Pak Romelan: Pemimpin Tanpa Sekat

Spread the love

Pak Romelan bukanlah sosok kepala sekolah seperti dalam bayangan umum. Saya mengenalnya saat beliau menjabat sebagai Kepala SMK Shalahuddin 2 Malang, pada masa-masa awal saya menjadi guru muda. Saat itu, pola pikir saya tentang kepala sekolah adalah sosok yang selalu menjaga citra, bicara dengan penuh wibawa, dan menjaga jarak dengan guru maupun siswa. Tapi pertemuan dengan Pak Rom benar-benar membongkar semua itu. Ia hadir sebagai sosok yang jauh dari citra formal—lebih menyerupai seorang sahabat yang kebetulan diberi amanah memimpin.

Keunikan Pak Rom terlihat dari kesehariannya. Ia tak segan menyapu halaman, membuatkan minum guru-guru, mengangkat kursi, atau bahkan menjadi tukang dadakan jika ada yang harus dibenahi. Dalam sebuah kegiatan siswa di villa, saya mendapati beliau tidur begitu saja di lantai, tanpa alas, menyatu bersama siswa dan guru lain. Tidak ada batas, tidak ada sekat antara pemimpin dan yang dipimpin. Saat itulah saya sadar: wibawa tidak harus dibangun dari jarak, melainkan dari ketulusan dan kedekatan.

Yang membuatnya semakin istimewa adalah konsistensinya. Di saat budaya pencitraan belum ramai, dan media sosial belum menjadi panggung popularitas, Pak Rom sudah melakukan semua itu—tanpa kamera, tanpa penonton. Sikapnya murni dari keyakinan bahwa pemimpin harus menjadi bagian dari mereka yang dipimpin, bukan menara gading yang hanya memerintah dari atas.

Gaya hidupnya yang “egaliter” membuatnya mudah diterima siapa saja. Meski usianya sudah lebih dari 55 tahun, ia bisa bercengkerama akrab dengan siswa, berdiskusi hangat dengan guru muda, hingga berseloroh dengan tukang kebun sekolah. Kehadirannya seperti jembatan yang meruntuhkan sekat antar generasi. Tak ada rasa canggung ketika berdiskusi dengannya, karena ia menciptakan ruang yang setara untuk semua.

“Salam semangat!” begitu sapaan khasnya yang selalu mengalirkan energi. Dalam setiap pertemuan, beliau bukan hanya hadir secara fisik, tapi juga membakar semangat melalui kata-kata yang menggugah. Ia sering mengingatkan bahwa hidup adalah “perjuangan”, dan kita semua sedang menapaki jalur juang masing-masing. Visi hidupnya sederhana tapi dalam: “berjuang dan menghidupkan perjuangan itu sendiri dalam keseharian”.

Pak Rom sempat kembali menjadi guru setelah adanya merger di lembaga pendidikan. Tapi semangat kepemimpinannya tidak pernah surut. Ia tetap menjadi teladan, tetap menyalakan semangat, dan tetap berjalan bersama mereka yang dipimpin.

Sosok seperti Pak Rom adalah oase dalam dunia pendidikan yang kadang kering oleh formalitas dan birokrasi. Ia membuktikan bahwa pendidikan adalah tentang hubungan, keteladanan, dan kesediaan untuk “turun ke tanah”. Ia hadir bukan untuk sekadar memberi perintah, tapi untuk menunjukkan langsung bagaimana seharusnya guru dan pemimpin bekerja.

Kini, Pak Rom kembali mendapat amanah sebagai Kepala SMK Shalahuddin Malang. Semoga semangat Pak Rom terus menjadi inspirasi. Di tengah dunia yang kadang terlalu sibuk menjaga citra, beliau hadir sebagai pengingat bahwa menjadi pemimpin sejati adalah tentang keberanian untuk meruntuhkan sekat, hidup dalam kesederhanaan, dan menyalakan semangat juang dalam hati siapa saja yang berjumpa dengannya.

Eri Hendro Kusuma
Penulis dan Pegiat Literasi

Back To Top