Eri Hendro Kusuma Budayawan

Tepung Terigu, Tai Lalat, dan Tawa yang Masih Ada

Spread the love

Usia memang tidak pernah memberi tanda sebelum datang. Tahu-tahu kita sudah bicara dengan nada suara pelan di kantin, bukan soal politik atau puisi, melainkan urusan tai lalat yang mendadak membesar di bawah mata. Katanya, tai lalatnya tiba-tiba gatal dan berwarna gelap. Ia sempat berpikir itu cuma efek usia, tapi karena muncul rasa nyeri, akhirnya dia periksa juga. Hasilnya belum keluar, tapi kecemasan sudah duluan beredar dengan berbagai macam argumen di tongkrongan

Sementara itu, teman yang lain mulai sangat ketat urusan makan. Semua yang mengandung tepung-tepungan, apalagi tepung terigu, dianggap musuh paling berbahaya. Ia mulai mengganti semua camilan dengan buah potong dan ubi rebus, kalaupun ingin makan kue, berarti bahan dasarnya harus dari tepung beras atau sagu. Bahkan, sang suami yang awalnya merasa ini gerakan biasa saja di dapur, akhirnya menyerah juga. Pola makan itu pun jadi gerakan “bersama” rumah tangga.

Ada juga teman yang sekarang menolak ajakan naik gunung, hanya karena alasan sepele –masuk angin. Padahal dulu dia adalah pemegang rekor ketika mendaki gunung. Sekarang, menemani anak-anak untuk kemah ceria saja sudah bingung mencari “antangin”.

Obrolan pun berubah drastis. Dulu kita bahas anak, pekerjaan, target karier, sampai drama rumah tangga. Sekarang? Isinya tentang tekanan darah, obat herbal, hasil cek laboratorium, dan jenis sendi yang paling sering nyeri. Obrolan yang dulu hidup karena rencana liburan kini jadi forum konsultasi kesehatan informal.

Saya sendiri? Jangan ditanya. Masih muda, katanya. Tapi entah kenapa, hipertensi sudah menemani sejak usia tiga puluhan awal. Belum sempat sembuh total, kini giliran asam urat yang datang menyapa. Jempol kaki tiba-tiba nyut-nyutan. Rasanya seperti ditusuk jarum sambil diinjak kenangan lama yang belum selesai. Padahal tidak ada aktivitas ekstrem, tidak ada futsal, tidak ada kesandung batu. Yang ada hanya satu piring sayur tewel—nangka muda kesukaan saya—yang kini harus saya buang dari daftar makanan favorit.

Sakit itu memang tidak pernah datang sendirian. Ia sering membawa serta kenangan dan perasaan bersalah. Saya ingat betul, betapa nikmatnya sayur tewel yang terakhir saya makan. Tapi setelahnya, rasa nikmat itu berubah menjadi tikaman diam-diam di bagian jempol kaki. Dan di situ saya sadar, makanan favorit pun bisa berubah menjadi musuh dalam selimut jika asam urat sudah ambil peran.

Tapi begitulah hidup di usia pertengahan. Kita mulai berdamai dengan tubuh yang tak sekuat dulu, mulai akrab dengan pantangan, dan mulai meneliti jenis makanan yang bisa di konsumsi atau tidak. Tapi di sisi lain, saya bersyukur karena obrolan kami yang dulu dipenuhi ambisi kini berganti dengan empati. Kami semua sepakat, usia boleh berjalan ke depan, tapi persahabatan dan tawa tetap bisa jadi obat paling mujarab.

Eri Hendro Kusuma
Penulis dan Pegiat Literasi

Back To Top