Spread the love

Hujan turun begitu deras, dan aku duduk di bangku kelas, menatap keluar jendela. Aku menghela napas panjang, menikmati aroma hujan yang semerbak harum. Rasanya menenangkan, meski hanya sesaat.

Tidak seperti anak-anak lainnya yang sibuk memperhatikan penjelasan guru, aku justru terhipnotis oleh tetesan air hujan yang jatuh satu per satu.

Tak lama kemudian, bel istirahat berbunyi dan guru pun meninggalkan ruangan ini. Suasana yang tadinya tenang seketika berubah menjadi ricuh. Anak-anak membentuk koloninya masing-masing. Suara tawa dan candaan bergema memenuhi ruangan yang tiba-tiba terasa lebih sempit. Sedangkan aku, sendirian di bangku pojok belakang, kembali kesepian tanpa adanya teman.

“Hai, namaku Ray,” katamu, memecah lamunanku.

Hari itu, di ruangan yang sama, adalah kali pertama kita bertemu. Kau mengulurkan tanganmu kepadaku, memperkenalkan namamu dengan senyuman kikuk milikmu. Aku hanya menatapmu dengan heran. Bahkan seisi ruangan menjadi hening akibat tingkahmu yang terlalu jujur.

“Apa kau bodoh?” ucapku dalam hati. Kata-kata yang tak pernah tersampaikan padamu.

Namun bukannya menurunkan tanganmu, kau justru menggenggam tanganku dan mengayunkannya pelan.

“Salam kenal, ya!!” katamu, dengan semangat seolah duniamu tak pernah menderita.

Setelah itu, kamu pun duduk di sebelahku, bangku kosong di pojok kelas yang selama ini tak seorang pun berani mengisinya. Bangku berdebu, di mana sarang laba-laba menempel di lacinya, seakan sudah lama dilupakan oleh waktu. Aku bertanya-tanya, apa motifmu? Bukankah seharusnya kamu tahu asal-usulku? Bukankah kamu seharusnya juga menjauhiku?

Ini adalah kali pertamaku, setelah sekian lama, seseorang berani mendekatiku bahkan berkenalan denganku. Selama ini, orang-orang selalu berpikir dua kali hanya untuk sekadar menyapa atau bertanya padaku. Karena, wajar saja mantan kriminal sepertiku berjarak dengan dunia. Akibat dari sebuah dosa yang tidak dapat dilupakan, dan tidak dapat dimaafkan oleh siapa pun. Dosa dari seorang anak yang membunuh ayah kandungnya sendiri.

“Oh ya, kau belum memperkenalkan namamu. Siapa namamu?” tanyamu dengan tatapan penuh rasa ingin tahu.

Aku terdiam sejenak, menatapmu dengan kebimbangan. Haruskah aku menjawab? Atau lebih baik diam, agar dunia ini tetap tenang?

“Hei?! Hellow?? Namamu?”

“Ya?? Aku… Dika,” jawabku sembari memalingkan wajah, tak berani menatapmu.

Sekilas aku melihat senyummu. Di antara semua pandangan sinis, hanya kamulah yang menatapku, dengan senyum terukir di wajahmu.

Hari demi hari berlalu. Kau masih selalu duduk di sebelahku. Di bangku yang banyak menganggapnya terkutuk. Tapi, rasa setiamu justru mengisinya dengan kehangatan. Kau selalu berbicara, melontarkan candaan, dan memaksaku kembali mendengar ramainya dunia. Meski sering kali aku hanya diam, tak bersuara.

“Bebek, bebek apa yang kakinya dua?” tanyamu suatu ketika.

Aku hanya menatapmu dengan bingung dan canggung.

 “Semua bebek kakinya dua! Hahaha!”

Kau tertawa pada candaanmu yang garing, dan entah mengapa, bibirku ikut terangkat tanpa kusadari.

Minggu demi minggu terlewati. Kalimat pertemanan mulai tak asing di telingaku. Namun pertanyaan itu terus mengendap dalam benakku, seperti genangan air hujan di aspal yang rapuh: mengapa aku?

