Spread the love

Di sebuah desa kecil yang terletak di tepi pantai selatan Pulau Jawa, terdapat sebuah tradisi kuno yang diwariskan dari generasi ke generasi. Tradisi itu dikenal dengan nama “Larung Sesaji”, sebuah ritual yang dilakukan setiap tahun untuk menghormati Dewi Laut.

Pada malam purnama, warga desa berkumpul di tepi pantai, membawa sesaji berupa makanan, bunga, dan benda-benda berharga untuk dipersembahkan kepada sang Dewi. Namun, ada satu aturan yang sangat ketat: tidak ada seorang pun yang boleh mendengarkan Tembang Larung, lagu ritual yang dinyanyikan oleh dukun desa, sampai selesai.

Malam itu, suasana desa terasa mencekam. Angin berhembus kencang, membawa aroma garam laut dan suara ombak yang menggelegar. Di tengah kerumunan, terlihat dua sahabat, Naya dan Dhika yang baru saja pulang dari kota. Mereka berdua penasaran dengan tradisi ini, meskipun Naya sudah mendengar cerita-cerita menakutkan tentang Tembang Larung.

“Dhika, kamu yakin kita harus ikut? Aku dengar bahwa mereka yang mendengarkan lagu itu tidak pernah kembali,” Naya bertanya dengan nada cemas.

Dhika hanya tersenyum, “Ah, itu hanya cerita orang-orang tua. Kita harus melihatnya sendiri. Lagi pula, kita hanya akan mendengarkan sedikit, tidak sampai selesai.”

Naya menggelengkan kepala, tapi rasa ingin tahunya lebih besar daripada ketakutannya. Mereka berdua melangkah menuju pantai, di mana para warga desa sudah berkumpul. Di tengah kerumunan, seorang dukun tua, Pak Agung, berdiri di depan altar sesaji yang telah disiapkan. Dengan suara yang dalam dan berwibawa, ia mulai mengucapkan doa-doa, memohon restu dari Dewi Laut.

Ketika malam semakin larut, suasana semakin tegang. Naya dan Dhika berdiri di belakang kerumunan, berusaha mendengarkan. Saat Pak Agung mulai menyanyikan Tembang Larung, suara lembutnya mengalun, membawa nuansa magis yang membuat bulu roma mereka meremang.

“Dhik, kita harus pergi. Lagu itu… mengerikan,” Naya berbisik, tetapi Dhika menahannya.
“Sebentar lagi, Nay. Kita hanya perlu mendengar sedikit lagi,” jawab Dhika, matanya terpaku pada sosok Pak Agung.
Tiba-tiba, suara ombak menjadi semakin keras, seolah-olah merespon lagu yang dinyanyikan. Naya merasa ketakutan, tetapi Dhika tampak terpesona. Ia tidak menyadari bahwa mereka telah melanggar aturan yang sangat penting.

“Dhika, kita harus pergi sekarang!” Naya mendesak, tetapi Dhika tetap tidak bergerak. Ia terjebak dalam pesona lagu itu.

Saat lagu mencapai puncaknya, Naya merasakan sesuatu yang aneh. Suasana di sekelilingnya berubah, seolah-olah waktu berhenti. Ia melihat bayangan-bayangan gelap muncul dari lautan, menari-nari mengikuti irama lagu. Naya berteriak, “Dhika! Lihat!”

Tetapi Dhika tidak mendengar. Ia terhanyut dalam melodi yang memanggilnya, seperti ada sesuatu yang menariknya ke dalam lautan. Naya merasa panik dan berusaha menarik Dhika, tetapi ia terjatuh, terjebak dalam kerumunan.

“Dhika! Kembali!” teriaknya, tetapi suaranya tenggelam dalam ombak dan lagu.

Ketika lagu itu mencapai akhir, suasana tiba-tiba hening. Semua orang terdiam, terlihat seperti terhipnotis. Naya melihat Pak Agung terjatuh, wajahnya pucat. “Apa yang terjadi?” pikirnya, berusaha bangkit dari tanah.

Tiba-tiba, dari arah laut, muncul sosok-sosok yang menyeramkan. Mereka tampak seperti manusia, tetapi kulit mereka pucat dan mata mereka kosong. Naya merasakan ketakutan yang luar biasa. Ia berlari menuju Dhika, yang masih berdiri terpaku, tatapannya kosong.

“Dhika! Pergi, Dhika!” Naya berteriak, tetapi Dhika tidak menjawab. Ia hanya menatap ke arah laut.

