Spread the love

Kisah panjang dan sabar dalam menghilangkan kebodohan merupakan hal yang dirasakan saat menuntut ilmu. Lelah merupakan makanan sehari-hari yang harus dihadapi. Hal ini yang dirasakan oleh Putu.

Putu merupakan remaja yang berasal dari keluarga dengan ekonomi menengah. Ia adalah lulusan dari sekolah negeri. Putu termasuk anak yang rajin dan pintar, tetapi ia tidak memiliki kesempatan untuk menempuh pendidikannya di pondok pesantren. Ia hanya memiliki pengalaman belajar agama di madrasah diniyah di dekat rumahnya. Inilah kisah Putu, seorang remaja yang belajar mengenai arti kesabaran dalam menuntut ilmu.

Putu saat ini merupakan salah satu mahasiswa semester satu yang mengejar pendidikannya di Universitas Islam Negeri. Dari statusnya sebagai mahasiswa saat ini, banyak hal yang harus Putu lewati dalam berjuang memasuki perguruan tinggi impiannya tersebut. Putu belajar dengan “modal” semangat. Sebenarnya ia tidak mengerti bahasa Arab, padahal bahasa Arab tersebut merupakan soal yang akan muncul ketika ujian.

“Ya ampun…beneran ini ada soal bahasa Arabnya? Terus aku apa bisa?” Ungkap Putu dengan nada dan raut wajah yang sedih.

Hal inilah yang menjadi salah satu kesulitan dalam memasuki universitas yang diimpikannya selama ini. Untuk dapat memasuki universitas tersebut, ia perlu menjawab soal-soal yang berbentuk bahasa Arab.

Putu belajar dengan mencari berbagai informasi mengenai try out di media sosial yang tidak berbayar. Hal ini dilakukan karena Putu tidak memiliki cukup uang untuk mengikuti bimbel.

“Semoga dari usahaku mencari soal-soal try out gratis ini akan membuahkan hasil yang maksimal dan sesuai harapan.” Ungkap Putu dengan penuh harapan.

Di saat ada kerisauan hati itu, Ibu Putu pun datang dan memberi semangat kepada Putu. “Sudah Le, istirahat dulu kalau capek, jangan dipaksa. Memang berjuang itu butuh tenaga dan kesabaran. Pasti kamu lelah, tapi kan ini semua demi masa depan kamu ya kan?” Tutur Ibu Putu.

“Semisal nanti hasil ujiannya sesuai harapan kamu jangan lupa bersyukur. Jika sebaliknya tidak sesuai harapan, kamu harus tetap bersyukur dan jangan lupa kamu harus berjuang lagi. Lebih baik kita usaha meskipun sedikit daripada tidak. Benar kan?” Tutur Ibu Putu lagi dengan nada yang lembut dan senyuman manisnya.

Dari nasihat ibu Putu tadi, Putu semakin yakin jika usahanya akan membuahkan hasil yang maksimal.

“Njih Bu, terima kasih untuk semangatnya. Apapun hasilnya Putu akan tetap menerima.” Ungkap Putu dengan tatapan penuh kasih sayang kepada ibunya.

Dengan penuh perjuangan dan kesabaran, hari ujian pun telah tiba. Putu datang ke tempat ujian dengan penuh harapan. Ia mengerjakan soal dengan serius dan maksimal tanpa kecurangan. Di ruang ujian, para calon mahasiswa pejuang masuk universitas impiannya.

Waktu terus berjalan, satu persatu peserta keluar meninggalkan tempat ujian. Putu yang masih fokus mengerjakan ujian, dengan teliti mengoreksi jawaban yang telah ia kerjakan. Ia peserta terakhir yang meninggalkan ruangan ujian tersebut.

Dengan wajah yang pasrah ia tertegun memikirkan jawaban dari soal ujian tadi. “Hadduhh…bener nggak ya jawabannya?” Ungkap Putu dalam hati yang penuh kekhawatiran. Tetapi dari keraguan tersebut, Putu tetap ingat nasihat dari ibunya, yakni harus tetap menerima apapun hasilnya karena hal yang terpenting adalah kita sudah berusaha.

Hari demi hari pun berlalu. Tepat pukul 15.00 di hari pengumuman kelulusan ujian. Dengan penuh harapan dan rasa takut, Putu pun membuka hasil pengumuman dari ujiannya. “Lolos nggak ya?” dengan tangan dingin dan gemetar.

Tanpa disangka, ternyata hasil jerih payahnya selama ini membuahkan hasil. Dengan raut yang bahagia, tak hentinya ia meneteskan air mata. Ia sangat bahagia dengan hasil usahanya. “Alhamdulilah… Ya Allah…” ucap syukur Putu dengan nada bergetar karena bisa memasuki universitas yang ia impikannya.

Ibu Putu merasa kaget.
“Putu kenapa, Nak?” Bertanya dengan raut wajah khawatir.
“Ini Bu, Putu lolos masuk universitas!” jawab Putu dengan bahagia.
“Alhamdulillah… benarkan ucap ibu, usaha itu penting karena suatu hal tanpa usaha itu sia-sia. Yang paling terpenting jangan lupa bersyukur ya…” ucap ibu Putu.
“Iya, Bu, terima kasih ya untuk doa dan motivasinya.” Jawab Putu sambil menatap ibunya dengan penuh kebahagiaan.

Dari sini Putu belajar bahwa keraguan bisa ditepis dengan keyakinan, usaha dan doa. Tidak mungkin suatu hal tersebut dapat berhasil, jika tidak dibarengi dengan usaha dan doa. Karena sejatinya usaha dan doa itu suatu hal yang tidak dapat dipisahkan. Dengan doa dan usaha ketidakmungkinan dapat menjadi mungkin.

Seperti halnya Putu yang belajar bahasa Arab dengan serius dan berbekal dari media online. Tak disangka ia lulus ujian masuk universitas impiannya. Hal tersebut menunjukkan bahwa kekuatan doa dan usaha merupakan hal yang tidak boleh ditinggalkan.

Penulis : Selfia Nela Natasya biasa dipanggil Selfia lahir di Trenggalek, 06 Januari 2006. Memiliki hobi di bidang editing video, desaign, dan VO. Saat ini sedang melanjutkan perkuliahan di Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, dengan Prodi Komunikasi Penyiaran Islam. Ig: @fiaaafiiiii tiktok: Selfia✨

Editor : Deni Iska Dian Nita

Back To Top