Eri Hendro Kusuma Budayawan

Baper (Bukan Penyakit Tapi Sering Menular)

Spread the love

Di sebuah warung kopi pinggir jalan itu tercium aroma “kopi sachet” bercampur gurauan khas tongkrongan. Seperti biasa, pembahasan pun tidak jelas arah dan tujuannya. Obrolan senja itu terasa lebih hidup ketika topik beralih ke seorang teman yang dikenal mudah tersinggung—alias “baperan”. Dalam suasana santai itu, kita menyadari bahwa perasaan yang terlalu sensitif kadang justru jadi penghambat untuk berkembang.

Fenomena baper ini nggak cuma terjadi di lingkaran pertemanan, tapi juga di ranah yang lebih serius, seperti dunia pejabat publik. Tak sedikit pejabat yang alergi terhadap kritik, walau seharusnya itu menjadi bagian dari tugas mereka dalam demokrasi.

Ketika ada warga atau aktivis menyuarakan ketidakpuasan atas kinerja atau kebijakan, alih-alih mendengarkan, beberapa pejabat justru tersinggung. Ada yang melaporkan balik pengkritiknya dengan dalih pencemaran nama baik, ada pula yang membuat klarifikasi berbelit hanya untuk menutupi kekurangan.

Sikap baper seperti ini menjadi tanda bahwa jabatan belum tentu seiring dengan kematangan emosi. Padahal, kritik adalah bahan bakar bagi perubahan dan kemajuan. Sayangnya, selama yang duduk di kursi kekuasaan masih menganggap kritik sebagai serangan pribadi, maka baper akan terus jadi tembok penghalang antara rakyat dan pemimpinnya.

Sekali lagi, baper bukan soal lemah atau kuat. Ini soal seberapa mampu kita memisahkan antara kritik dan kebencian, antara perhatian dan penghakiman. Kalau tiap kalimat dianggap serangan, bisa-bisa kita hidup dalam benteng kaca — indah dari luar, tapi rapuh di dalam. Wahai engkau yang sukanya baper marilah kita belajar sedikit cuek, karena hidup tak perlu selalu dibawa perasaan, kadang cukup dibawa tertawa.

Eri Hendro Kusuma
Penulis dan Pegiat Literasi

Back To Top