Pukul dua siang, Atin sudah berdiri di trotoar jalan besar ibu kota. Ia menjajakan dagangannya seperti biasa. Di tengah panas dan debu jalanan, sosok Pak Sunyoto—penjual mainan tradisional anak-anak yang setiap hari melintasi rute itu—sering menyapa dan memberi semangat. Meski ia tahu, Atin sebenarnya tidak membutuhkannya. Pak Sunyoto melewati jalan itu setiap pagi; itu memang jalur rutinnya. Ia sering melihat dagangan Atin laku satu-dua di pagi hari, lalu naik menjadi lima saat siang menjelang. Namun, ketika malam tiba, Atin kerap kewalahan. Malam memang puncak dari penjualannya.
“Nak, lancar sekali rejekimu. Padahal dagangan kita hampir sama. Aku saja harus keliling untuk menjajakannya,” ucap Pak Sunyoto, kagum.
“Hampir sama? Saya kira jauh berbeda, Pak. Tapi memang, saya juga heran kenapa orang-orang suka sekali dengan dagangan saya,” jawab Atin sambil tersenyum.
“Apa karena harganya miring? Sampai-sampai mereka rela jauh-jauh datang hanya untuk membeli darimu?”
“Ah, sebenarnya tidak juga, Pak. Saya jual seharga dua ribu. Kadang-kadang saya beri cuma-cuma.”
“Kau bercanda!”
“Tidak, Pak. Saya tidak mempermasalahkan itu,” sahut Atin sambil tertawa renyah.
“Kau ini memang aneh. Jangan lupa beli makanan bergizi, pekerjaanmu itu pasti menguras tenaga.”
Tak bisa memungkiri, di tengah keadaan yang kian muram, banyak orang mencari hal-hal yang bisa mengungkapkan perasaan yang selama ini tertahan. Tak jarang, anak-anak muda dengan sukarela berdiri dalam antrean panjang hanya demi mendapatkan sepotong dagangan Atin. Ia pun kewalahan melayani mereka.
Hari ini datang lagi sebuah kabar buruk—bukan hal yang mengejutkan, karena terlalu sering terjadi. Seseorang dengan jabatan tinggi kedapatan memakan uang rakyat. Jumlahnya tentu tak sedikit. Namanya kini membusuk, bersanding dengan para koruptor lain yang lebih dulu mencuri kepercayaan publik. Masyarakat sebenarnya ingin marah, namun bingung harus mulai dari mana. Ketidakjelasan hukum membuat rakyat enggan ikut berbenah, meskipun jelas mereka bukan pelaku kerusakan.
Tak lama berselang, berita tentang pelanggaran HAM kembali mengemuka. Perlakuan semena-mena, penindasan yang terang-terangan—semuanya menggaung di penjuru negeri. Ini bukan pertama kalinya. Jauh sebelum istilah “hak asasi manusia” dikenal, kabar semacam itu sudah sering muncul. Seakan amarah adalah warisan yang terus dihidupkan dari generasi ke generasi.
Sundoro, pria yang selalu tersenyum ramah saat lewat kedai Atin, akhirnya mampir juga. Biasanya ia enggan menghampiri, merasa tak butuh. Tapi hari ini berbeda. Ia, seperti banyak orang lain, geram oleh kabar yang terus berulang.
“Tin, rasanya aku ingin membalikkan bumi. Pasal-pasal hukum kini hanya menguntungkan yang di atas. Lalu, di mana posisi kita? Apakah kita hanya pion yang harus tunduk pada para pemainnya? Polanya selalu sama!” keluh Sundoro, alisnya mengerut, nadanya penuh emosi.
“Aku tahu maksudmu, Sundoro. Aku senang akhirnya kamu datang kemari, apalagi di saat seperti ini. Dulu kamu sering ke kedai Pak Sunyoto. Tapi hari ini, aku melihat ada yang berbeda darimu,” balas Atin lembut.
“Kau benar, Tin. Hidupku akhir-akhir ini penuh tantangan. Ditambah lagi keadaan negeri ini yang terus memantik emosi… aku termasuk yang terpancing.”
