Hari selasa, jujur aku tidak terlalu suka dengan seragam hari ini. Kainnya agak tebal dan kurang bisa menyerap keringat. Tampilannya juga memudahkan orang lain mengenali profesiku. Jadi kurang nyaman kalau mau ke mana-mana sepulang sekolah. Hari ini aku mengajar jam pertama di kelas IXB.
Sepertinya mood kurang baik yang aku bawa dari rumah masih berlanjut di sekolah. Ketika aku sudah bersemangat masuk, kondisi kelas masih memprihatinkan. Anak-anak masih asyik ngobrol, makan, duduk di atas meja, saling melempar kertas, dan diakhiri dengan saling melempar kesalahan. Dengan mudah bisa diprediksi.
Ruang kelas juga jauh dari kata bersih. Bungkus makanan, kertas-kertas bekas, tulisan di papan tulis, semua menjadi pajangan yang tidak menarik sama sekali. Apakah sepagi ini aku sudah harus marah-marah?
Sungguh membuang energi dari sepiring sarapanku tadi. Akhirnya memang itu yang aku lakukan. Tausiah bernada tinggi sambil pasang muka sinis yang membuat anak-anak menjadi risih. Setelah keadaan perlahan membaik dan terkondisikan, aku baru memulai pelajaran. Pelajaran Prakarya di kelas hari ini berjalan aman. Menurutku anak-anak bisa mengikuti pelajaran dengan baik.
Hari ini kami melanjutkan pelajaran tentang kerajinan bahan lunak. Minggu lalu aku sudah memberikan tugas pada mereka untuk membawa bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat kerajinan bahan lunak. Aku sengaja tidak membatasi bahan yang harus mereka gunakan karena tidak ingin terlalu membebani. Jadi kerajinan yang akan mereka buat juga bermacam-macam. Ada yang membuat asbak dari tanah liat, patung dari sabun, pajangan dari tumbuhan kering dan sebagainya.
Memang belum terlihat hasil jadinya, tapi sudah nampak akan seperti apa. Pasti ada yang hasilnya sangat bagus, bagus, biasa saja, dan kurang bagus juga ada. Kebanyakan memang yang biasa saja. Aku cukup kecewa, sih, karena menurutku aku sudah mencontohkan yang terbaik.
Setelah selesai mengajar, aku bergegas masuk ruang guru. Kudapati teman-teman sedang berkumpul di pojok ruangan sambil mengamati layar komputer dengan seru. Sebelum sempat bertanya, salah satu temanku sudah berusaha menjelaskan.
“CCTV baru, Bu! ” Kata Bu Gurita (Bu Guru Penuh Cerita).
“Oh ya? Wahh..bisa kelihatan semuanya, dong, sekarang?” tanyaku dengan antusias.
“Iya, Bu. Hati-hati dipantau terus lo sekarang.” candanya tapi serius. Dibalas dengan tawa teman-teman yang lain.
CCTV memang hal yang biasa di masa sekarang. Tapi agak berbeda dengan sekolahku. Aku mengajar di sekolah kecil di pinggir kota. Kami tidak ketinggalan dalam penggunaan teknologi dan informasi. Tapi untuk CCTV ini memang baru ada. Jadi tidak mengherankan jika kami menyambutnya dengan gembira yang sedikit berlebihan.
Tampilan layar CCTV dihubungkan dengan salah satu komputer di ruang guru. Di layar tersebut ditampilkan beberapa bagian sudut sekolah. Ruang kelas, laboratorium, kantin,UKS dan tempat lainnya. Seru juga, sih.
Aktivitas murid, guru atau warga sekolah lain yang biasanya luput dari pantauan jadi terlihat. Sejak ada CCTV ini, aku dan teman-temanku seperti punya “mainan” baru. Dari apa yang tertampil di layar, bisa jadi bahan obrolan, candaan, bahkan perdebatan. Sepertinya akan bagus jika ada yang mau mengedit rekaman CCTV itu menjadi sebuah film dokumenter.
Ada cerita salah satu temanku yang mampu mengukir prestasi dari CCTV ini juga loh. Dia adalah Pak Gusar (Pak Guru Sabar). Pak Gusar berhasil mengidentifikasi ciri-ciri fisik pencuri tabung gas elpiji di kantin sekolah dengan metode pemutaran ulang rekaman CCTV selama berjam-jam.
Kebetulan hari itu beliau memang tidak ada jam mengajar. Meskipun pada akhirnya hanya sebatas identifikasi pelaku, tapi patutlah diapresiasi. Aku pun punya kebiasaan baru. Sebelum masuk ke kelas, aku selalu menyempatkan diri untuk melihat aktivitas anak-anak di kelas tersebut lewat layar CCTV. Tujuannya ya cuma untuk tahu mereka ngapain saja sebelum pelajaran dimulai. Lebih sering terlihat sebagian kecil murid yang menyiapkan buku dan alat tulis. Yang lain masih menikmati dunianya masing-masing.
