Di lingkungan kerja, kita sering menjumpai orang-orang yang ringan dalam memberi nasihat, terutama jika dikaitkan dengan nilai-nilai spiritual. “Kerja itu ibadah”, “Sabar ya, semua ini pahala”, atau “Niatkan karena Allah”, adalah kalimat-kalimat yang sering muncul saat seseorang melihat temannya kelelahan atau dibebani tugas. Namun, anehnya, orang yang paling sering melontarkan kalimat itu justru terkadang yang paling cepat mengeluh saat ia sendiri mendapat bagian pekerjaan.
Fenomena ini bukan hal baru. Di satu sisi, mengaitkan kerja dengan nilai ibadah memang baik, karena itu bisa menjadi penguat mental dan spiritual. Namun, menjadi masalah ketika nilai itu hanya dijadikan tameng saat menasihati orang lain, tapi tak diinternalisasi ketika dirinya yang berada di posisi sulit. Seolah-olah, ibadah hanya berlaku untuk orang lain yang bekerja keras, bukan untuk dirinya sendiri.
Bekerja adalah fitrah manusia. Bahkan dalam kitab-kitab suci, bekerja adalah bagian dari pengabdian. Maka bekerja dengan profesionalisme dan tanggung jawab mestinya tidak perlu lagi dibalut dengan kalimat motivasi setiap saat. Jika kita sudah memahami bahwa bekerja adalah bentuk ibadah, maka mestinya kita tidak perlu memilih-milih beban kerja yang datang. Tidak ada ibadah yang ditawar-tawar, apalagi dipilah mana yang menyenangkan dan mana yang tidak.
Sungguh ironis saat seseorang begitu rajin mengingatkan orang lain untuk ikhlas dan kuat dalam pekerjaan, tapi ketika namanya muncul dalam daftar tugas tambahan, ia buru-buru menghindar atau menunjukkan wajah enggan. Lalu di mana nilai ibadah yang tadi ia gaungkan? Apakah ibadah hanya berlaku ketika melihat orang lain yang lelah, bukan saat dirinya harus bergerak?
Saya bukan sedang menyalahkan orang yang suka memberi motivasi, itu bagus. Tapi saya sedang menuntut adanya konsistensi, kejujuran, dan profesionalisme dalam bekerja. Jika kita ingin membawa nilai ibadah dalam ruang kerja, maka mari lakukan itu dengan penuh tanggung jawab, bukan sekadar basa-basi atau hiasan lisan. Karena pada akhirnya, kerja ya kerja. Tidak semua harus dipoles dengan kalimat penghibur yang hanya digunakan saat posisi kita sedang enak.
Di sisi lain, saya sedang mencoba menata sistem kerja yang lebih baik. Bukan hanya agar pekerjaan menjadi lebih ringan, tapi juga lebih adil. Distribusi tugas yang jelas akan membuat semua orang tahu perannya. Tidak ada yang terlalu santai, dan tidak ada yang terbebani. Kalau setiap orang memahami porsi kerjanya, maka semua akan berjalan selaras. Tidak perlu lagi saling menasehati dengan dalih ibadah yang hanya separuh diterapkan.
Mari berhenti menjadikan kata-kata manis sebagai pengganti tanggung jawab. Ibadah itu bukan tentang ucapan, tapi tentang tindakan
Eri Hendro Kusuma,
Penulis dan Pegiat Literasi

