Eri Hendro Kusuma Budayawan

Berdamai dengan Label Bapak-Bapak

Spread the love

Beberapa waktu yang lalu, saya mendampingi murid-murid SMPN Satu Atap Pesanggrahan 2 Batu melaksanakan upacara peringatan HUT RI ke-80 di puncak Gunung Bokong. Gunung dengan ketinggian 1.746 mdpl ini mungkin tidak terlalu tinggi dibanding gunung-gunung lain di Jawa Timur, tetapi bagi saya, yang jarang berolahraga, langkah demi langkah terasa berat. Meski begitu, ada kebanggaan tersendiri ketika akhirnya bisa menapakkan kaki di puncak. Prestasi sederhana, tapi cukup untuk saya sematkan medali kecil dalam hati.

Saat itu suasana pendakian terasa seperti jalan-jalan di mall atau alun-alun, yang ramai orang. Bedanya di pendakian gunung ini setiap orang lebih hangat. Saling menyapa, saling memberi jalan, bahkan sekadar berhenti untuk mengatur napas sambil berbagi senyum. Ada rasa persaudaraan yang tumbuh alami, tanpa perlu perkenalan panjang. Setiap tegur sapa di jalan setapak itu seperti energi tambahan yang memberi semangat melangkah untuk mencapai puncak.

Namun, di balik keramaian itu, saya justru banyak merenung. Bukan tentang perayaan kemerdekaan negara yang sedang sakit ini, melainkan tentang diri saya sendiri. Selama perjalanan, telinga saya dipenuhi sapaan yang seragam: “Semangat, Pak!”, “Hati-hati, Pak!”, “Sedikit lagi, Pak!”, atau “Permisi, Pak!” Semua orang seakan sepakat memberi label yang sama pada saya, “Bapak”.

Padahal, dalam hati kecil saya, saya masih merasa muda. Benar bahwa saya sudah punya dua anak dan setiap hari murid-murid saya memanggil saya Bapak. Tetapi selama ini panggilan itu saya anggap sebatas formalitas. Saya masih menganggap diri saya pemuda, dengan semangat dan jiwa yang sama seperti belasan tahun lalu. Panggilan “Bapak” di gunung ini seperti mengetuk kesadaran yang selama ini saya abaikan.

Langkah demi langkah dengan lutut yang terasa goyah membuat saya sadar bahwa tubuh ini tidak bisa berbohong. Usia memang tidak bisa ditawar. Sapaan “Bapak” yang terus menggema di sepanjang perjalanan bukan hanya sekadar panggilan hormat, tetapi juga penanda bahwa saya sedang menapaki fase hidup yang berbeda. Di titik itu, saya belajar untuk berdamai dengan kenyataan.

Puncak Gunung Bokong bukan hanya tempat melaksanakan upacara pengibaran bendera, melainkan juga titik di mana saya mengibarkan kesadaran baru. Saya tak bisa lagi terus bersembunyi di balik jiwa muda, meski semangat itu tetap penting untuk dijaga.

Akhirnya, perjalanan ini memberi saya hadiah yang lebih berharga daripada sekadar foto di puncak. Saya mungkin tidak lagi muda, tetapi menjadi Bapak adalah sebuah keharusan pada masanya. Satu lagi, selama pendakian ini saya juga belajar bahwa setiap langkah menuju puncak hidup memang selalu lebih ringan jika dijalani dengan hati yang rela menerima.

Eri Hendro Kusuma,
Penulis dan Pegiat Literasi

Back To Top