Sudah sekitar lima tahun saya mencoba menemani perjalanan kepemimpinan Chonie Dewiyanti dalam mengelola Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan SMP Kota Batu. Selama kurun waktu tersebut, saya melihat bahwa sosok perempuan ini bukan hanya memiliki paras wajah yang cantik, tetapi juga karakter kepemimpinan yang unik, low profile, santai, tetapi penuh isi.
Kepemimpinan beliau seringkali hadir dalam bentuk sederhana, tanpa gebyar berlebihan. Jika bicara di forum, memang terkadang terlihat menyesuaikan suasana. Saat grogi, ucapannya seolah tertahan, seperti membutuhkan energi lebih untuk keluar dengan runtut. Namun, pada suasana yang cair, kalimat-kalimatnya mengalir dengan lancar, penuh bobot, dan sarat makna. Justru dari situ saya memahami bahwa beliau adalah tipe pemimpin yang tidak memaksakan diri, tetapi mampu menempatkan diri secara tepat dan apa adanya.
Satu hal yang paling berkesan bagi saya adalah tanggung jawab yang beliau pegang sebagai modal utama kepemimpinannya. Saya teringat peristiwa beberapa tahun lalu, ketika kami sedang menyusun kisi-kisi soal ujian sekolah. Tiba-tiba beliau mendapat kabar bahwa anaknya mengalami kecelakaan. Dugaan saya, ia pasti akan langsung bergegas meninggalkan rapat dan memprioritaskan keluarganya. Namun yang terjadi berbeda. Bu Chonie tetap tenang, fokus, dan menyelesaikan tugasnya terlebih dahulu. Setelah selesai, barulah ia menyampaikan kabar itu dan memohon izin untuk menjenguk anaknya.
Sikap itu meninggalkan kesan mendalam bagi saya. Bukan berarti ia cuek terhadap anaknya. Saya yakin di balik ketenangan itu ada gejolak hati seorang ibu yang khawatir. Namun, beliau sedang mengalami dilema moral. Memilih antara tanggung jawab profesional dan panggilan hati seorang ibu. Pilihan yang ia ambil menunjukkan bagaimana manajemen hati dan pikirannya sudah terlatih sesuai aturan moral sekaligus konsekuensi profesi guru. Tidak semua orang mampu melakukannya.
Kontras dengan pengalaman saya melihat sebagian rekan lain yang kerap meninggalkan kelas atau kegiatan sekolah hanya karena urusan pribadi yang sebenarnya tidak mendesak, sikap Bu Chonie justru menunjukkan kedewasaan dan integritas seorang pendidik. Baginya, profesi guru bukan sekadar pekerjaan, tetapi panggilan yang menuntut konsistensi sikap dan pengorbanan.
Pada saat mengakhiri masa jabatannya sebagai Ketua MGMP, beliau menyampaikan satu kalimat reflektif yang melekat di ingatan saya: “Guru dalam bahasa Sansekerta berarti berat.” Kalimat itu sederhana, tetapi mengandung makna mendalam. Ya, memang seberat itu tanggung jawab seorang guru. Guru tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga mendidik hati. Tidak heran jika ada yang mengatakan bahwa negara sering merasa terbebani oleh guru, sebab sejatinya beban guru memang berat.
Dari Bu Chonie saya belajar, bahwa kepemimpinan tidak harus selalu lantang, penuh sorotan, atau ditandai dengan keputusan besar. Kadang, kepemimpinan justru tampak dari pilihan-pilihan kecil yang diambil dengan penuh kesadaran akan keharusan. Ia adalah pemimpin yang hadir dalam keseharian, seorang ibu yang tetap manusiawi, dan guru yang benar-benar menghidupi makna profesinya.
Eri Hendro Kusuma
Guru, Penulis, dan Pegiat Literasi

