Katanya bergizi?
Tapi mengapa yang datang
kadang nasi dingin
dengan aroma kematian yang samar?
Apa arti gratis?
Jika bayarnya adalah muntah,
pingsan, atau rumah sakit?
Sementara di layar,
kau tersenyum membanggakan “keberhasilan”.
Kau bilang ini demi generasi emas,
tapi emas macam apa
yang ditempa dengan karat kelalaian?
Hei, dengarlah jerit sendok yang membentur lantai kelas!
Itu bukan sekadar bunyi makan siang,
itu dentang peringatan.
Bahwa masa depan tidak bisa dihidangkan basi.
Jangan sebut ini program,
jika yang tersaji hanya kompromi.
Jangan sebut ini bergizi,
jika yang masuk hanya residu ketamakan.

Deni Iska Dian Nita, Wakil Pemimpin Redaksi Setitik.id

