Spread the love

Beberapa pekan terakhir terasa seperti melewati jalan terjal yang tidak ada ujungnya. Jadwal yang biasanya bisa diatur dengan ritme tertentu mendadak menjadi amburadul, berantakan, dan saling bertabrakan.

Bulan kemarin mungkin menjadi bulan paling kacau dalam setahun terakhir. Semua tugas muncul hampir bersamaan, semua pekerjaan dan tugas harus diselesaikan dalam waktu yang sangat berdekatan. Dalam kekacauan itu, saya menyadari bahwa barangkali ini adalah babak untuk beradaptasi. Fase yang menuntut saya untuk kembali mengatur ulang skala prioritas. Pada titik ini, memilih mana yang harus didahulukan bukan lagi soal kemauan, melainkan keharusan.

Komitmen untuk menulis mingguan yang biasanya menjadi ruang refleksi pun ikut terjeda. Sekitar empat pekan terakhir, rasanya sangat berat untuk memulai. Bukan berarti tidak ada waktu sama sekali, tetapi energi yang tersisa seolah tidak cukup untuk merangkai kata. Saya paham bahwa tidak menulis bukan alasan yang tepat, karena kesibukan seharusnya tidak memutus rutinitas yang sudah dibangun. Namun mau tidak mau, itu yang terjadi. Kanal ini akhirnya harus berhenti sejenak, memberi ruang bagi diri untuk mengatur napas di tengah padatnya tuntutan.

Agenda untuk mengedit dan mempublikasikan karya tulis dari para sahabat di setitik.id pun ikut tertunda. Ada rasa bersalah yang sempat muncul, tetapi di saat yang sama saya belajar untuk menerima bahwa jeda bukanlah kegagalan.

Jeda adalah bagian dari perjalanan. Ia mengingatkan bahwa manusia tidak harus selalu bergerak cepat; terkadang berhenti adalah cara agar bisa kembali melangkah dengan arah yang lebih jelas.

Di tengah semua kekacauan ini, terselip sebuah tekad yang ingin saya bawa sebagai resolusi tahun depan: mengelola waktu dengan lebih bijak dan menjaga komitmen sekalipun kondisi sedang tidak ideal.

Mengawali kembali rutinitas yang sempat terputus memang berat. Namun, seperti langkah pertama setelah tersandung, yang penting adalah bangkit dan bergerak lagi. Tidak harus sempurna, yang penting dimulai.

Pada akhirnya, jalan berat untuk memulai bukanlah tentang seberapa besar hambatannya, melainkan seberapa kuat niat untuk melampauinya. Dan hari ini, dengan semua ketidaksempurnaan yang ada, saya memilih untuk kembali memulai. Pelan, tetapi pasti. Semoga..

Eri Hendro Kusuma
Pemimpin Redaksi Setitik.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top