Empat orang duduk melingkar di lantai, mengelilingi sebuah lilin yang menyala temaram. Bukan untuk melakukan ritual mistis, melainkan sekadar berbagi cerita menyeramkan. Lilin itu sengaja mereka nyalakan demi menambah suasana horor yang lebih terasa nyata.
Cerita pertama dimulai dari Adel. Ia mengisahkan pengalamannya bertemu sosok menyerupai kuntilanak. Sore itu, sepulang sekolah, Adel melewati sebuah rumah tak berpenghuni. Rumah itu sudah bertahun-tahun ditinggalkan pemiliknya karena sering terjadi kejadian aneh dan penuh teror. Entah mengapa, Adel berhenti cukup lama di depan rumah itu, pandangannya tertuju pada salah satu jendela.
Di sana, ia melihat sehelai kain putih. Setelah diperhatikan lebih lama, ternyata hanya sebuah gorden. Adel hendak melanjutkan langkahnya, namun saat menoleh, ia mendapati seorang wanita bergaun putih dengan rambut terurai berdiri tepat di depannya. Semua orang yang mendengarkan langsung berteriak kaget. Namun, Adel dengan santai berkata, “Itu kakakku.” Seketika suasana tegang berubah menjadi kesal, dan teman-temannya pun ramai-ramai mengomelinya.
Galih kemudian mengambil alih suasana. Ia mengatakan pernah mengalami kejadian menyeramkan seperti Adel. Tiga temannya langsung serius menyimak.
Suatu malam, Galih sendirian di rumah. Semua anggota keluarganya pergi ke rumah saudara. Awalnya suasana terasa biasa saja. Galih menghabiskan waktu di kamarnya sambil bermain game. Namun, tiba-tiba ia mendengar suara ketukan dari jendela kamarnya.
Kaget, Galih memberanikan diri mendekat dan mengintip keluar. Tak ada siapa pun di luar. Ia pun semakin gugup. Untuk memastikan, ia keluar rumah dan berkeliling, namun tetap tak menemukan satu orang pun. Saat hendak masuk kembali, pandangannya tertuju pada pohon di halaman depan. Di balik pohon itu, tampak sesuatu berwarna putih setinggi hampir dua meter.
Galih awalnya ingin mengabaikannya, tapi rasa penasarannya terlalu besar. Ia melangkah perlahan mendekati pohon itu. Semakin dekat, benda putih itu makin jelas terlihat. Jantungnya berdegup kencang. Tinggal selangkah lagi, Galih mengintip… lalu tiba-tiba ia berhenti sejenak, membuat teman-temannya tegang dan memprotesnya agar cepat melanjutkan cerita. Dengan senyum nakal, Galih berkata, “Ternyata cuma guling.”
Ketiga temannya serempak kesal, sementara Galih tertawa puas. Namun tawanya mendadak berhenti ketika ia menoleh ke kiri dan melihat sosok putih berdiri di dekatnya. Galih langsung berteriak, membuat semua orang ikut terkejut. Dan ternyata… itu hanya ibunya yang baru pulang mengenakan mukena putih.
Dea Sintia Bela,
Redaksi Setitik.id

