Pukul 02.47 dini hari. Ponselku bergetar untuk kesembilan kalinya malam ini.
“Kay, lo masihbangun? Gue butuh lo sekarang.”
Aku menatap layar ponsel dengan mata setengah terpejam. Rina. Aku sudah hafal nada pesannya—nada seseorang yang baru saja bertengkar dengan kekasihnya. Lagi.
“Iya, gue masih. Ada apa?” ketikku, sambil menguap.
Tiga menit kemudian, ponselku berdering. Video call. Wajah Rina muncul dengan mata sembab.
“Gue putus sama Dio, Kay. Gue nggak kuat. Lu satu-satunya yang ngerti gue…”
Aku mendengarkan. Seperti biasa. Selama satu setengah jam, aku mendengar tangisannya, kemarahannya, kecewaannya. Aku memberi saran yang sama seperti tiga bulan lalu ketika mereka putus—sebelum akhirnya balikan lagi. Aku bahkan melucu agar dia tertawa sebentar.
Ketika sambungan terputus pukul 04.23, aku menatap langit-langit kamar. Besok—eh, hari ini—aku ada ujian pukul 06.30. Aku belum tidur sama sekali. Belum belajar juga.
Tapi tak apa, pikirku. Rina butuh aku.
Rina selalu butuh aku.
Aku ingat pertama kali kami berteman di SMA. Aku yang pendiam, dia yang periang. Entah kenapa, dia nyaman bercerita padaku. Dan aku senang bisa menjadi seseorang yang berguna untuk orang lain.
Lambat laun, bukan hanya Rina. Sari datang dengan tugas-tugasnya. Dika dengan konflik organisasinya.
Satu per satu, mereka datang. Dan aku selalu ada.
Aku tidak tahu kapan tepatnya aku menjadi “orang yang bisa diandalkan” di antara teman-temanku. Yang aku tahu, tiba-tiba aku menjadi tempat mereka berlabuh ketika dunia terasa berat.
Dan aku senang. Sungguh. Senang bisa membantu. Senang merasa berguna. Sampai aku lupa… aku juga manusia.
Siang itu, aku baru saja keluar dari ruang ujian. Ujianku berantakan. Aku hampir tertidur tiga kali. Beberapa soal aku kosongkan begitu saja karena otakku terlalu lelah untuk berpikir.
Aku ingin tidur. Hanya itu.
“Kay, lu ada waktu? Gue butuh curhat.”
Aku menoleh. Sari berlari kecil menghampiriku.
Aku melirik jam. Aku punya tiga jam sebelum kelas sore. Aku bisa tidur sebentar di perpustakaan. Atau minimal makan siang. Aku belum makan sejak kemarin siang.
“Ada. Mau di kantin?”
Kami duduk di kantin yang ramai. Sari mulai bercerita tentang dosennya. Yang terus menolak tugas yang diberikan dosennya, tentang orang tuanya yang menuntut ini-itu, tentang kekasihnya yang tidak mendukung.
“Gue cuma bisa cerita sama lu, Kay. Lu satu-satunya yang nggak judge gue. Yang lain sibuk sendiri-sendiri.”
Aku tersenyum. Senyum yang sudah refleks. “Lu pasti bisa, kok, Sar. Pelan-pelan aja.”
Dua jam berlalu. Kelas soreku dimulai 20 menit lagi. Aku bahkan belum sempat ke toilet.
Perutku berbunyi keras. Sari tidak mendengar. Atau pura-pura tidak mendengar. Dia masih sibuk bercerita.
Malam harinya, aku baru sampai kos. Badan rasanya remuk. Aku ingin mandi, makan, lalu tidur. Tugas kuliah yang menumpuk bisa aku kerjakan besok pagi—atau malam—atau kapanpun aku bisa.
Ponselku bergetar.
“Kayla, aku lagi bingung banget. Kamu bisa ke kafe nggak? Please, aku bener bener butuh kamu, Kay.”
Dika. Ketua organisasiku yang memilihku menjadi sekretaris sekaligus kekasihnya.
Aku menatap pesan itu lama. Tanganku gemetaran. Entah karena lapar atau lelah. Atau keduanya.
Aku ingin menolak. Aku ingin bilang aku juga lelah. Aku ingin bilang aku juga butuh istirahat.
Tapi tanganku sudah bergerak mengetik: “Oke, aku ke sana setengah jam lagi.”
Kenapa aku tidak bisa menolak? Karena cinta? Tidak. Aku sudah mati rasa. Aku sudah cukup lelah menghadapi ego dan sikapnya. Kalau aku tega, hubungan ini akan kuselesaikan begitu saja. Tapi dia masih butuh aku agar dunianya tetap baik baik saja.
Di kafe, aku mendengarkan Dika. Tentang konfliknya sebagai ketua organisasi, tentang tanggung jawabnya yang menumpuk, tentang tugas-tugasnya yang tak kunjung selesai. Dan ya, aku harus selalu ada untuknya, kapan pun dan dimana pun.
“Makasih banyak, ya, kamu selalu ada buat aku”
Aku tersenyum getir.