 Hingga suatu hari, aku memberanikan diri untuk bertanya.

“Kenapa aku?”

“Maksudmu?” Tatapanmu polos, seperti anak kecil yang baru saja melihat hujan di hidupnya.

“Kenapa kau mau berteman denganku?” tanyaku lagi, menatapmu dalam-dalam layaknya seorang detektif yang tengah mencari celah.

“Kenapa ya…?” Kau tersenyum tipis. “Mungkin karena dari awal, kamu menarik perhatianku.”

 Jawaban itu membuatku membeku. Apa yang menarik dari diriku? Luka? Dosa? Atau karena aku pembunuh?

Kau menatapku lembut, lalu menambahkan, “Masa lalumu memang kelam… tapi itu masa lalu. Sekarang berbeda, kan?”

Ucapan itu menembus lapisan tembok yang selama ini kubangun. Aku terdiam. Entah mengapa, dada ini terasa sesak… tapi hangat.

Dari yang awalnya aku menutup mata pada kehadiranmu, kini aku menanti seluruh candaan yang terlontar dari bibirmu. Aku mulai terbiasa akan hadirmu. Hingga aku lupa bahwa aku pernah berpikir, aku tak pantas menikmatinya. Bahwa aku seharusnya tetap sendiri. Bahwa aku pantas tuk sendiri.

Selama kita bersama, sering aku mendengar kata-kata tajam orang lain kepadamu. Aku sadar kehadiranku membawamu menjauh dari dunia ini. Dari duniamu yang luas itu. Aku sadar akulah penyebab dari pudarnya warnamu. Namun, egoku ingin kau tetap menemaniku. Menemani hari-hariku di tempat berduri ini. Akan tetapi, aku tidak ingin menelanmu lebih dalam, ke lubang bernama “kesepian”.

“Bukankah sebaiknya kau menjauhiku?” aku membuka pertanyaan kala kita sedang bersantai menikmati angin yang masuk perlahan melalui jendela kelas.

“Menjauh? Untuk apa?” tanyamu bingung sembari memberikan tatapan tajam ke arahku.

“Kau dijauhi teman sekelas karena dekat denganku, kan?” balasku dengan kepala tertunduk.

Kamu menghela napas dan mencengkeram pundakku pelan. Tatapanmu lurus menatapku, seakan kamu ingin aku yakin bahwa dirimu tidak akan pernah menyesal berteman denganku.

“Ya, mungkin aku dijauhi mereka, tapi aku kan masih ada kau!” katamu dengan senyum lebar khas milikmu.

Tatapanku melebar mendengar ungkapan darimu. Aku merasakan betapa tulusnya dirimu menerimaku sebagai teman. Menerima seorang mantan kriminal ini sebagai temanmu. Hal itu membuatku lupa, bahwa nyatanya manusia tidak sesederhana itu. Bahkan, kehangatan milikmu pun tidak akan tahan.

Hari selanjutnya dan seterusnya, aku tidak lagi mendengar candaanmu, mendengar ocehanmu, tawamu bahkan suara napasmu. Yang tersisa hanyalah selembar kertas lusuh yang terselip di laci mejaku. Tulisan tangannya tergesa, tinta sedikit luntur oleh air—entah air apa.

 “Maaf, aku tak sekuat itu. Dunia ini terlalu bising, dan aku terlalu lelah melawan semuanya. Jaga dirimu, ya. Jangan benci aku.”

Hari itu hujan lebih deras dari biasanya. Aku duduk sendirian di bangku pojok belakang, seperti dulu, seperti sebelum kau datang. Hanya saja, kini keheningannya terasa lebih berat, lebih sunyi, lebih menusuk.

Bangku kosong di sebelahku bukan lagi sekadar bangku. Ia menjadi nisan sunyi dari sebuah pertemanan yang tak sempat tumbuh sempurna. Dan aku… kembali menjadi bayangan dari kesalahan yang tak pernah bisa kuhapus.

Anindhita Hanung Suryandari, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Instagram: AHS12034_

Editor: Deni Iska Dian Nita

Back To Top