Tapi aku selalu berpikir positif. Walaupun belum tumbuh kesadaran menyiapkan buku dan alat tulis sebelum pelajaran, semoga mereka sudah menyiapkan niat untuk belajar. Begitu caraku menghibur diri. Seperti yang kulakukan hari ini sebelum masuk ke kelas IXB. Beberapa menit sebelum bel berbunyi, aku pantau dulu mereka dari layar CCTV.
Hari ini adalah jadwal kelas IXB untuk menunjukkan dan mempresentasikan hasil karya kerajinan bahan lunak yang sudah dibuat mulai minggu lalu. Tampak di layar, Walas (Siswa Pemalas) dengan sekuat tenaga berusaha menyelesaikan anyamannya pada detik-detik terakhir.
Wilu (Siswi Pemalu) masih menyembunyikan karyanya. Entah karena malu atau tidak ingin ditiru oleh temannya. Lain lagi dengan Wasa (Siswa Biasa) yang terlihat sudah menyiapkan miniatur pesawat terbang yang dia buat dari clay di atas mejanya. Sedangkan Wita (Siswi Cantik Jelita) yang hampir saja terlambat, terburu-buru berlari masuk kelas.
Tanpa sengaja patung gadis menari dari tanah liat yang dia buat jatuh dan patah. Tentu banyak lagi aksi siswa lain yang tidak sempat terekam mata. Yang kuperhatikan cuma sampai kejadian itu, kemudian bel tanda masuk berbunyi. Aku meninggalkan layar CCTV dan bergegas masuk ke kelas IXB.
Setelah menyapa, berdoa, cek kehadiran dan kegiatan awal pembelajaran lainnya, aku menjelaskan apa saja yang harus mereka sampaikan saat presentasi. Presentasi seperti ini sebenarnya bukan semata-mata untuk menunjukkan hasil belajar para siswa. Tapi lebih sebagai ajang aktualisasi diri, latihan mental, dan belajar public speaking.
Kebetulan Wita mendapat giliran pertama presentasi berdasarkan undian. Ketika Wita ke depan kelas, tiba-tiba aku teringat tampilan CCTV yang kulihat tadi. Bukankah tugas kerajinan Wita jatuh dan patah? Tapi kok dia tampak baik-baik saja? Apa secepat itu dia memperbaiki patungnya? Atau dia punya dua hasil kerajinan? Banyak pertanyaan menyerbuku, tapi berusaha tak kuhiraukan.
Aku perhatikan Wita mulai membuka presentasi. Dia menjelaskan bahan, cara membuat, kegunaan dan juga makna dari kerajinan yang dia bawa. Aku tahu itu bukan miliknya. Aku sangat tahu. Sudah hampir tumpah amarah ini, tapi aku tahan. Aku menahannya karena Wita mempresentasikan miniatur pesawat terbang dari bahan clay. Bukan karena terpukau pada miniatur pesawat itu, tapi terpukau pada senyum yang dari tadi mengembang di bibir Wasa.
Ya, miniatur pesawat itu milik Wasa yang dari pagi sudah dia pamerkan di atas mejanya. Wasa merelakan tugasnya diberikan pada Wita, gadis yang selama ini dikaguminya tapi tak pernah berbalik kagum padanya. Seperti namanya, Wasa memang cuma siswa biasa saja. Dia tidak begitu tampan, cenderung pendiam, dan tidak populer. Meskipun sebenarnya dia lumayan cerdas.
Sedangkan Wita adalah siswi berparas cantik yang aktif di sekolah. Bisa ditebak kalau Wasa bukan satu-satunya pengagum Wita. Mungkin ini adalah kesempatan pertama bagi Wasa mengungkapkan perhatiannya dan diterima oleh Wita.
Jika aku sampai memarahi Wita, aku tidak tahu apakah Wasa akan mendapat kesempatan kedua lagi atau tidak. Lalu nanti ketika giliran Wasa yang harus ke depan kelas, apa yang akan dia presentasikan? Apakah Wita hanya memanfaatkan Wasa lalu mengabaikannya lagi setelah selesai pelajaran ini? Apakah aku membenarkan yang mereka lakukan? Entahlah, aku hanya bisa ikut merasakan kebahagiaan yang dirasakan Wasa dengan melihat senyumnya yang biasanya mahal itu.
Deni Iska Dian Nita
Guru di SMPN Satu Atap Pesanggrahan 2 Batu.

