Mewakili laki-laki yang pernah menyakitimu, izinkan aku meminta maaf. Lucu rasanya, ketika kau berkata semua lelaki sama, sementara kau lupa, banyak pula wanita yang bilang “sayang” padaku sambil menyiapkan ruang untuk lelaki lain.
Lalu, apakah aku harus menuduh seluruh perempuan tak setia? Hubungan bukan soal siapa yang paling rajin menilai, melainkan seberapa besar kau mau berbagi.
Jika aku membuka diri, itu bukan untuk dihakimi, melainkan untuk benar-benar dikenali. Sebab cinta bukan sekadar usaha sepihak, tetapi pertemuan dua hati yang saling menjemput, bukan saling menunggu.
Namun jika kau terus menggenggam masa lalu, jangan pernah berharap lukamu akan sembuh. Mie instan saja butuh direbus sebelum bisa dimakan, jadi jangan berharap sembuh tanpa usaha.
Kau merasa paling benar, paling tersakiti, hingga setiap orang baru yang datang kau perlakukan seolah sama dengan cermin bekas masa lalumu. Sadarlah, itu bukan bentuk perlindungan, melainkan ketidakadilan.
Aku tak meminta banyak, hanya satu: jangan membuka hatimu untuk orang lain jika kau benar-benar ingin bukti bahwa aku memilihmu. Sebab jika kau tak mampu menjaga hatimu, itu sama saja dengan menduakan, meski kau bersembunyi di balik luka lama dan menyalahkanku seolah aku sama seperti orang yang pernah menyakitimu dahulu.
Jika itu terjadi, cinta ini hanya akan menjadi drama yang berulang—dan bahkan mie instan pun lebih tahu caranya berubah daripada dirimu.
Dr. Rahma Wahyu, S.Pd., M.Pd.
Dosen Magister Pendidikan Matematika
Universitas Wisnuwardhana Malang

