Diskusi Mahasiswa Ilmu Hadis UIN Satu Tulungagung

Tradisi Diskusi Mahasiswa Ilmu Hadis Yang Menghasilkan Eskalasi Komprehensif

Spread the love

Diskusi merupakan hal rutinitas yang sering diadakan mahasiswa di setiap hal, baik di kampus, di organisasi maupun di tongkrongan. Diskusi biasanya diadakan untuk bertukar pendapat dan wawasan baik secara formal maupun non-formal. beberapa hal yang menarik akan tradisi diskusi yang sering diadakan oleh HMPS ilmu hadis UIN SATU Tulungagung yakni dengan program  yang mereka rancang. Terdapat tiga konsep diskusi yang dilakukan mahasiswa ilmu hadis.

Pertama, diskusi syafahat. dengan konsep sesama mahasiswa Ilmu Hadis UIN SATU Tulungagung. Mungkin diskusi ini banyak dilakukan pada mahasiswa umumnya, saling bertukar  gagasan, wawasan, dan juga pendapat pada setiap materi yang ingin dibahas. Secara formal mahasiswa Ilmu Hadis rutin mengadakan diskusi serentak sesama mahasiswa ilmu Hadis UIN SATU Tulungagung di setiap hari Jum’at pada 2 pekan sekali baik dari di setiap kalangan semester.

Materi yang sering diangkat tak lebih masih berkaitan dengan isu-isu terkini, seperti vasektomi, ekologi, dan sebagainya. Secara non-formal mahasiswa kebanyakan akan berdiskusi satu kelas pada jam kosong atau sepulang kuliah baik itu di kelas, kantin, atau warkop. Rutinitas diskusi yang harus terus ditradisikan, guna mengasah intelektual para mahasiswa.

Kedua, diskusi mutawatir. dengan konsep sharing dengan mahasiswa prodi lain. diskusi ini rutin diselenggarakan 2 bulan sekali dan rancang agar mahasiswa ilmu hadis sharing ilmu dengan cara menyampaikan perspektif hadis dengan perspektif mahasiswa prodi lain. seperti pada tanggal 30 Mei 2025 mahasiswa ilmu hadis telah melakukan program sharing dengan prodi Hukum Keluarga Islam dengan tema “vasektomi dalam perspektif hadis dan hukum keluarga Islam: antara pengendalian kelahiran dan larangan memandulkan diri”. Haswan selaku moderator menjelaskan bahwa Tema ini diangkat guna melihat respons mahasiswa terhadap fenomena vasektomi, dengan mengusung pemahaman hadis yang menjadi dasar hukum pada fenomena tersebut lalu di diharmonisasi dengan asumsi dari mahasiswa hukum keluarga Islam yang kemudian menghasilkan eskalasi teori dan praktik yang sistematik.

Ketiga, diskusi researcher series. dengan konsep sharing dengan mahasiswa luar pulau maupun negeri dilaksanakan secara Online via zoom. Diskusi ini rutin diselenggarakan setiap satu semester sekali. Diskusi yang sakral  di pergunakan oleh kebanyakan mahasiswa lain. pada tanggal 20 April 2025, HMPS Ilmu hadis mengadakan kegiatan researher series dengan mengundang salah Guru Besar Ilmu Hadis UINAM Makassar dengan tema “reaktualisasi pemahaman hadis dalam konteks modern telaah pemikiran syuhudi Ismail”

Muhammad Alif sebagai ketua pelaksana menjelaskan bahwa pemateri yang diundang merupakan murid Syuhudi Ismail yakni salah satu tokoh ilmu hadis di nusantara, dengan memanfaatkan media online via zoom, kita bisa menerima sanad ilmu secara langsung dari beliau. dan juga HMPS Ilmu Hadis berhasil mengundang salah satu mahasiswa fakultas pascasarjana jurursan Hadith Universitas Al-Azhar (Mesir) dengan tema “menelusuri dan menguatkan paradigma keilmuan hadis di egypt dan nusantara”.

Wafa selaku moderator juga menjelaskan bahwa tema ini diangkat guna menelusuri jejak ulama dan pemikir keilmuan hadis di dua negara yakni Mesir dan Indonesia. Mesir telah menjadi negara yang masyhur dengan sistem pendidikan haditsnya. Tak diragukan Universitas Al-Azhar Kairo telah merasakan kepahitan dan perjuangan pengembangan keilmuan hadis. Dibuktikan dari banyaknya alumni Al-Azhar yang masyhur atas dedikasinya terhadap pendidikan hadis di Indonesia, sehingga mereka mampu ikut andil di bidang hadis baik golongan ulama pro bahkan orientalis yang skeptis terhadap hadis.

Tujuan diskusi bukanlah untuk menang, tetapi untuk saling belajar dan menemukan kebenaran bersama, ketika fokus pada “menang”, kita cenderung defensif, keras kepala, dan menutup diri dari sudut pandang lain. ini membuat diskusi menjadi perdebatan yang tidak produktif, bahkan bisa merusak hubungan.

Maka setiap pengalaman, pengetahuan, dan perspektif yang berbeda harus di niatkan untuk belajar dengan tujuan untuk memperluas wawasan, memahami kompleksitas suatu isu, dan mengisi kekosongan pengetahuan kita. Dengan mindset ini, diskusi menjadi kolaborasi intelektual yang memperkaya semua pihak, bukan kompetisi yang harus ada yang kalah dan menang. Semoga tradisi diskusi yang diselenggarakan oleh HMPS Ilmu Hadis terus menjadi tradisi hingga seterusnya.

Fahmi Idris, Mahasiswa Prodi Ilmu Hadis UIN SAYYID ALI RAHMATULLAH TULUNGAGUNG. Minat kajian : Bidang Hadis

Back To Top