Kirim Esai ke Media Terbaik
Spread the love

Katanya jadi anak tengah itu menyenangkan. Katanya. Mereka bilang, “Enak ya jadi anak tengah, punya kakak juga punya adik.”

Aduh, coba deh sini duduk dulu dan kumpulin semua orang yang merasa jadi anak tengah, biar tahu fakta sebenarnya. Kalau diberi ruang untuk bicara, akan semakin terlihat sisi gelap yang menyelimutinya.

Mereka harus tahu, banyak sekali rintihan semu yang disimpan rapat-rapat oleh anak tengah. Benar, ketika ia berada di dunia luar—atau saat berkumpul dengan teman-temannya—ia bisa menjadi sosok paling humoris, penuh canda, seolah tanpa beban hidup yang harus ia topang di pundaknya. Tapi apakah mereka pernah melihat saat anak tengah sendirian di tempat asing, tanpa seorang pun yang mengenalnya? Atau ketika ia pulang ke rumah, berdiam diri di kamar, dengan ribuan tanda tanya berputar di kepalanya?

Tak semua. Beberapa dari mereka memang bernasib baik. Namun, tak sedikit juga yang bernasib sebaliknya. Senangnya, sedihnya, dan apapun yang ia rasakan nyaris tak pernah didengar maupun terdengar. Orang-orang tahunya, “anak tengah tuh rata-rata emang unik gitu ya dari saudaranya yang lain”, “anak tengah kenapa sifatnya berbanding jauh banget ya daripada kakak adeknya?”, dan masih banyak lagi asumsi-asumsi lain yang sebenarnya sangat mengganggu anak tengah. Ia, tak suka dibandingkan dengan saudaranya yang lain. Jangankan anak tengah, pasti semua orang tidak suka dibandingkan dengan siapapun.

Beberapa dari anak tengah mungkin akan merasa sangat relate dengan ini. Pertama, sulit memiliki barang-barang baru karena hidupnya ditakdirkan untuk selalu menerima barang bekas dari kakaknya. Mungkin bisa. Tapi kemungkinannya hanya sepuluh persen. Kedua, keinginannya sangat amat sulit dipenuhi. Kali ini bukan karena menerima barang bekas. Tapi mengalah untuk memenuhi kebutuhan adeknya.

“Ada baju bekas nih dari kakakmu, pakai ya. Kalo kebesaran nanti dibawa ke tukang jahit buat dikecilin.”

“Uangnya buat beliin keperluan adekmu dulu ya? Kasian adek belum punya.”

Dalam diamnya, anak tengah sibuk meneriakkan keadilan. Dalam diamnya juga, ia lelah dihantui banyak tanya. Intinya, jadi anak tengah tuh nggak seenak ekspektasi orang-orang. Selain hidup di bayang-bayang kakak, ia juga dituntut jadi contoh baik untuk adiknya.

Sering kali anak tengah merasa seperti manusia tak kasat mata di keluarganya. Si sulung dapat perhatian karena tanggung jawabnya besar. Si bungsu disayang karena selalu dianggap kecil. Si tengah? Masih dianggap ada aja udah syukur.

Kadangkala, anak tengah juga merasa orang tuanya nggak pernah adil ke anak-anaknya karena perlakuannya seringkali berbeda. Mau bicara pun rasanya percuma. “Aku tuh sebenarnya anak mereka juga atau bukan sih?”

Namun di balik segala luka kecil itu, anak tengah selalu belajar satu hal penting yakni ketabahan.

Ia terbiasa menahan, terbiasa memahami, dan terbiasa tidak didengar. Tapi justru karena lukanya itu Ia tumbuh dengan kekuatannya. Anak tengah tahu cara berdiri sendiri tanpa perlu diperhatikan, tahu cara menguatkan diri tanpa harus diminta. Ia tumbuh bukan karena selalu disayangi, tapi karena belajar menyayangi—bahkan ketika tak ada yang mengembalikan.

Anak tengah mungkin tak selalu dimengerti, tapi percayalah, ia selalu tabah. Meski di lubuk hati paling dalam, Ia juga ingin diperlakukan selayaknya.

Tazkiyatuz Zahro, mahasiswa Bahasa dan Sastra Arab UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Akun Media Sosial : Ig @tzkiyaaa___

Back To Top