Sejak awal perkuliahan di UIN Malang, Alex, Siti, dan Yanto sudah seperti tiga sisi dari satu segitiga yang tak terpisahkan. Mereka pertama kali bertemu saat menjadi mahasiswa baru. Alex dengan kacamata tebal dan gaya bicara tenang, Siti dengan senyum ramah yang selalu menenangkan, dan Yanto yang cerewet tapi setia kawan. Dari tugas kelompok, nongkrong di kantin, sampai begadang bareng di perpustakaan, semuanya mereka jalani bersama.
Namun, seiring berjalannya waktu sesuatu mulai berubah di hati Alex. Ia mulai menyadari, setiap kali Siti tertawa, jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Setiap kali Siti bercerita, matanya tak bisa berpaling.
Yap, ia jatuh cinta pada sahabatnya sendiri. Awalnya, Alex menolak perasaan itu. Ia takut kehilangan, takut merusak persahabatan yang sudah ia jaga selama ini. Tapi perasaan bukan sesuatu yang bisa disembunyikan selamanya. Semakin ia mencoba menekan, semakin kuat rasa itu tumbuh.
Suatu sore di taman depan rektorat, Alex menatap Siti yang sedang sibuk menulis di buku catatannya. Langit Malang sore itu berwarna oranye keemasan. Ia tahu, inilah saatnya mengungkapkan kegundahan hati yang telah lama ia dipendam.
“Siti,” panggil Alex pelan.
Siti mengangkat wajahnya, tersenyum lembut. “Kenapa, Lex?”
Alex menarik napas panjang. “Aku cuma mau bilang sesuatu… sesuatu yang udah lama aku simpan.”
Siti terdiam, menatapnya dengan penuh tanda tanya.
“Aku suka sama kamu, Ti.”
Hening. Angin sore meniup lembut rambut Siti. Ia menunduk, seolah mencari kata yang tepat.
“Lex, kamu sahabatku. Kamu orang baik, dan aku sayang kamu, tapi bukan seperti itu.”
Kata-kata itu sederhana, tapi terasa seperti batu besar yang menghantam dada Alex. Ia berusaha tersenyum, meski matanya nyaris basah.
“Aku ngerti,” katanya pelan.
“Makasih udah jujur.”
Sejak hari itu, suasana berubah. Siti masih bersikap seperti biasa, tapi Alex tahu, ada jarak yang kini tumbuh diantara mereka. Ia mencoba tegar di depan Yanto, menutupi luka dengan tawa palsu, tapi di malam hari pikirannya selalu kembali pada satu kalimat: ‘Kamu sahabatku.’
Hingga suatu hari, tanpa memberi tahu siapa pun, Alex memutuskan untuk pergi solo hiking ke Gunung Buthak. Ia ingin sendiri. Ia ingin melupakan sesuatu yang membuatnya sakit. Perjalanan menuju puncak tidak mudah. Jalannya terjal, udara dingin menggigit, dan kabut turun menutupi pandangan.
Tapi di setiap langkah, Alex seperti menumpahkan sedikit demi sedikit beban pikiran yang ia bawa. Ketika akhirnya ia sampai di puncak, langit terbuka luas di atasnya. Matahari terbit dengan warna jingga yang sama seperti sore ketika ia menyatakan cintanya dulu. Ia duduk di atas batu, menatap cakrawala yang terbentang tanpa batas.
Di sana, di antara dinginnya angin dan heningnya kabut, Alex tersenyum. Ia sadar, cinta memang bisa membuat luka, tapi juga mengajarkan ketulusan. Ia mencintai Siti bukan untuk memiliki, tapi untuk memahami arti ikhlas.
Ketika ia kembali dari puncak, Alex bukan lagi orang yang sama. Luka itu belum hilang, tapi hatinya telah damai. Karena terkadang untuk sembuh dari luka, seseorang hanya perlu berjalan cukup jauh. Hingga akhirnya bisa melihat dirinya sendiri dari atas ketinggian.
Turunnya Alex dari Gunung Buthak seperti turunnya seseorang dari perjalanan batin panjang. Langkahnya pelan, tapi hatinya terasa ringan. Ia belajar bahwa diam dan jarak tidak selalu berarti kehilangan—kadang justru bentuk lain dari mencintai dengan cara yang paling tulus.
Pada keesokan harinya, ketika Alex berjalan di koridor kampus, dari kejauhan yanto berlari ke arah Alex kemudian menepuk bahunya seringai berkata, “Gila, Lo ke Buthak sendirian Lex? Gue sama Siti panik, tahu!” serunya setengah kesal, setengah lega.
Alex tersenyum samar. “Aku cuma butuh waktu, To, tapi Sekarang udah nggak papa kok.”
Yanto menatapnya lama, lalu menepuk bahunya. “Yang penting lo balik. Gue tahu lo kuat Lex, tapi jangan pendam semua sendirian. Kita ini sahabat, kan?”
Alex hanya mengangguk. Kata “sahabat” kini terdengar lebih hangat, lebih tenang di telinganya.
Beberapa hari kemudian, Siti akhirnya memberanikan diri menemui Alex di taman kampus.
“Lex, boleh kita bicara?” suaranya lembut tapi penuh ragu.
Alex menatapnya, lalu mengangguk. “Boleh.”
Siti menarik napas panjang. “Aku minta maaf kalau kata-kataku waktu itu nyakitin kamu. Aku nggak mau kehilangan kamu sebagai sahabat.”
Alex tersenyum kecil. “Aku juga nggak mau kehilangan kamu, Ti. Aku cuma butuh waktu buat belajar nerima.”
Hening sejenak. Hanya angin sore yang lewat di antara mereka.
“Aku udah belajar sesuatu waktu di gunung,” lanjut Alex. “Kadang, kita nggak harus memiliki untuk mencintai. Aku cukup senang bisa lihat kamu bahagia, Ti. Meski bukan sama aku.”
Siti terdiam. Matanya berkaca-kaca. Ia tahu, kalimat itu lahir dari luka yang sudah ia timbulkan.
“Terima kasih, Lex,” katanya lirih. “Kamu orang baik.”
Sejak hari itu, hubungan mereka bertiga perlahan kembali seperti dulu. Tak sepenuhnya sama, tapi lebih dewasa. Ada batas yang dijaga, tapi juga ada kehangatan yang tetap menyatukan.
Seiring berjalannya waktu. Mereka bertiga akhirnya lulus. Di hari wisuda, Alex berdiri di tengah keramaian, mengenakan toga hitam dengan senyum tenang. Yanto menggoda seperti biasa, Siti menyalaminya sambil tertawa kecil.
Saat acara wisuda selesai, langit Malang tampak cerah. Angin berhembus pelan membawa aroma nostalgia. Alex menatap dua sahabatnya. Orang-orang yang telah menemani perjalanan hidupnya di kampus ini.
Dalam hati ia berbisik, “Beberapa perasaan mungkin tak harus terucap lagi, tapi tetap hidup di tempat yang tenang: di hati yang telah belajar menerima.”
Dan ketika mereka bertiga berfoto dengan latar taman di depan gedung rektorat dan langit biru di atasnya, Alex tahu satu hal— bahwa persahabatan mereka telah melewati badai dan tetap berdiri kokoh, laksana puncak gunung yang menjulang tinggi dan tetap abadi.
Muhammad Alwi, Instagram: muhammad_a_l_w_i
Editor : Deni Iska Dian Nita

