Eri Hendro Kusuma Budayawan

Karnaval: Siapa yang Sebenarnya Butuh Hiburan?

Spread the love

Kemarin saya menyaksikan sebuah karnaval bersama anak dan istri saya. Biasanya, saya termasuk orang yang enggan datang ke acara semacam itu, karena menurut saya karnaval sering hanya berisi tontonan yang itu-itu saja. Namun kali ini berbeda, sebab anak pertama saya ikut mewakili sekolahnya. Saya pun harus menjemputnya setelah ia menyelesaikan penampilan di garis finis.

Karena suasana masih cukup lengang, saya dan istri memutuskan mencari tempat duduk di depan panggung penghormatan, lokasi yang menjadi puncak atraksi bagi para peserta karnaval. Di atas panggung itu sudah duduk berbagai pimpinan daerah setempat, lengkap dengan tata wibawa dan penghormatannya.

Sejujurnya, ketika ada acara semacam ini perhatian saya lebih banyak tertuju pada aktivitas sekitar lokasi daripada pesertanya. Bagi saya penampilan peserta terasa monoton. Mulai dari pakaian seragam, joget, dan barisan yang serupa dari tahun ke tahun bahkan dari tempat ke tempat.

Para penontonlah yang justru memperlihatkan keragaman yang menarik pandangan saya. Ada penonton yang datang dengan bekal makanan seperti hendak piknik. Ada pula yang dengan cermat menyiapkan perlengkapan duduk, bahkan tenda kecil layaknya sedang berkemah di tepi jalan. Mereka terlihat santai, menikmati suasana di tengah terik matahari.

Tak kalah menarik, bagi saya adalah para penjual asongan yang dengan sabar menawarkan dagangan berulangkali mulai dari jajanan tradisional, minuman segar, hingga mainan anak-anak. Kehidupan kecil yang tumbuh di sela-sela acara besar ini, bagi saya justru menyuguhkan dinamika yang tidak kalah menghibur dibandingkan karnaval itu sendiri.

Namun di balik semua tontonan itu, saya merenung — anda-anda jangan bertanya kenapa saya selalu sering merenung dalam setiap tulisan saya, karena saya sendiri juga bingung dengan diri saya mengapa suka merenungi hal-hal yang receh ini. Sesungguhnya saya sedang bertanya, hiburan ini ditujukan untuk siapa? Apakah untuk masyarakat yang berjajar di sepanjang jalan? Ataukah untuk pejabat yang duduk di panggung penghormatan? Walaupun sepanjang jalan peserta sudah menampilkan atraksi mereka, nyatanya puncak penampilan selalu diarahkan ke panggung kehormatan. Seakan-akan inti dari pertunjukan ini bukanlah untuk rakyat yang berpanas-panasan menonton, melainkan untuk para pejabat yang sudah duduk nyaman di kursi kehormatan.

Memang ironis rasanya. Rakyat yang sebenarnya sedang menghadapi berbagai kesusahan justru masih sanggup menghibur pejabatnya. Mereka berlatih, berkorban waktu, tenaga, bahkan materi demi bisa tampil dalam karnaval. Sementara di media sosial, kita sering mendengar keluh kesah yang lahir dari dampak kebijakan para pejabat itu sendiri. Di dunia nyata, rakyat yang sedang tidak baik-baik saja ini malah menjadi penghibur bagi “mereka”. Sebuah ironi yang terkadang sulit saya terima melalui akal sehat.

Padahal, bukannya yang membutuhkan hiburan adalah rakyat. Mereka yang hidup dalam tekanan ekonomi, yang bergelut dengan harga kebutuhan sehari-hari, yang masih mencari ruang bahagia di tengah kesulitan hidup. Tapi kenyataan di lapangan menunjukkan hal sebaliknya, rakyatlah yang menghibur pejabatnya, bukan pejabat yang menghibur rakyat. Karnaval yang mestinya menjadi ruang kegembiraan rakyat, justru lebih terasa sebagai panggung pertunjukan bagi mereka yang berkuasa.

Renungan itu terus terbawa hingga saya pulang ke rumah. Saya sadar, masyarakat kita sering kali terlalu kuat dalam menanggung beban dan terlalu tulus dalam memberi hiburan, bahkan ketika yang dihibur bukanlah dirinya sendiri.

Mungkin inilah wajah dari ironi negeri ini, rakyat yang sabar, kreatif, dan penuh daya tahan, tapi sering kali posisinya hanya sebagai penghibur, bukan penerima hiburan.

Eri Hendro Kusuma
Penulis dan Pegiat Literasi

Back To Top