kenapa kita harus bersyukur karena bisa kuliah sehingga dapat memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya. Jangan sekali-kali kita melewatkan kesempatan yang ada di depan mata. Kalaupun ada kesempatan yang kedua, percayalah kesempatan itu tidak akan sama persis seperti apa yang sudah kita lewatkan.

Keistimewaan menjadi seorang mahasiswa memiliki perbedaan dengan hal lain. Keistimewaan biasanya cenderung mengarah pada hal-hal yang kita anggap spesial dan berharga. Namun, keistimewaan yang dimaksud bukan hanya semata tentang hal tersebut. Keistimewaan yang digunakan untuk membanggakan diri atau menganggap orang yang tidak berkuliah menjadi lebih rendah. Akan tetapi keistimewaan tersebut datang disertai dengan tanggung jawab untuk menyelesaikan perkuliahan. Sama seperti kutipan yang pernah saya dengar “berani memulai berani untuk mengakhiri”.

Saat menempuh pendidikan di perkuliahan kita memiliki tanggung jawab, baik kepada diri sendiri, keluarga terutama orang tua yang telah membiayai pendidikan kita serta orang-orang terdekat yang selalu mendukung kita. Selain itu kita juga memiliki tanggung jawab besar setelah ditetapkan sebagai sarjana, yang nanti diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata dan terjun langsung kepada masyarakat.

Di semester dua ini saya masih dalam proses pencarian jati diri, siapa diri saya sebenarnya. Sejak saat itu, saya aktif berorganisasi dan mencoba pengalaman-pengalaman baru yang dapat meningkatkan skill yang saya butuhkan.

Lantas apakah percobaan saya selalu berhasil? tentu tidak. Dari sekian banyaknya percobaan baru untuk mencari jati diri justru saya semakin dibuat bingung dan merasa kalau saya tidak punya passion. Saya seringkali menjumpai kegagalan yang membuat saya merasa muak dengan keadaan dan ingin menyerah. Tapi setiap kali perasaan itu muncul, saya mengingat tujuan untuk apa saya memulai semua ini. Karena dengan begitu saya menjadi berubah pikiran. Saya memilih bertahan, terus mencoba, dan tidak menyerah.

Saya menganggap perjuangan dan usaha saya dalam mencoba berbagai pengalaman merupakan bentuk pemanfaatan keistimewaan saya sebagai seorang mahasiswa. Bukanlah kita harus memanfaatkan keistimewaan itu dengan sebaik-baiknya?

Seiring berjalannya waktu, banyak aktivitas yang saya lakukan, saya menjadi sulit untuk mengatur waktu dan jam tidur berantakan. Akan tetapi saya merasa jauh lebih baik dibandingkan hidup monoton sebagai mahasiswa kupu-kupu (yang hanya kuliah kemudian pulang). Semenjak masuk di bangku perkuliahan saya menjadi tahu tentang kehidupan orang dewasa sesungguhnya, belajar untuk membuat keputusan, menyelesaikan masalah, dan juga mengatur waktu sendiri. Semua itu adalah pilihan yang harus kita pilih. Awalnya sulit karena belum terbiasa tapi lama kelamaan saya menjadi lebih mudah untuk menjalaninya

Kalau ngomongin keistimewaan pasti banyak kelebihan yang didapatkan. Apa saja sih kelebihan seorang mahasiswa?
Akses ilmu pengetahuan yang luas, Menjadi wadah untuk berkembang dan mencoba hal baru, Menjalin relasi dan jejaring komunikasi yang luas, Memiliki kebebasan untuk berpikir kritis dan berpendapat.

Kelebihan yang disebutkan diatas adalah beberapa contoh kecil saja. Selain itu masih banyak kelebihan yang bisa kita dapatkan. Dengan menjadi mahasiswa kita bisa mendapatkan apa saja kita inginkan, tergantung apa yang kita pilih dan bidang apa yang ingin kita tekuni. Karena dengan kuliah kita mendapatkan berbagai macam kesempatan, untuk meng-upgrade diri menjadi versi yang lebih baik, dan meningkatkan skill yang kita miliki. Keistimewaan disertai dengan tanggung jawab adalah realita yang harus dijalani seorang mahasiswa. Tanggung jawab tidak terbentuk secara instan akan tetapi dimulai dengan kebiasaan-kebiasaan kecil setiap harinya.

Menjadi mahasiswa adalah sebuah keistimewaan yang tidak dimiliki semua orang. Di balik keistimewaan itu, ada tanggung jawab besar yang harus dijalani. Maka dari itu, sepatutnya kita bersyukur dan bisa memanfaatkan privilege kuliah untuk terus belajar, berkembang, dan menjadi pribadi yang lebih baik.

Penulis adalah Nadia Meilina Putri, mahasiswa program studi Komunikasi dan Penyiaran Islam di Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung.
Akun ig: @nadiameilinaa

Back To Top