Batu di Ujung Langkah

Spread the love

Pada suatu hari yang tidak terlalu cerah, saya berjalan gontai di trotoar kampus, ransel berat menggantung di pundak. Pikiran saya penuh sesak oleh tugas-tugas yang terus berdatangan dari para dosen, seperti buku yang tertumpuk-tumpuk lalu membebani isi kepala. Hari-hari yang saya lalui terasa sempit, seolah waktu sengaja dibuat pendek hanya untuk membuat saya tertinggal.

Tanpa sadar, langkah saya terhenti oleh batu kecil yang muncul di tengah jalan. Saya tersandung dan jatuh menelungkup di atas tanah yang dingin. Kesal bukan main, saya ambil batu itu dan membuangnya sejauh mungkin. “Dasar sial!” gumam saya sambil bangkit. Tapi dalam hati, saya tahu bukan batu itu masalahnya, tetapi saya hanya lelah, sangat lelah.

Sesampainya di kelas, saya duduk tanpa semangat. Wajah-wajah di sekeliling tampak biasa saja, tapi saya tahu, mereka semua berjuang sama seperti saya, atau mungkin bisa jadi lebih baik. Hari-hari saya berjalan seperti rel kereta yang lurus dan membosankan. Saya hidup hanya karena hidup, bukan karena ingin.

Orangtua saya selalu menekan agar saya jadi orang yang berhasil, berguna, dan punya arah. Tapi saya merasa seperti layang-layang putus, melayang ke mana angin membawa pergi. Saya hanya ingin bebas, ingin santai, ingin hidup menurut keinginan sendiri. Saya tak mau dipaksa, tak mau dikejar, tak mau diatur, tapi juga sebenarnya saya pun tak tahu harus ke mana.

Di saat saya gagal, saya menyalahkan keadaan. Ketika melihat teman bisa kuliah dengan penghasilan sendiri, bisa beli apa pun yang ia inginkan, punya relasi yang banyak, tapi dengan kesibukannya itu dia juga masih bisa mengerjakan semua tugasnya tepat waktu, sampai dia pun mendapatkan banyak penghargaan, saya hanya bisa iri. Saya bilang pada diri saya, “Dia memang pintar dari dulu,” padahal saya tahu dalam hati, saya tak pernah benar-benar mencoba. Saya sadar saya tak berguna, cuma bisa mengeluh, namun sadar saja tak cukup tanpa usaha.

Hingga suatu hari, saya berjalan melewati jalan yang sama seperti hari itu. Hujan baru saja reda, dan saya pun tersandung lagi di tempat yang sama. Bukan batu yang sama, tentu. Tapi entah kenapa, hati saya tersentak. Saya pun terdiam.

Saya ingat betul bagaimana saya dulu marah dan membuang batu itu. Saya ingat bagaimana saya jatuh bukan hanya secara fisik, tapi secara batin. Saat itu saya memilih marah, bukan belajar. Memilih menyalahkan, bukan bertumbuh. Saya sadar, dari awal, langkah saya salah.

Batu itu seperti ujian kecil yang dikirim hidup, tapi saya tidak menjawabnya dengan bijak. Seharusnya saya bangkit, membersihkan luka, dan menatap ke depan. Tapi saya malah membuang batu itu dan lanjut berjalan tanpa pelajaran. Dan itulah yang saya lakukan selama hidup ini.

Hari itu, saya tidak membuang batu itu. Saya menatapnya, memungutnya, dan meletakkannya di pinggir jalan. Saya tersenyum kecil bukan karena masalah saya selesai, tapi karena saya akhirnya mulai belajar dari kejatuhan. Mungkin ini hal kecil, tapi setiap langkah besar dimulai dari keberanian untuk mengubah hal kecil.

Sejak hari itu, saya tak langsung jadi luar biasa. Tapi saya mulai mencoba. Satu tugas saya kerjakan tanpa mengeluh. Satu buku saya baca meski hanya dua bab. Satu senyum saya berikan kepada ibu saat ia bicara soal masa depan saya. Perlahan, saya melawan malas dan kebiasaan buruk saya. Saya yakin tidak ada kata terlambat untuk berubah.

Saya tahu jalan masih panjang. Tapi setidaknya sekarang, saya berjalan bukan hanya karena “harus”, melainkan karena saya “ingin’. Akhirnya saya memilih untuk tidak membuang batu itu lagi, tapi belajar melangkah melewatinya.

Penulis adalah Afida Putri Fatimatus Zahro’, Tinggal di Durenan, Trenggalek, Jawa timur. Seorang mahasiswa di universitas Islam Negeri Ali Sayyid Rahmatullah Tulungagung. Ig : @afida.

Back To Top