Apakah Saya Sudah Merdeka?

Spread the love

Bagi sebagian orang, merdeka mungkin berarti bebas bepergian, bebas mengambil keputusan, atau bebas menentukan jalan hidup. Namun bagi saya, seorang ibu dengan dua anak laki-laki berusia 12 dan 3 tahun sekaligus pekerja, makna merdeka justru terasa lebih sederhana sekaligus lebih dalam.

Saya adalah seorang guru, dan tinggal berjauhan dari suami. Praktis, sebagian besar hari-hari saya dijalani bersama anak-anak. Ada tanggung jawab mengajar di sekolah, lalu pulang disambut dengan dunia yang sama sekali berbeda. Satu anak yang mulai beranjak remaja dengan dunianya yang penuh rasa ingin tahu, dan satu lagi balita yang sedang asyik belajar mengenal dunia dengan cara-cara yang lucu sekaligus menguras energi.

Di tengah ritme hidup seperti ini, saya menemukan arti merdeka bukan pada bebas dari tanggung jawab, melainkan pada kemampuan untuk berdamai dengan peran-peran yang saya jalani.

Merdeka bagi saya berarti bisa hadir sepenuhnya untuk anak-anak, meski lelah kadang tak bisa ditolak. Bukan soal memberi mereka segalanya, tapi memastikan mereka merasa dicintai dan didengar. Untuk si sulung, merdeka adalah mampu menyediakan telinga yang mau mendengar ceritanya. Cerita tentang sekolah, teman, pemberitaan yang sedang viral, atau tentang hobi barunya. Untuk si bungsu, merdeka adalah bisa ikut tertawa saat ia berulah dan berimajinasi lucu. Meski kadang menjengkelkan, tapi sangat menggemaskan.

Sebagai seorang ibu yang bekerja, tentu ada hari-hari ketika tubuh begitu lelah. Namun saya belajar, merdeka juga berarti tidak harus selalu tampak kuat. Saya boleh mengakui letih, boleh meminta bantuan saat tidak mampu, dan anak-anak juga boleh tahu hal itu. Karena sejatinya, anak-anak juga belajar bahwa manusiawi itu wajar.

Suami saya memang jauh di daerah lain, tapi bukan berarti kami kehilangan ikatan. Merdeka bagi saya adalah menemukan cara agar kasih sayang tetap hadir meski ada jarak. lewat panggilan video, lewat cerita tentang ayah, atau lewat doa yang saya titipkan setiap malam untuk keluarga kami.

Ada kalanya saya bertanya, apakah saya cukup baik sebagai ibu? Apakah saya bisa menjadi guru yang bijak di sekolah? Apakah saya sudah menjadi anak yang berbakti pada orang tua? Atau bagaimana peran saya sebagai istri? Namun perlahan saya belajar, merdeka adalah berhenti membandingkan diri dengan orang lain dan mulai mensyukuri apa yang ada. Karena setiap pelukan anak, setiap senyum dan kabar baik dari keluarga, adalah pengingat bahwa saya sedang berjalan di jalur yang benar.

Bagi saya, merdeka bukan tentang bebas dari kewajiban. Merdeka adalah menerima hidup dengan segala dinamikanya, menjalani peran dengan sepenuh hati, dan tetap menemukan kebahagiaan di antara kelelahan.

Deni Iska Dian Nita
Guru dan Wakil Pemimpin Redaksi setitik.id

Back To Top