Mengelola Mental Health Lewat Hal-Hal Sederhana yang Sering Terlupa

Spread the love

Kesehatan mental (mental health) merupakan hal penting dalam kehidupan manusia yang sering kali diabaikan. Dalam era yang serba cepat dan penuh tekanan seperti saat ini, banyak di antara kita merasa cemas, tertekan, bahkan merasa kehilangan arah. Namun, salah satu cara yang cukup efektif untuk mengurangi rasa cemas yang berlebihan adalah dengan berlatih fokus pada hal-hal yang bisa kita kendalikan. Ada beberapa hal dalam hidup ini yang sebenarnya bisa menjadi titik balik untuk memperbaiki keadaan mental jika kita bisa menyadarinya dan mengelolanya dengan bijak.

Pertama, kegiatan yang kita lakukan di waktu luang sangat memengaruhi kesehatan mental kita. Ketika kita memutuskan untuk mengisi waktu dengan aktivitas yang positif seperti membaca, berolahraga ringan, menulis jurnal, atau sekadar duduk bersantai sambil minum teh, itu bisa memberi efek menenangkan pikiran.

Di sisi lain, jika waktu luang kita habiskan untuk scrolling media sosial tanpa tujuan yang jelas atau membandingkan diri kita dengan orang lain, justru rasa cemas bisa makin meningkat. Maka dari itu, penting untuk kita tahu bahwa arah hidup yang kita inginkan, mau santai atau mengejar impian, semuanya bisa dimulai dari bagaimana kita memanfaatkan waktu senggang kita.

Kedua, dengan siapa kita menghabiskan waktu? Lingkungan sosial juga sangat berpengaruh terhadap ketenangan pikiran kita. Meskipun kita tidak bisa memilih keluarga tempat kita lahir, tapi kita masih memiliki kebebasan untuk memilih dengan siapa kita menghabiskan waktu.

Berada di sekitar orang-orang yang dapat memberikan dukungan, dapat dipercaya, dan saling memberi semangat dapat membuat kita merasa lebih aman dan diterima. Di sinilah pentingnya menetapkan batasan atau boundaries. Jangan ragu untuk berkata tidak pada hubungan yang merugikan atau melelahkan secara mental. Menghargai diri sendiri juga berarti berani menentukan siapa yang berhak berada di dalam lingkaran terdekat kita.

Ketiga, cara kita berbicara, baik kepada orang lain maupun kepada diri sendiri, merupakan hal penting yang kerap terabaikan. Kata-kata itu memiliki kekuatan yang besar. Perkataan yang kita ucapkan bisa menyakiti, tetapi juga bisa memberikan manfaat.

Kebiasaan berkata-kata positif bukan berarti kita harus memaksakan diri untuk selalu merasa “bahagia”, tetapi lebih kepada membiasakan diri untuk memiliki sikap yang optimis dan tidak merendahkan diri sendiri. Mengucapkan afirmasi positif seperti “aku sedang belajar” atau “aku cukup” bisa memiliki pengaruh yang besar terhadap ketenangan batin.

Keempat, cara kita merawat diri sendiri.
Mendapatkan tidur yang cukup, makan makanan yang bernutrisi, bergerak secara aktif, dan meluangkan waktu untuk sekadar beristirahat bukanlah bentuk kemewahan melainkan kebutuhan. Merawat diri bukan hanya soal skincare atau me time, tetapi juga soal mengenali batas kemampuan diri dan memberi ruang untuk pulih ketika merasa lelah.

Kelima, sikap kita terhadap sesuatu. Dunia tidak akan selalu berjalan sesuai dengan keinginan kita. Terkadang, Orang lain bisa berperilaku tidak menyenangkan; keadaan bisa saja berubah tiba-tiba. Namun satu hal yang selalu berada dalam kendali kita adalah respons yang kita ambil. Alih-alih bersikap reaktif, kita dapat belajar untuk menjadi lebih reflektif. Ambil nafas sejenak sebelum merespons, dan pilihlah untuk bersikap tenang meskipun dalam situasi yang kurang ideal.

Dengan menyadari lima hal ini, kita bisa perlahan-lahan membangun ketenangan batin. Kecemasan mungkin tidak dapat dihilangkan sepenuhnya, tetapi dapat dikelola. Dan kunci pada pengelolaan itu berada pada kita sendiri, bukan pada orang lain.

Afida Putri Fatimatus Zahro, tinggal di Durenan, Trenggalek, Jawa timur. Saat ini kuliah di Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung. IG: @afidaaput_

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top