Jalan Berat Untuk Memulai
Beberapa pekan terakhir terasa seperti melewati jalan terjal yang tidak ada ujungnya. Jadwal yang biasanya bisa diatur dengan ritme tertentu mendadak menjadi amburadul, berantakan, dan saling bertabrakan.
Beberapa pekan terakhir terasa seperti melewati jalan terjal yang tidak ada ujungnya. Jadwal yang biasanya bisa diatur dengan ritme tertentu mendadak menjadi amburadul, berantakan, dan saling bertabrakan.
Dalam setiap pertemuan, kita seolah mencari titik potong di mana kedua garis bisa bersinggungan. Kadang titik itu ada, kadang hanya mendekat tapi tak pernah benar-benar bertemu. Seperti dua garis sejajar yang berjalan ke arah yang sama, namun ditakdirkan tak pernah bersilangan
Di tengah segala kesibukan dan tantangan yang ada, aku merasa sangat bersyukur bisa menjadi bagian dari perjalanan ini. Setitik.id bukan hanya sekadar kanal tulisan. Ia adalah ruang bagi mereka yang ingin menulis tanpa rasa takut, tempat bagi mereka yang ingin belajar dan berkembang bersama. Semoga, setitik terus memberi manfaat, tumbuh, dan memberi makna bagi siapa pun yang mencintai dunia literasi. Selamat ulang tahun. Panjang umur, setitik.id
Ah, betapa mudahnya mereka melafalkan kata itu, seolah sabar bisa menjahit luka yang sudah bernanah. Mereka pikir amarah ini lahir tiba-tiba, seperti petasan yang menyala karena iseng. Padahal ini letusan dari ratusan hari menahan diri, ribuan luka yang dikubur diam-diam, dan sejuta kali menelan kecewa tanpa suara.
Lahir Wage — dalam budaya Jawa sering dikaitkan dengan sifat penuh angan, banyak cita-cita, dan kadang sulit fokus pada satu hal. Entah benar atau tidak, tapi saya merasa begitu adanya
Matematika bukan sekadar hitungan angka atau kumpulan rumus yang kaku. Ia adalah bahasa logika yang diam-diam mengajarkan manusia cara memahami hubungan, baik antara bilangan maupun antara hati.
Sekolah kaki langit bukanlah tentang awan, kabut, atau pemandangan indah di luar jendela gedung sekolah. Ia adalah tentang cerita yang dirajut bersama. Sebuah “karya” yang kelak ketika dewasa, akan dibuka kembali. Ada bagian yang membuat jengkel, tertawa, tersipu malu sendiri, bahkan mungkin ada yang membuat air mata menetes tanpa sadar. Namun semuanya akan indah untuk dikenang, karena di sanalah kita pernah belajar, bukan hanya sekadar tentang pengetahuan, akan tetapi juga tentang kehidupan. Ya Kehidupan..
Sekecil apapun itu. Mari. Bersyukur untuk hal-hal yang terlihat dan terdengar sepele bahkan seringkali diabaikan.
Sering kali anak tengah merasa seperti manusia tak kasat mata di keluarganya. Si sulung dapat perhatian karena tanggung jawabnya besar. Si bungsu disayang karena selalu dianggap kecil. Si tengah? Masih dianggap ada aja udah syukur.
Kau merasa paling benar, paling tersakiti, hingga setiap orang baru yang datang kau perlakukan seolah sama dengan cermin bekas masa lalumu. Sadarlah, itu bukan bentuk perlindungan, melainkan ketidakadilan.