Antara Restu dan Harapan yang Belum Ada Jawaban

Spread the love

Saya bisa dibilang beruntung. Tetapi di sisi lain, saya masih sering merasa belum benar-benar beruntung mendapatkan apa yang saya mau. Mengawali semua ini terasa sangat begitu membingungkan.

Di saat orang lain sudah memiliki tujuan yang jelas, tahu harus melakukan apa, serta kemana melangkah selanjutnya, saya justru terdiam dan bertanya-tanya apa benar saya akan terus menjadi seperti ini? Terlebih saya harus seringkali menjawab berbagai pertanyaan dari orang lain seperti, “Kenapa tidak melanjutkan kuliah?”, “Kenapa tidak masuk universitas seperti yang lain?”

Sejujurnya, saya pun tak tahu pasti apa jawabannya. Sekadar mengatakan “tidak diizinkan orang tua” rasanya belum cukup untuk menjelaskan semuanya. Terutama ketika saya sendiri juga belum mengerti alasan sebenarnya. Setiap kali pertanyaan itu muncul, saya hanya bisa diam. Bukan karena tak ingin menjawab, tapi karena jawabannya pun kabur dalam pikiran saya sendiri.

Sebenarnya ada kesan iri melihat teman-teman yang sedang proses melanjutkan pendidikan ke universitas impian mereka. Saya iri melihat mereka punya arah, tujuan, dan harapan yang nyata. Sementara saya di sini masih bingung mencari sebuah jawaban akan harapan. Bermain-main dengan waktu, tapi dalam hati terus bertanya-tanya, saya mau jadi apa?

Namun, dari semua kegelisahan itu, saya tahu satu hal bahwa salah satu bagian dari cerita panjang ini sudah rampung ditulis.

Saya telah melewati jalan yang tidak mudah. Jalan yang dipenuhi rasa senang, cinta, marah, bahkan kecewa. Ini bukan cerita terbaik. Tapi, cukup. Ya, cukup untuk jadi bekal tumbuh.

Saya tumbuh dan belajar banyak di dalamnya. Belajar untuk tahu dan mengerti. Belajar bahwa kegagalan bukan akhir, tapi bagian dari perjalanan menuju keberhasilan. Belajar untuk tidak larut dalam omongan orang yang bahkan tak tahu apa-apa soal kisah hidup saya. Belajar untuk terus berusaha dalam setiap mimpi yang saya punya. Belajar bahwa esok bisa lebih baik dari kemarin. Keyakinan itu akan terawat asal tetap mau melangkah.

Saya tahu, hidup tidak seperti keinginan. Tapi hidup ini tetap berjalan, dan saya masih di sini. Belum menyerah. Belum selesai. Mungkin belum beruntung hari ini, tapi siapa tahu besok? Karena hari ini pun, meski tak sempurna, cukup untuk menjadi bagian dari cerita besar bernama harapan. Tidak perlu lebih hebat dari orang lain, cukup lebih hebat dari diri kita kemarin, tetap jadi baik meskipun bukan terbaik.

Karina Vironika, tinggal di Kaki Gunung Panderman Kota Batu Jawa Timur.

Back To Top