Dihukum Karena Tertib
Ketika ada yang tidak disiplin, justru yang disiplinlah yang kerap kali jadi korban. Ironisnya, yang seharusnya dihargai karena taat prosedur justru sering kali harus menanggung akibat dari kelalaian orang lain.
Ketika ada yang tidak disiplin, justru yang disiplinlah yang kerap kali jadi korban. Ironisnya, yang seharusnya dihargai karena taat prosedur justru sering kali harus menanggung akibat dari kelalaian orang lain.
Saya telah melewati jalan yang tidak mudah. Jalan yang dipenuhi rasa senang, cinta, marah, bahkan kecewa. Ini bukan cerita terbaik. Tapi, cukup. Ya, cukup untuk jadi bekal tumbuh.
Dalam era yang serba cepat dan penuh tekanan seperti saat ini, banyak di antara kita merasa cemas, tertekan, bahkan merasa kehilangan arah. Namun, salah satu cara yang cukup efektif untuk mengurangi rasa cemas yang berlebihan adalah dengan berlatih fokus pada hal-hal yang bisa kita kendalikan.
Banyak orang bilang manusia bisa mengubah takdirnya, tetapi bagaimana caranya mengubah sesuatu yang bentuknya saja belum diketahui? Katanya, hasil akan sebanding dengan usaha, tapi saya belum pernah benar-benar merasakannya.
Bertanya pandangan saya terhadap seseorang yang bahkan saya tidak tahu dia ada di dunia ini, bagi saya itu merupakan kekonyolan “kelas wahid”. Apalagi hanya menunjukkan sebuah foto dan bertanya pandangan saya terhadap dia. Pasti ada dua kemungkinan, pertama sengaja “pamer” dan yang kedua saya dianggap “peramal”.
Batu itu seperti ujian kecil yang dikirim hidup, tapi saya tidak menjawabnya dengan bijak. Seharusnya saya bangkit, membersihkan luka, dan menatap ke depan. Tapi saya malah membuang batu itu dan lanjut berjalan tanpa pelajaran
Tulisan ini ingin menyorot tiga sunah yang kini hampir tidak dilakukan, atau bahkan tidak diketahui oleh beberapa orang,
Apapun yang terjadi di tempat A atau B, saya selalu ucapkan kata “bah”. Mendengar cerita menjengkelkan dari teman-teman di tempat A, saya cukup berkata “bah”. Mendapat informasi dan formasi terbaru dari teman-teman di tempat B, saya juga cukup berkata “bah”.
Meski jauh dari keluarga dan hidup dalam keterbatasan, saya selalu membawa Desa Lawak dalam hati. Suara jangkrik malam dan aroma tanah basah di musim hujan selalu saya rindukan. Saya tahu bahwa jalan hidup masih panjang. Tapi saya percaya, setiap langkah yang saya ambil, sekecil apapun itu, adalah bagian dari rencana besar Tuhan.
Sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Jawa, khususnya tentang bulan Suro yang sebentar lagi akan kita masuki. Istilah bulan Suro sendiri berasal dari sebutan orang Jawa, sedangkan dalam Islam bulan Suro disebut dengan bulan Muharam.