Ada seorang wanita yang hidup dalam hubungan cinta, tapi memperlakukannya bak sebuah kerajaan kecil. Ia duduk di takhta, menuntut segala sesuatu sesuai dengan titahnya. Keinginannya harus menjadi hukum, pikirannya harus dianggap kebenaran mutlak.
Di sisinya, ada seorang pasangan yang awalnya setia. Ia berusaha mengikuti, berusaha memahami, bahkan rela menunduk demi menjaga agar istana kecil itu tidak runtuh. Namun, semakin lama, semakin jelas: apa yang ia jalani bukanlah cinta, melainkan pengabdian.
Hari demi hari, kelelahan itu menumpuk. Sampai akhirnya ia berani berkata:
“Aku ingin bangkit. Aku ingin bebas dari bayanganmu. Aku ingin hidup dengan langkahku sendiri, tanpa terikat pada perintahmu.”
Namun, Sang Ratu tidak pernah rela. Dengan nada dingin ia menjawab, “Aku tidak mau.” Bukan argumen, bukan renungan, hanya penolakan.
Pasangannya mencoba menjelaskan: bahwa mereka berbeda sejak hal-hal kecil, bahwa jalan hidup mereka tak lagi searah, bahwa yang ia inginkan hanyalah menutup kisah ini dengan tenang. Tapi Sang Ratu tetap keras kepala. Bahkan, ia melempar ancaman tipis, seolah dunia akan kehilangan makna jika dirinya ditinggalkan:
“Tunggu saja aku hilang.”
Lucu, bukan? Cinta dijadikan alat untuk menakut-nakuti, seakan kepergian dirinya lebih berharga daripada ketenangan jiwa pasangannya.
Namun, ada yang tidak disadari Sang Ratu: hati yang lelah sudah tidak bisa lagi dipaksa. Rantai sekuat apa pun, jika mengekang terlalu lama, justru akan patah. Dan ketika rantai itu patah, tak ada satu pun titah yang mampu menghentikan langkah menuju kebebasan.
Maka, pada suatu hari, pasangannya benar-benar pergi. Bukan dengan teriakan, bukan dengan dendam, tapi dengan senyap. Ia meninggalkan istana kecil yang selama ini mengekang, melangkah ke jalan baru dengan dada yang akhirnya lega.
Sang Ratu terdiam di takhtanya, menyadari bahwa kekuasaan atas cinta hanyalah bayangan semu.
Karena cinta sejati tidak pernah bisa dipertahankan dengan ego, apalagi dengan ancaman.
Akhirnya, Sang Ratu benar-benar ditinggalkan. Dan yang lelah, akhirnya merdeka.
Dr. Rahma Wahyu M.Pd
Dosen Magister Pendidikan Matematika Universitas Wisnuwardhana Malang.

