Mengirim Cerpen Ke Media Gratis
Spread the love

Matahari sudah lama tenggelam, tapi di kamar Arlan, cahaya biru dari layar ponsel justru terasa sangat menyilaukan. Di luar, suara jangkrik dan kendaraan yang berlalu-lalang menjadi musik latar, namun di dalam kamar, keheningan terasa tebal dengan ditemani kehangatan pengisi daya yang tercolok.

Arlan baru saja menyelesaikan ritual hariannya: stalking teman-teman di WhatsApp Story. Ini bukan sekedar mengecek kabar. Ini semacam hukuman diri yang ia jalani setiap malam. Jari telunjuknya baru saja meninggalkan layar, menyisakan jejak panas di layar yang dingin, sementara di benaknya, daftar pencapaian temannya terus berputar layaknya kaset usang yang memutar lagu insecuritas.

Setiap kali membuka aplikasi hijau itu, rasanya seperti membuka galeri pameran prestasi dan kebahagiaan semua orang. Bukan sekadar melihat notifikasi biasa, tapi sebuah ritual mencekam dimana ia selalu sukarela menghadiri sebuah pesta yang sebenarnya tak pernah ia hadiri.

Layar ponselnya menampilkan rentetan foto resolusi tinggi: liburan mewah, sertifikasi penghargaan, mobil baru, tawa lepas di kafe estetik, dan janji suci di pelaminan. Konten-konten itu berjalan cepat, menayangkan versi terbaik dari setiap kehidupan.

Arlan disudut kamarnya yang remang, hanya bisa merasa seperti penonton yang terisolasi di barisan belakang. Ia bukan sekedar mencari informasi, tapi ia sedang mencari perbandingan, dan perbandingan itu selalu berakhir sama, kekalahan telak.

“Lihat teman kameranya bagus…”

“Lihat teman ngeditnya bagus…”

“Lihat teman bisa baca kitab kuning…”

“Lihat teman mutqin 30 juz…”

“Lihat teman jago main ML…”

Arlan hanya bisa menghela napas, bibirnya membentuk garis tipis. Ia sudah merangkai meme kucing menangis itu dengan rapi, label “MY KISAH” tertempel di setiap bingkai. Itu adalah cara Arlan menertawakan kemalangannya sendiri, sebuah mekanisme pertahanan yang pahit.

Ia merasa dikepung. Teman-temannya di media sosial seolah-olah berlari kencang di jalur kesuksesan. Sementara, Arlan merasa kakinya masih tertahan, tebelenggu oleh ketidak mampuan dan keterbatasan dana yang jauh dari kata spektakuler. Dunia digital telah menjadi panggung kesuksesan orang lain, dan ia hanya penonton bisu yang dipaksa menyaksikan setiap babak.

Kamera teman yang harganya jutaan rupiah menghasilkan foto-foto estetis yang banjir pujian. Arlan? Kameranya pecah seribu, hasilnya buram seperti masa depan.

Desain teman-teman yang rapi dan profesional langsung dilirik perusahaan. Arlan? Corel Draw-nya masih trial version, hasilnya mirip sketsa anak TK.

Bahkan hal yang dulu ia anggap hiburan, seperti Main ML (Mobile Legends), juga menjadi ajang flexing. Temannya sudah jadi pro player dengan skin langka dan squad solid. Arlan hanya player solo yang sering di-“report” karena noob.

Sampai di bingkai terakhir, ia melihat teman lain yang pamer pacar. Rasa sepi Arlan semakin menjadi-jadi. Ia bahkan tidak punya foto selfie yang layak dipamerkan, apalagi pasangan.

Semua rasa iri dan kekesalan itu mendidih menjadi satu kalimat yang ia ketik dengan cepat di bawah postingan meme-nya. Jari-jarinya menari penuh emosi diatas keyboard, menumpahkan segala frustasi yang terakumulasi. Kalimat singkat namun padat menjadi penutup pahit dari pertunjukan insecure itu:

“Ah taiklah, kalau ngga kehalang dana, dah kulibas semua hobi-hobiku buat hasilnya bantu ortu.”

Itu bukan sekedar keluh kesah; itu adalah manifesto kegagalan yang di paksakan. Arlan seoalah sedang berteriak kepada semesta, bahwa ia sebenarnya punya potensi untuk melibas semua hobinya dan mengubahnya menjadi sumber penghasilan demi membantu orang tuanya.

Namun, kata kunci itu terus menghantamnya, dana. Kata itu menjadi pengakuan menyakitkan bahwa tembok penghalangnya bukan kemalasan melainkan kurangnya dana.

Kata “taiklah” adalah ungkapan kekesalan yang meledak, representasi betapa frustrasinya ia pada keadaan. Seolah mengatakan, “Sialan! Kenapa aku harus begini?”

Ia tahu, jauh di lubuk hati, ia punya ambisi. Ia punya bakat terpendam di bidang ngedit dan desain, ia pun suka bermain game, ia ingin ngoprek komputer. Ia ingin “melibas” semua hobinya, menjadikannya skill yang menghasilkan. Bukan untuk ketenaran, tapi untuk satu tujuan mulia yang menyentuh hati yakni, membantu orang tua.

Namun, kenyataan bagai tembok tebal yang menghadang. Hobinya butuh dana. Kamera bagus, software asli, spek komputer tinggi, bahkan kuota internet yang stabil untuk push rank pun membutuhkan biaya. Dan uang itu, sayangnya, harus dialokasikan untuk kebutuhan yang jauh lebih mendesak bagi keluarganya.

Arlan mematikan layar ponselnya. Bayangan wajah orang tuanya yang bekerja keras seketika memenuhi benaknya, menyingkirkan semua rasa iri pada teman-temannya. Ia tidak peduli lagi dengan skin ML atau pacar. Yang ia pikirkan adalah, bagaimana ia bisa memangkas jarak antara ambisi dan realita.

Ia menarik napas panjang, menenangkan gejolak dari rasa iri sesaat itu, lalu ia menyentuh keyboard laptop bututnya yang berdebu. Dana memang menjadi penghalang, tapi usaha tidak butuh modal uang.

Arlan punya waktu, kemauan dan koneksi internet seadanya. Jika ia tidak bisa membeli alat-alat mahal itu sekarang, ia akan menggunakan apa yang ia miliki untuk mengumpulkan ilmu.

Tekadnya mengeras, ia harus mengubah keluh kesah menjadi tindakan, membuktikan bahwa kreativitas dan kegigihan bisa menembus dinding tebal keterbatasan ekonomi.

“Kalau nggak bisa melibas dengan uang,” bisik Arlan pada dirinya sendiri, “Aku akan melibas dengan waktu dan usaha. Aku akan pakai apa yang kupunya, sampai aku bisa membeli apa yang kuinginkan.”

Malam itu, Arlan tidak lagi membuka WhatsApp. Ia mulai mencari tutorial desain gratisan dan software ringan. Kucing menangis itu ia biarkan di galeri, sebagai pengingat. Ia mungkin insecure hari ini, tapi besok, ia bertekad untuk menciptakan cerita suksesnya sendiri, demi membalas semua peluh orang tuanya. Ia harus mengubah ‘MY KISAH’ yang menyedihkan itu menjadi ‘KISAH SUKSESKU’.

Lutfia, Mahasiswa Bahasa dan Sastra Arab 2023 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, IG: iaa.08_

Editor : Deni Iska Dian Nita

Back To Top