Dalam perjalanan berangkat menuju kegiatan tahlil malam itu, jalanan yang rusak dan gelap justru menjadi ruang refleksi sederhana. Di atas “motor perjuangan”, percakapan dengan seorang sahabat membawa saya pada renungan tentang diri.
Kami membicarakan banyak hal — cita-cita, rencana, bahkan keinginan-keinginan yang belum tentu bisa kami gapai dalam waktu dekat. Di sela percakapan itu, sahabat saya berkata pelan tapi dalam maknanya, “Awak e dewe ancen lahire Wage bro, jadi angen-angen e gedhe.” Kalimat itu sederhana, tapi menancap seperti nasihat lama yang harus segera kita sadari.
Memang, saya sering merasa seolah semua hal bisa saya kerjakan sendiri. Ada begitu banyak ide dan keinginan yang ingin diwujudkan: membuat sesuatu yang bermanfaat, mencapai ini dan itu. Namun, pada akhirnya, saya sering kali berhenti di tengah jalan, kelelahan oleh beban pikiran sendiri. Bukan karena tidak mampu, tetapi karena terlalu banyak arah yang ingin dituju. Di titik itu, saya sadar bahwa memiliki banyak mimpi bukan masalah, tapi melupakan batas diri adalah sebuah kesalahan.
Lahir Wage — dalam budaya Jawa sering dikaitkan dengan sifat penuh angan, banyak cita-cita, dan kadang sulit fokus pada satu hal. Entah benar atau tidak, tapi saya merasa begitu adanya. Ada gairah yang besar dalam setiap rencana, tapi kadang tidak diimbangi dengan kesabaran dalam proses. Saya ingin cepat, ingin banyak, ingin sempurna. Padahal alam saja perlu proses untuk mencapai porsinya.
Malam itu, di antara aroma tanah basah dan suara jangkrik, saya mulai merenungi bagaimana manusia sering terjebak oleh ambisinya sendiri. Kita berlari tanpa arah, mengira semua yang kita pikirkan harus diwujudkan segera. Padahal, Tuhan tidak menuntut semua angan untuk menjadi nyata. Ia hanya meminta kita untuk berusaha dengan kesadaran dan keikhlasan.
Tidak semua yang bisa dibayangkan harus dikejar bersamaan. Ada fase di mana kita perlu berhenti sejenak, menata ulang arah, dan bertanya: apakah semua yang kita inginkan benar-benar kita butuhkan? Ataukah hanya keinginan untuk diakui bahwa kita mampu?
Saya mulai belajar bahwa hidup bukan tentang seberapa banyak hal yang bisa saya capai, tetapi seberapa dalam saya memahami makna dari setiap langkah kecil yang saya ambil. Mungkin benar, saya lahir Wage — penuh angan dan rencana besar. Tapi kini saya tahu, angan-angan itu harus diberi ruang untuk tumbuh perlahan, tidak dipaksa mekar sekaligus. Seperti benih yang butuh waktu, mimpi pun memerlukan kesabaran untuk berbuah.
Akhirnya, dari obrolan singkat di jalan, saya belajar tentang keseimbangan antara mimpi dan kenyataan, antara ingin dan mampu, antara angan dan ikhlas. Mungkin itulah makna sejati dari lahir Wage: bukan sekadar takdir hari kelahiran, melainkan pengingat agar setiap impian besar selalu dibarengi dengan kesadaran kecil bahwa manusia, betapapun hebatnya, tetaplah terbatas.
Eri Hendro Kusuma, tinggal di Kota Batu Jawa Timur

