Pagi ini, sembari memasak aku mendapati sebuah cerita dari salah seorang tetangga kamar kosku. Seorang ibu rumah tangga asal Nusa Tenggara Barat (NTB) berusia kira-kira sepertiga abad yang sedang menempuh Strata 3 Jurusan Pendidikan Kimia di Universitas Brawijaya. Beliau seorang dosen di salah satu kampus di daerah asalnya. Kini ia merantau jauh meninggalkan suami dan dua anaknya yang masih kecil demi melanjutkan studinya.
Karena aku orangnya agak sedikit “random” dan ngga mau suasana dapur hening. Akupun memulai obrolan di sela-sela memasak tumis kubis wortel, entah apa saja topiknya. Awalnya obrolan kita santai, sampai tiba-tiba aku nyeletuk “Enak ya, Bu, kalau dapat jodoh yang kita inginkan?”
Beliau tersenyum kecil sambil berkata “Wah, jelas enak sekali, apalagi kalau visi hidupnya sama.”
Dari situ, obrolan kita mengalir lebih jauh melebar ke persoalan cinta dan jodoh. Aku penasaran, tanpa pikir panjang aku bertanya, “Kalau Ibu dulu dijodohin atau nemu sendiri?”
Beliau bilang suaminya sekarang adalah pilihan hatinya sendiri, bukan dijodohin. Tapi yang menarik, katanya dulu beliau nggak langsung cinta. Rasa itu justru tumbuh setelah menikah. “Awalnya nggak begitu cinta.” Ujarnya sambil tersenyum. “Tapi setelah menikah, baru terasa cintanya dan saya ngerasa bahwa dia adalah orang yang tepat buat saya.”
Aku langsung mikir, wah kok bisa ya? Tapi ternyata, justru itu letak indahnya.
Beliau tidak hanya bercerita sampai di situ saja, tapi menceritakan kisah awal pertemuannya dengan sang suami. Yang lucunya kisah mereka bermula dari salah telepon. Waktu itu, tiba-tiba saja ada panggilan masuk dari nomor tak dikenal. Suaranya terdengar tergesa tapi sopan. Rupanya, laki-laki itu salah menghubungi nomor yang seharusnya ia telepon. Ia menjelaskan panjang lebar bahwa sebenarnya ia hendak menghubungi rekan bisnisnya karena akan datang ke NTB dari Sulawesi akhir pekan ini. Dengan nada sungkan, ia meminta maaf berkali-kali atas kesalahannya.
Dari sinilah komunikasi di antara mereka tidak benar-benar berhenti. Awalnya sekedar basa-basi, bertanya nama, asal, hingga perlahan menjadi percakapan yang lebih panjang. Tak butuh waktu lama, hanya sekitar tiga bulan mereka ta’aruf.
Suatu hari, laki-laki itu mengajak beliau keluar untuk bermain atau sekedar bertemu setelah lama hanya berkomunikasi lewat telepon, tak pernah jumpa wujud aslinya. Satu hal yang tak terduga, saat datang ke rumah, ia justru menghadap ayah beliau. Dengan penuh hormat, ia menyampaikan niat baik meminta izin untuk meminang putri satu-satunya. Ayahnya tentu terkejut, tapi juga terharu. Dengan hati yang penuh ikhlas, ia pun memberi restunya. Sebelum kisah ini terjadi, beliau sempat mengalami pengalaman pahit dalam urusan cinta. Beliau pernah dekat dengan seseorang, bahkan sudah berpacaran dan hampir menuju tahap yang lebih serius.
Sayangnya, rencana itu kandas. Laki-laki yang dulu sempat beliau harapkan tak jadi meminangnya. Alasannya sederhana tapi menyakitkan. Orang tuanya tidak mengizinkan ia meninggalkan kampung halamannya. Padahal, ibu ini ingin tetap tinggal di NTB dan ingin dekat dengan ayahnya karena beliau merupakan anak satu-satuya. Namun, kenyataan berkata lain. Beliau harus melepas seseorang yang dulu sempat ia pikir akan menjadi suaminya.
Ayah beliau menceritakan kisah ini pada laki-laki yang datang meminang. Dengan tekad kuat tanpa ada keraguan sedikit pun, Ia tetap melanjutkan niat baiknya. Katanya ia siap meninggalkan kampung halamannya untuk bisa hidup dan menikah bersama kekasih hatinya. Kalimat sederhana itu justru menjadi titik awal cinta yang sesungguhnya.
Tak lama setelah itu, mereka pun menikah dan mulai hidup bersama. Bahkan, ibu dari laki-laki itu ikut tinggal bersama di NTB. Kini, mereka telah dikaruniai dua anak perempuan cantik.
Yang paling membuatku tertegun adalah ketika beliau menceritakan sosok suaminya.
“Dia selalu mendukung apa pun yang saya lakukan, asal itu baik dan membuat saya bahagia dia akan berdiri di samping saya.” Katanya.
Beliau juga menambahkan, meskipun pendidikan suaminya hanya sampai Strata 1 sementara dirinya kini menempuh Strata 3, hal itu tak pernah menjadi jarak di antara mereka. “Dia bukan hanya suami, tapi juga teman saya yang luar biasa”.
Aku terdiam cukup lama mendengarnya. Di tengah dunia yang sering menilai cinta dari harta, gelar, atau status sosial, kisah ibu ini terasa seperti pengingat kecil bahwa cinta sejati tidak tumbuh dari siapa yang lebih tinggi, tapi dari siapa yang bersedia berjalan searah beriringan.
Di akhir obrolan kita, beliau dengan tulus menatapku sambil berkata, “Harta bisa dicari bareng-bareng, tapi bagaimana tujuan hidup kita dan cara mencapai visi bersama itulah yang utama”.
Kalimat itu masih terngiang di kepalaku, bahkan setelah obrolan kita selesai. Tak lama kemudian, semangkuk tumis kubis wortel pun matang. Masakan sederhana yang menemani obrolan pagi itu. Tapi entah kenapa, bagiku tumisan itu terasa lebih dari sekadar masakan untuk sarapan. Ia seperti saksi kecil dari cerita cinta yang tumbuh pelan-pelan, dari perempuan yang berani menjemput takdirnya, dan dari seorang suami yang mencintai tanpa banyak kata.

Muna Ma’rudatul Aliyah, mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Arab di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Aktif di dunia organisasi dan kepenulisan. Penulis tertarik pada isu sosial, budaya, dan kebahasaan yang banyak aku tuangkan dalam tulisan opini, esai, cerpen, dan puisi. Instagram: @munamrdt
Editor : Deni Iska Dian Nita

