Di era digital seperti sekarang, kita tak bisa lepas dari ketergantungan terhadap teknologi. Perkembangannya yang pesat telah menciptakan berbagai kemudahan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Salah satu wujud nyata dari teknologi tersebut adalah smartphone, yang menjadi gerbang utama untuk mengakses informasi dan internet tanpa batas.
Kini, berbagai media sosial hadir memanjakan keinginan dan kebutuhan penggunanya. Aplikasi-aplikasi tersebut tidak hanya berfungsi sebagai sarana pertemanan, tetapi juga sebagai penyedia konten dalam jumlah besar dan beragam. Algoritma yang digunakan media sosial menyajikan konten sesuai minat dan kebiasaan pengguna, membuat kita terus-menerus tertarik untuk membuka aplikasi tanpa henti. Lebih lagi, akses terhadap media sosial bisa dilakukan secara gratis, tanpa mengeluarkan uang sepeser pun.
Namun, di balik segala kemudahannya, media sosial menyimpan sisi negatif yang tak bisa diabaikan. Fitur-fitur yang seharusnya mendukung interaksi sosial, justru sering dijadikan pelarian dari rasa bosan dan lelah. Media sosial juga menciptakan berbagai tren yang membuat penggunanya betah berlama-lama menatap layar. Tak jarang, banyak orang menggunakan media sosial karena takut ketinggalan informasi atau FOMO (fear of missing out).
Menurut laporan “Digital 2024 Indonesia” yang dirilis oleh We Are Social, masyarakat Indonesia menghabiskan waktu rata-rata 7 jam 38 menit per hari untuk berselancar di internet. Dari waktu tersebut, sekitar 3 jam 18 menit dihabiskan hanya untuk mengakses media sosial.
Sayangnya, penggunaan media sosial tidak terbatas pada waktu senggang. Banyak orang yang tetap bermain ponsel saat bekerja, beristirahat, bahkan ketika berkumpul dengan teman atau keluarga. Sering kali, seseorang yang berkunjung ke rumah temannya justru sibuk membuka Instagram, atau saat “nobar” sepak bola di kafe, malah asyik scrolling TikTok.
Akibatnya, momen-momen penting terasa hambar karena lebih fokus pada layar ponsel dibandingkan membangun percakapan atau basa basi dengan teman. Kebiasaan ini bisa mengarah pada kecanduan media sosial.
Waktu luang yang seharusnya bisa dimanfaatkan untuk hal-hal positif pun terbuang sia-sia, bahkan menyebabkan kecenderungan untuk menunda pekerjaan atau tugas. Orang yang terlalu larut dalam media sosial juga dapat menurunkan kemampuan berpikir dan bernalar, karena kurangnya stimulasi otak. Dalam jangka panjang, hal ini bisa membuat seseorang menjadi pelupa dan kesulitan berpikir jernih.
Sebagai solusi, mari kita renungkan kembali tujuan kita dalam menggunakan media sosial. Batasi waktu penggunaannya, dan bijaklah dalam memilih serta mengonsumsi konten yang ada di media sosial.
Penulis: Nabil Ahmad Fahrezi
Mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam
Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah

