Kebahagiaan di Bawah Mentari Pagi

Spread the love

Pagi itu mentari bersinar terik, hembusan angin yang menerpa wajah tidak memberi pengaruh apa pun. Nathalie berulang kali menyeka peluh di dahinya. Kegiatan olahraga hari ini adalah lari pagi, sebuah aktivitas yang sangat menguras tenaganya. Ia melipir ke pinggir untuk berteduh sejenak dan membiarkan teman-temannya mendahului. Sekarang ia berada di posisi paling belakang.

Dari posisinya itu ia bisa melihat betapa serunya sekelompok teman di depannya. Bukannya lari pagi, mereka malah berjalan santai sambil bercengkerama tentang banyak hal. Sangat berbanding terbalik dengan Nathalie yang sering diam dan selalu sendiri.

Nathalie menghela napasnya. Ia ingin segera mengakhiri kegiatan ini, tapi orang-orang di depannya menghalangi jalannya. Mereka tertawa riang dan berjalan dengan santainya, sehingga rombongan mereka tertinggal jauh dari yang lain. Nathalie mulai panik karena rute kali ini berbeda dengan yang biasanya, ia tidak bisa mendahului kelompok itu karena tidak tahu jalan.

“Eh, Nathalie?” Panggilan seseorang mengalihkan perhatiannya. “Sejak kapan kamu ada di belakang kami?”

“Astaga, aku tidak menyadarinya.” Kia menepuk jidatnya.

“Ya ampun, maaf kami telah mengabaikanmu selama perjalanan. Mau bergabung?”

Nathalie tersenyum tipis, menggeleng pelan. Ia sudah bersyukur teman-temannya tidak benar-benar mengabaikannya. Mereka hanya tidak menyadari keberadaannya dan mereka meminta maaf untuk itu.

“Setidaknya berjalanlah berdampingan dengan kami, jangan sendirian di belakang seperti itu,” ujar Tyas disertai anggukan teman yang lain.

“Aku baik-baik saja, teman-teman. Aku tidak ingin mengganggu kalian, lanjutkan saja tanpa memedulikanku.” Nathalie sedikit menunduk.

Tyas dan tiga orang temannya—Kia, Ayumi, dan Dian— akhirnya melanjutkan perjalanan dengan Nathalie yang tetap berada di belakang mereka. Merasa tidak tega, salah satu dari mereka memilih mundur dan berjalan berdampingan dengan Nathalie. Menemaninya mengobrol selama beberapa saat.

“Kurasa kamu orang yang tidak akan berbicara kecuali orang lain yang mendahuluinya, ya? Kamu sangat pendiam.” Nathalie menggaruk kepalanya, sedikit bingung menanggapi perkataan Tyas.

“Baiklah kalau begitu, ikut kami!” ajak Tyas bersemangat.

“Ke mana?”

“Ke tempat yang cocok untuk situasi saat ini.” Tyas segera menarik Nathalie menuju suatu tempat yang tidak terlalu jauh dari posisi mereka berdiri.

Nathalie kebingungan. Pasalnya, mereka semua kini malah duduk di pinggir jalan raya. Setelah ditanya apa alasan Tyas mengajaknya ke sini, katanya karena Nathalie terlihat sangat kelelahan dan butuh istirahat sejenak, jadi Tyas mengajaknya berteduh di depan ruko kosong. Nathalie hanya mengangguk mengiakan karena ia memang lelah.

Nathalie kembali menyendiri, memandangi kendaraan yang berlalu lalang. Sesekali menatap kelompok Tyas yang malah asik menyapa semua orang yang lewat. Nathalie berdecak kagum, ia tidak akan memiliki keberanian untuk melakukan hal yang sama. Ia memilih menyandarkan tubuhnya pada pintu ruko, barulah semilir angin yang menerpa wajahnya terasa sangat menyejukkan, kemudian ia memilih untuk memejamkan matanya.

Tiba-tiba, ia dikejutkan dengan teriakan dari Tyas dan teman-temannya. Bukan teriakan panik atau pun ketakutan, melainkan teriakan kegirangan dan penuh semangat. Nathalie menoleh, menemukan Ayumi dan Dian yang melompat-lompat sambil melambai pada sesuatu yang jauh. Sedangkan Tyas dan Kia terus memanggil-manggil seseorang dengan bersemangat. Nathalie masih belum mengerti, apa yang mereka tunggu kedatangannya sampai sebahagia ini?

Setelah beberapa saat, netranya menangkap sebuah kendaraan berwarna ungu yang perlahan mendekat, beserta sopirnya yang membalas lambaian tangan Ayumi dan Dian. Itu … itu adalah sopir angkot langganan Tyas dan teman-temannya! Ketika rasa lelah menyelimuti tubuh di bawah teriknya mentari, kendaraan ungu itu datang memberi harapan baru.

Sopir angkot langganan mereka itu datang di waktu yang tepat, secara kebetulan, tanpa direncanakan. Tyas dan yang lain segera menaiki angkot itu dengan tidak sabaran, usaha mereka meneriaki sopir angkot dari jauh tidak sia-sia.

Nathalie terdiam melihat mereka, berusaha mencerna apa alasan sebenarnya sopir angkot beserta kendaraan ungunya itu menghampiri mereka. Hingga satu per satu mulai dari Tyas, Ayumi, Kia, dan Dian, memanggil Nathalie untuk naik. Tak ada pilihan lain. Nathalie melangkahkan kaki memasuki kendaraan ungu itu sebelum akhirnya duduk di dekat pintu.

Angin kencang menerpa wajahnya bersamaan dengan melajunya angkot itu. Ia terkekeh, mengingat betapa hebohnya Tyas dan yang lain ketika memanggil sopir itu, bahkan sampai tidak memedulikan orang-orang yang menatap mereka dengan heran.

“Pak, Bapak dari mana dan mau ke mana?” tanya Dian kepada sopir angkot itu.

“Saya tadi dari terminal, mau pulang ke rumah. Eh, malah ketemu kalian di sini. Kalian tadi ngapain, toh, duduk di pinggir jalan seperti anak hilang begitu?”

“Sedang istirahat, Pak, capek habis lari pagi. Guru sama yang lainnya sudah duluan, kami ketinggalan. Untungnya Bapak lewat, jadi kami bisa numpang sampai sekolah, hehe,” jelas Tyas sambil terkekeh.

Bapak sopir angkot mengangguk mengerti. “Ooh, begitu. Berarti nanti mau turun di depan sekolah, ya?”

“Iya, Paak!” Semua penumpang menjawab serempak.

Rasa lelah yang mereka rasakan akibat berolahraga di tengah teriknya matahari hilang dalam sekejap. Kebahagiaan kecil seperti ini saja mampu membuat perasaan mereka jauh lebih baik, terutama Nathalie. Baru kali ini ia merasakan kehangatan di antara teman-teman sekelasnya, biasanya ia tidak akan betah karena kehadirannya hanya dianggap angin lalu. Tyas, Kia, Ayumi, dan Dian benar-benar merangkulnya. Terkadang, sendiri bukan karena tidak memiliki teman, melainkan karena terlalu takut untuk menjalin ikatan.

“Tunggu. Bagaimana jika kita dimarahi oleh guru karena naik angkot di jam olahraga?!” seru Dian tiba-tiba.

Semuanya terdiam. “TIDAAAAK!!”

“Ya ampun, aku benar-benar tidak sanggup jika harus mengikuti rute yang diberikan pak guru …,” keluh Ayumi pada akhirnya.

Mahadewi Damayanti Putri
SIswi SMPN 07 Batu
Editor: Deni Iska Dian Nita

Back To Top