Bekerja di luar kota yang jaraknya sekitar 40 km dari rumah memang tidaklah mudah. Ada saja masalah yang harus dihadapi ketika menempuh perjalanan sejauh itu dengan berkendara sepeda motor. Kadang ban bocor, rantai putus, kehabisan bensin, atau bahkan harus kehujanan sepanjang jalan. Namun setelah 6 tahun berlalu, tubuh ini sudah tak cukup kuat untuk berkendara dengan sepeda motor setiap harinya. Oleh sebab itu, sekarang lebih sering naik bus untuk menghemat tenaga supaya ketika tiba di rumah tidak terlalu lelah.
Siang ini sepulang dari kerja, seperti biasa aku menunggu bus di depan Indomaret di pinggir jalan raya. Setelah menanti satu jam lebih, akhirnya bus putih itu datang juga. Kali ini tidak seperti biasanya karena banyak sekali penumpang sehingga aku tidak kebagian tempat duduk. Bus penuh sesak dan banyak orang yang harus berdiri karena tidak ada kursi yang kosong.
Kebetulan aku masuk melalui pintu belakang dan berdiri diantara beberapa orang di sana. Tepat di depanku ada seorang ibu yang duduknya terlihat sangat tidak nyaman karena harus berbagi tempat duduk dengan penumpang yang ada disebelahnya. Terlihat dengan jelas hanya setengah pantatnya saja yang kebagian kursi, karena disampingnya duduk seorang ibu bertubuh besar dengan anaknya yang berumur sekitar 5 tahunan disebelahnya.
Tampak ibu yang bertubuh besar itu sangat acuh, padahal orang yang ada disampingnya tidak bisa duduk dengan nyaman, karena merelakan jatah kursinya dibagi dengan ibu bertubuh besar itu. Bahkan pak kondektur sampai meminta ibu bertubuh besar tersebut untuk memangku anaknya karena anak tersebut tidak membayar kursi sendiri. Mendengar hal ini, ibu yang merelakan kursinya tadi malah berkata, “Mboten nopo-nopo, Pak”. Tapi ibu bertubuh besar itu malah bertingkah seolah-olah tidak mendengar dan tetap cuek saja.
Dalam hatiku, kok ada ya orang seperti itu?? Sudah dikasih tempat duduk malah tidak tahu terima kasih. Bahkan dengan santainya duduk tanpa memperdulikan kondisi di sekitarnya. Akhirnya ibu yang duduknya tidak nyaman tersebut berdiri dan membiarkan kursi yang tinggal separo pantat tadi kosong tak berpenghuni. Bapak-bapak yang berdiri di dekat kursi itupun juga enggan untuk duduk di kursi tersebut dan membiarkan kursi itu kosong begitu saja.
Mengetahui hal tersebut, pak kondektur langsung menyuruhku duduk disitu dengan pertimbangan tubuhku yang kurus kecil pastilah muat kalo duduk di situ. Namun sebelum duduk, aku bertanya terlebih dahulu kepada ibu yang berdiri tadi. “Buk, mboten lenggah maleh ta?”. Lalu ibu tersebut menjawab, “tidak mbak…saya capek, nanti gantian aja”. Karena sudah lelah berdiri, akhirnya aku pun duduk disitu.
Meski mendengar percakapan kami, ibu bertubuh besar itupun tidak mau bergeser sama sekali. Dalam kondisi bus penuh seperti ini, jika mau anaknya duduk dengan nyaman seharusnya ibu tersebut membayar karcis tambahan kursi. Jika tidak mau, berarti anaknya harus dipangku karena semua orang juga punya hak yang sama untuk bisa duduk dengan nyaman.
Yang membuat saya heran, ibu bertubuh besar ini kok bisa-bisanya berleha-leha dan sesekali terlihat memejamkan mata. Sebenarnya aku juga kasihan dengan anaknya karena dia juga tidak bisa duduk dengan nyaman. Namun apa boleh buat. Kalo bus dalam kondisi penuh sesak pastilah kita juga susah untuk bergerak. Saya saja yang bertubuh kecil tidak bisa duduk dengan nyaman apalagi ibu tadi.
Sempat terbersit beberapa pertanyaan dalam pikiranku. Kenapa ya ibu tadi mau merelakan tempat duduknya? Padahal yang dikasih tempat duduk malah tidak tahu diri. Kenapa ya ibu yang bertubuh besar ini tidak punya rasa kasihan pada yang lain?? Kenapa ya ibu ini tidak mau memangku anaknya?? Apakah ibu ini tidak memiliki biaya untuk membayar karcis tambahan untuk anaknya atau memang tidak mau rugi saja? Ya…semua itu hanya terngiang-ngiang dalam pikiranku hingga pada akhirnya aku menatap pada ibu yang berdiri tadi.
Beliau nampak pucat dan berkali-kali mengoleskan minyak kayu putih ke perutnya. Tanpa pikir panjang, aku langsung bertanya, “mau duduk lagi bu?”. Beliaupun langsung mengangguk dan duduk. “Sebenarnya aku lagi nggak enak badan mbak, rasanya mau muntah”, ucap beliau sambil menghirup minyak angin yang ada di tangannya. Mungkin awalnya niat ibu ini baik, tapi akhirnya malah berujung menyulitkan dirinya sendiri.
Dari kejadian ini, aku menyadari bahwa apapun yang kita lakukan, kita harus siap dengan segala resikonya. Empati yang sejatinya bisa menempatkan diri kita untuk bisa merasakan dan memahami perasaan orang lain, kini sudah mulai hilang tertelan zaman. Orang cenderung lebih egois dan memikirkan kebutuhannya sendiri daripada berempati kepada orang lain.
Aku memahami bahwa karakter setiap orang memang berbeda beda dan tidak mudah untuk merubahnya. Akupun juga menyadari bahwa aku tidak bisa memaksa orang lain untuk memiliki sikap atau perasaan yang sama seperti yang aku rasakan. Namun setidaknya etika dan sopan santun serta cara berempati terhadap sesama berlaku untuk kita semua.
Tri Windiyati, S.Pd, Guru di SMPN Satu Atap Pesanggrahan 2 Batu, Ketua PAC Fatayat NU Kasembon (Tahun 2013-2020), dan Sekretaris MGMP Bahasa Inggris Kota Batu

