Keluarga yang religius. Mungkin begitulah orang lain membranding keluargaku. Ya, hampir semua keturunan dari keluarga besarku adalah anak pondokan. Termasuk orangtuaku juga merupakan alumni santri pondok pesantren. Lalu bagaimana dengan aku? Saat ini aku bersekolah di sekolah umum negeri. Aku berbeda dengan saudara-saudaraku yang lain.
Namaku Difa, walaupun aku berbeda dari saudaraku, orang tuaku selalu mensupport agar aku bisa menjadi pribadi yang lebih baik dan mempunyai tujuan hidup yang sangat ku inginkan. Kadang sih masih banyak orang bertanya-tanya
“Kenapa, sih, kamu gak mondok aja?”, perkataan itu membuatku kepikiran dan aku memutuskan untuk menceritakannya ke Ibuku.
“Buk, kenapa, sih, aku selalu ditanya tanya kenapa gak mondok?”
Ibuku menjawab, “Gak apa-apa kamu gak mondok seperti saudaramu asal kamu harus mengerti adab dan sopan santun aja ibu udah senang.”
Setelah mendengar omongan Ibuku, aku mulai sadar kalau berbeda itu memiliki sisi baik. Aku tidak insecure.
Setelah dipikir-pikir aku masih bingung akan melanjutkan kemana antara mondok atau sekolah umum. Aku sangat menginginkan sekolah umum seperti SMK, di sekolah itu ada salah satu jurusan yang sangat ingin aku gapai walaupun prosesnya susah. Tapi aku tak mau menyerah. Setelah itu aku bercerita ke orang tuaku. Aku sangat semangat saat akan menceritakannya.
“Buk, kira-kira Ibuk setuju kalau aku sekolah umum seperti SMK?”
Ibuku menjawab, “SMK mana sih yang kamu pengenin itu?
Aku menyebutkan nama sekolahnya dan ternyata ekspetasi ku terlalu tinggi. Tiba-tiba Kakak sepupuku datang sambil menanyakan “Lagi ngapain ini?”
Aku menjawab “Lagi ngomongin sekolah kedepannya, kira-kira enak mondok atau sekolah biasa?”
Sepupuku menjawab “Ya itu, sih, terserah kamu mau sekolah dimana daripada bingung mending di sekolahku aja” jawab sepupuku sambil tertawa kecil.
Tak lama setelah itu Ibuku mendatangiku ke kamar. Aku kaget karena itu sudah malam.
Ibuku langsung menanyaiku, “Jadi kamu mau sekolah dimana?
Aku menjawabnya dengan mata mengantuk.
“Aku pengen di SMK , aku sudah yakin akan bersekolah di situ tapi Ibuku berkata lain. Ibu mengatakan kalau aku akan tetap mondok.
Mendengar kata-kata itu aku lumayan kecewa, sih, karena juga iri melihat teman-teman yang terserah akan sekolah dimana aja. Tapi yang mau gimana lagi? Dan ternyata setelah aku lihat-lihat banyak anak seumuran yang bermimpi banget pengen mondok tapi orang tua mereka gak ngizinin entah alasan apa lah, aku kurang bersyukur dengan diriku saat ini. Sekarang aku mencoba bagaimana caranya agar nanti aku bisa betah dan niat.
Pada suatu hari aku diajak oleh Omku untuk menjenguk anaknya yang bernama Sasya yang sudah 2 bulan Ma’had. Saat dia bertemu kami, dia menangis sambil bilang ke orang tuanya
“Yah, Buk aku sudah betah.” semua terharu termasuk aku. Padahal banyak temannya yang menangis karena gak kuat, gak betah sampai ada yang ngotot ingin pulang aja gak mau mondok. Tapi tidak dengan Sasya. Setelah dilihat memang niat itu penting walaupun susah tapi kita harus bisa menjalani.
Kali ini aku sudah yakin ingin mondok karena bisa berdampak baik untuk kedepannya. Lalu aku bercerita ke Ibuku,
“Buk, aku sudah yakin akan mondok.” Ibuku senang mendengarnya dan mendukungku untuk pilihan yang terakhir ini.
Sebenarnya aku awalnya takut, sih. Ini karena saudaraku yang bernama Arsya. Dia dulu juga mondok. Saat dia berangkat dia hanya diantar tak sampai tujuan. Padahal biasanya setiap anak mondok itu diantar sampai kamar dan orang tua membantu untuk menata barang-barangnya, tapi saudaraku tidak. Dia bersama teman-temannya dijemput pakai mobil dari pondoknya.