‘Tapi kamu gak pernah ada buat aku’
Kalau saja dia tahu, aku sedang menahan air mata sejak tadi siang. Kalau saja dia tahu, IPK-ku anjlok dua semester ini karena aku terlalu sibuk membantu orang lain hingga melupakan diriku sendiri. Kalau saja dia tahu, aku belum makan seharian ini.
Tapi aku diam. Aku hanya tersenyum dan berkata, “Kamu pasti bisa kok melewati semua ini.”
Pukul 11 malam, aku sampai kos. Laptopku masih terbuka. Tugasku yang deadline besok pagi belum aku sentuh sama sekali.
Aku menatap layar kosong itu. Kemudian aku menutupnya.
Aku tidak sanggup. Tidak malam ini.
Suatu malam, aku tidak tahan lagi.
Aku duduk sendirian di balkon kos, menatap langit malam yang gelap. Ponselku penuh notifikasi. Pesan dari teman-temanku yang butuh aku.
Tapi malam ini, aku tidak membukanya.
Aku memeluk lututku, merasakan dingin malam yang menusuk.
“Aku juga lelah,” bisikku pelan.
Tidak ada yang mendengar. Tidak akan pernah ada.
Malam itu, setelah mendengarkan banyak keluhan dalam sehari, aku membuka notes di ponselku. Tanganku bergetar ketika aku mulai mengetik. Menulis sesuatu yang tidak akan pernah kubaca untuk siapapun:
“Kalian tahu tidak?
Bahwa aku juga punya masalah yang menumpuk?
Bahwa aku juga ingin menangis dan ada yang mengusap punggungku?
Bahwa aku juga butuh seseorang yang bertanya, ‘Kamu baik-baik aja?’ dan benar-benar menunggu jawaban jujurku?
Aku ingin kalian tahu bahwa aku bukan sekuat yang kalian kira. Aku hanya pandai menyembunyikan rapuhku. Aku bukan tanpa masalah. Aku hanya tidak punya ruang untuk bicara.
Karena kalian datang membawa beban kalian terlebih dahulu. Dan aku… aku tidak bisa menolak menerimanya.
Aku juga ingin bersandar. Aku juga ingin istirahat. Aku juga ingin ada yang mendengarku tanpa menunggu gilirannya untuk bicara.
Tapi sepertinya itu terlalu banyak untuk diminta.
Jadi aku akan terus seperti ini. Menjadi tempat kalian berlabuh. Sambil aku sendiri terombang-ambing tanpa pelabuhan.
Mendengarkan kalian sambil suaraku sendiri membisu.
Menguatkan kalian sambil aku sendiri hancur.
Karena mungkin memang begini takdirku.
Menjadi kuat untuk orang lain.
Sambil rapuh sendirian.
Dan tidak ada yang akan tahu.
Karena aku tidak akan pernah mengirim ini.
Aku akan tetap tersenyum besok.
Aku akan tetap menjawab ‘iya’ ketika kalian butuh aku.
Aku akan tetap menjadi tempat kalian bersandar.
Karena di luar semua ini… aku masih tidak tahan melihat kalian sedih.
Meski itu artinya aku harus terus terluka sendirian.”
Aku menutup ponselku. Air mata mengalir di pipiku. Tidak ada yang melihat.
Aku menangis dalam kegelapan kamar kos yang sempit ini. Menangis untuk semua keluhan yang tidak pernah kuucapkan. Untuk semua lelah yang kusimpan. Untuk semua rasa sakit yang kupendam.
Tidak ada yang mendengar tangisanku.
Tidak pernah ada.
Tidak akan pernah ada.
Keesokan paginya, ponselku berbunyi lagi. Aku berharap notifikasi itu dari ibuku walaupun tidak mungkin. Dia selalu menganggap bahwa anak pertamaanya selalu kuat menghadapi dunianya. ‘Bu anakmu lelah. Hanya saja tidak ada yang peduli.’
“Kay, gue butuh lu. Bisa ketemu nggak?”
Aku menatap pesan itu. Mataku masih sembab. Dadaku masih sesak. Tubuhku masih lelah.
Tapi tanganku bergerak mengetik:
“Bisa. Jam berapa?”
Karena itulah aku. Orang yang selalu ada untuk semua orang.
Kecuali untuk diriku sendiri.
Dan malam ini, aku akan terjaga lagi sendirian. Menangis dalam diam. Memeluk lututku sendiri. Menjadi tempat bersandar bagi semua orang.
Sambil aku sendiri tidak punya tempat untuk bersandar.
Seperti biasa.
Mungkin selamanya.

Bilkaffa ‘Aina Tazkiya adalah seorang penulis yang fokus pada cerita fiksi dengan tema kehidupan dan perasaan manusia. Dengan gaya penulisan yang introspektif, ia berusaha membawa pembaca merasakan perjalanan emosional dalam setiap kisah. Sebagai penulis pemula, Bilkaffa berharap karyanya dapat memberikan kedamaian dan refleksi bagi pembaca. Instagram : @bilkaffaai
Editor: Deni Iska Dian Nita