Atin mempersilakannya duduk. Ia tahu, amarah kerap lahir dari kesedihan yang tak tertahankan. Sundoro tak butuh waktu lama untuk memilih. Ia tahu betul, hari ini adalah waktu yang tepat untuk datang ke kedai Atin—tempat orang bisa membeli sepotong perasaan yang sulit mereka pahami sendiri.
Di seberang jalan, Atin melihat seseorang menunduk. Ia tahu, orang itu pasti membutuhkannya. Tak jauh dari sana, seorang bapak tua duduk dalam camper van VW warna abu-abu biru. Ia telah ditinggalkan anaknya untuk menjalani hidup sendiri. Dua ratus meter dari situ, seorang anak remaja menangis diam-diam; ia baru saja kehilangan ibunya. Di dekat lampu merah, seorang pemuda duduk lesu. Harapannya untuk sebuah pekerjaan yang telah lama diusahakan, sirna. Seorang perempuan menggenggam garam di tangannya, berharap bisa menemukan bumbu lain agar bisa memasak siang ini. Di persimpangan itu pula, Oma Yun yang tua renta, seperti tiga tahun terakhir, kembali menempel pamflet anak hilang yang ia perbarui setiap tanggal 1 Juni—mungkin hari ulang tahun anak itu. Atin tahu, mereka semua sedang mencicipi dagangannya.
Tak hanya ketika amarah meluap, kedai Atin juga selalu ramai saat malam datang. Orang-orang berdatangan, mencari obat atas beban yang tak mereka temukan jawabnya di tempat lain. Saat larut, Atin bahkan tak sempat beristirahat. Ia sibuk meladeni mereka satu per satu.
Sudah lama Atin berjualan, dan ia menyadari satu hal: saat hari besar dan akhir pekan—yang seharusnya menjadi waktu bahagia bagi banyak orang—justru menjadi momen paling ramai di kedainya. Orang-orang tak sibuk bertamasya, melainkan mencari tempat menumpahkan kesedihan. Tak banyak orang tua datang ke kedainya. Atin tahu, orang tua lebih pandai mengalihkan pandangan. Hidup mereka sederhana—tak banyak pernak-pernik yang tak perlu, tak seperti generasi sekarang. Tapi Atin juga mengerti, anak-anak muda kini berdesakan mengejar dagangannya karena mereka hidup di tengah pameran kemewahan dari segala arah. Dunia yang mudah dilihat, tapi sulit diikuti. Ia mengasihani mereka. Dalam dunia yang serba cepat ini, bukankah seharusnya hidup jadi lebih mudah dan membahagiakan?
“Ayo dibeli, dibeli! Kesedihan satu ikat dua ribu! Kalau kamu sangat membutuhkannya, akan kuberi cuma-cuma! Jangan takut kehabisan stok, jika habis akan kubuat lagi dengan mudah!” seru Atin lantang kepada siapa pun yang lewat.
“Aku mau beli sepotong kemurungan, dengan sedikit kebisingan di sampingnya. Jangan terlalu gelap ya, aku ingin cepat kembali bahagia,” jawab seorang dari ujung persimpangan.
“Tenang, jika sedihmu sudah hilang, akan kuhantarkan ke Pak Nyoto. Tapi kalau kau masih ingin menikmatinya, datanglah lagi besok. Akan kusambut dengan mendung yang mendukung murungmu.”
Di dunia yang semakin penuh hiruk-pikuk dan kebisingan yang tak bisa dihindari, Atin tahu: kesedihan akan selalu ada, mengiringi setiap jiwa di seluruh penjuru negeri. Ia pandai melihat peluang, menjual kesedihan yang tak pernah habis stoknya. Ia yakin, selalu ada orang yang iba terhadap kesedihan yang ia jajakan. Dan ia tahu, sering kali, manusia lebih mudah dikalahkan oleh rasa iba—daripada logika.
Penulis : Tariesya Angkasa Puteri mahasiswi Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung.
Editor : Deni Iska Dian Nita