Benar saja, Arsya satu bulan disana gak betah dan pingin pulang. Katanya, sih, disana setiap santri saat berbicara diwajibkan memakai Bahasa Arab dan Arsya ketahuan ngomong pakai Bahasa Jawa. Dia dihukum lalu dipukul dengan penggaris kayu. Arsya jadi takut. Lalu dia memutuskan pindah pondok dan akhirnya dia betah tinggal di pondok yang baru ini.
Waktu aku ingin masuk SMP sebenarnya aku akan dipondokan namun tidak jadi karena ibuku masih belum mengizinkan. Begitupun aku juga masih belum ada niatan untuk mondok. Kali ini aku diajari kakakku agar tidak kaget saat mondok nanti. Aku membiasakan diri bangun pagi, shalat subuh, lalu ngaji. Ya, supaya aku terbiasa ketika nanti jadi santri.
Jadi sebelum waktunya dekat, persiapkan dengan sebaik-baiknya. Terutama niat itu kata ibuku. Tujuannya, ya, agar aku bisa betah di sana.
Tantangan lainnya, kadang aku susah mengakrabkan diri dengan teman baru. Berbeda dengan teman lama yang setiap hari kutemui. Tapi ternyata kehidupan disana seru kita dapat menambah wawasan ilmu dan banyak berinteraksi.
Ibuku pernah bilang kepadaku kalau dia khawatir. Ibu takut nanti kabur atau keluar pondok tanpa izin. Mendengar cerita Ibu itu aku tertawa kecil dan ngomong ke Ibu,
“Pasti aman, kok, Buk. Lagian aku kabur mau kemana?”
Mendengar itu Ibuku ikut tertawa. Arsya pernah bercerita pengalaman dia mondok memang seru, meskipun di pondok yang sebelumnya dia sempat tidak betah. Katanya di pondok itu kita diuji kesabaran. Apalagi ada teman yang suka mempengaruhi temannya sendiri agar melakukan hal-hal jelek.
Jadi kita harus bisa menahan diri dari teman yang memiliki sifat seperti itu.
Untuk hukuman di sana, sih, lebih parah. Misalnya kalau kita mempunyai kasus. Foto kita akan dipajang di madin sehingga banyak santri-santri tahu. Pernah ada cerita tentang hal itu. saudaraku yang bernama Fira pernah melakukan kesalahan tak seberapa. Tapi sanksi sosialnya karena fotonya yang terpajang itu sungguh berat. Dia sampai malu keluar kamar apalagi kalau mau ke kelas saja malu, karena banyak yang melihat dia dengan sinis.
Di pondok biasanya juga diadakan acara berkumpul saat malam. Acara ini dilakukan untuk mengingat orang tua yang di rumah. Mereka berdoa sambil membawa lilin, merenung, bahkan sampai menangis. Apalagi kalau ada santri yang Ayah atau Ibunya sudah meninggal. Mereka bisa sampai pingsan dan berteriak karena kangen. Pasti sangat mengharukan. Lalu kalau orang tua mereka tidak menjenguk mereka hanya bisa telepon atau berbicara lewat surat yang mereka tulis.
Setelah mendengar banyak cerita tentang kehidupan di pondok itu, aku jadi berpikir. Ternyata berat juga jadi santri pondok. Apalagi harus meninggalkan orang tua. Nantinya hanya bertemu dengan orang tua paling cepat seminggu sekali. Bahkan sampai ada santri yang tidak dijenguk karena berbeda daerah. Kadang sampai bertahun-tahun dan mereka kembali saat sudah kuliah atau bekerja.
Aku, sih, belum tahu rasa jadi anak pondok yang sebenarnya itu bagaimana. Tapi saat saudaraku bercerita aku bisa belajar dan merasa seperti sudah hidup di pondok. Ternyata begini rasanya. Mereka diajarkan untuk lebih banyak bertanggung jawab, sopan santun dan adab. Selain itu mereka juga harus mandiri. Terutama untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Mulai dari cuci baju, ngerjain PR malam-malam, belum lagi hal-hal lain, harus diselesaikan sendiri.
Belum jadi mondok saja, aku sudah belajar tanggung jawab dari cerita-cerita yang kudengar. Aku yakin, di pondok nanti aku akan mendapat banyak ilmu. Yang tidak kalah penting, kita jadi bisa memahami kehidupan dengan lebih baik dan lebih banyak bersyukur.
Dari cerita itu kita belajar sangat banyak tentang pondok pesantren beserta santri-santrinya. Amalan mereka sangat banyak sehingga bisa membantu di alam lain nantinya. Jadi, kita harus meyakini pilihan hidup kita. Niat yang besar dan keyakinan yang kuat akan mempermudah kita menjalani hidup dengan baik dan mencapai tujuan. Menurutku begitulah kunci utama kehidupan yang makmur dan bahagia.
Alini Nadhifatul Azizah, Siswi SMAN 1 Kota Batu
Editor : Deni Iska Dian Nita