Sosok-sosok itu mulai mendekat, dan Naya merasakan hawa dingin menyelimuti tubuhnya. Ia berlari ke arah Pak Agung, yang masih tergeletak di tanah. “Pak, Agung! Tolong!” teriaknya, tetapi tidak ada yang mendengar.

“Larung sesaji… tidak boleh didengar…” suara Pak Agung bergetar, matanya terbuka lebar, tetapi tidak ada kehidupan di dalamnya.

Naya merasa putus asa. Ia berlari kembali ke Dhika, tetapi sosok itu sudah sangat dekat. “Dhika!” Naya meraih tangan Dhika, berusaha menariknya pergi.

Akhirnya, Dhika tersadar dari lamunan. Ia menatap Naya dengan bingung. “Apa yang terjadi?” tanyanya, tetapi sebelum Naya bisa menjawab, sosok-sosok itu sudah berada di depan mereka.

“Larung sesaji… kami datang untuk menuntut…” suara mereka serentak, menggetarkan jiwa Naya.

Naya merasakan ketakutan. Ia menarik Dhika dan berlari menjauh dari pantai, tetapi sosok-sosok itu terus mengikuti mereka. “Kita tidak boleh mendengarkan lagu itu, Dhik! Kita harus pergi!” teriak Naya, tetapi Dhika tampak bingung.

“Naya, tunggu! Apa yang kita lakukan?” Dhika bertanya, tetapi Naya tidak menjawab. Ia hanya berlari, berusaha menjauh dari suara-suara menakutkan itu.
Mereka berlari melewati jalan setapak yang gelap, menuju desa. Naya merasakan ada sesuatu yang mengejar mereka, sesuatu yang tidak terlihat tetapi sangat nyata. Ketika mereka sampai di rumah Naya, ia segera menutup pintu dan menguncinya.

“Naya, apa yang terjadi?” Dhika bertanya, napasnya terengah-engah.
“Kamu mendengar Tembang Larung sampai selesai, Dhika! Kita harus melakukan sesuatu!” Naya menjawab, suaranya bergetar.
Dhika terdiam, menyadari kesalahannya. “Tapi… bagaimana kita bisa memperbaikinya?” tanyanya dengan wajah pucat.

Naya teringat akan cerita-cerita yang pernah didengarnya. “Kita harus kembali ke pantai dan meminta maaf kepada Dewi Laut. Hanya dengan cara itu kita bisa selamat,” katanya, meskipun hatinya bergetar ketakutan.

Mereka berdua memutuskan untuk kembali ke pantai. Ketika mereka tiba, suasana sudah berubah. Laut tampak tenang, tetapi Naya merasakan ketegangan di udara. Mereka melihat Pak Agung berdiri di tepi pantai, wajahnya masih pucat.

“Pak! Kami datang untuk meminta maaf!” Naya berteriak, tetapi Pak Agung hanya menatap mereka dengan tatapan kosong.
“Larung sesaji… tidak boleh didengar…” ia berbisik, suaranya hampir tidak terdengar.
Naya merasa putus asa. “Kami tidak bermaksud untuk melanggar aturan! Tolong, kami tidak ingin terjadi apa-apa!” teriaknya.

Tiba-tiba, sosok-sosok dari laut muncul kembali, mengelilingi mereka. Naya dan Dhika merasa terjebak, tidak tahu harus berbuat apa. “Kami datang untuk menuntut… jiwa yang mendengarkan lagu…” suara mereka bergema di udara.
Naya merasakan ketakutan mendalam. Ia menggenggam tangan Dhika, berusaha memberi kekuatan. “Kita harus berdoa, Dhika. Kita harus memohon agar mereka mengampuni kita,” katanya, suaranya bergetar.

Mereka berdua mulai berdoa, memohon kepada Dewi Laut untuk mengampuni kesalahan mereka. Naya menutup matanya, berharap agar semuanya akan baik-baik saja. Namun, suara sosok-sosok itu semakin mendekat, dan Naya merasa jantungnya berdegup kencang.

“Larung sesaji… tidak boleh didengar…” suara mereka semakin keras.
Tiba-tiba Naya merasakan sesuatu yang aneh. Ia membuka matanya dan melihat sosok-sosok itu mulai menghilang, kembali ke dalam laut. “Dhika?”
Dhika juga melihat, dan mereka berdua merasa harapan mulai tumbuh. “Mungkin doa kita didengar!” Dhika berseru.

Namun, saat sosok-sosok itu menghilang, Naya kembali merasakan sesuatu. Ia menoleh ke arah Pak Agung, yang masih berdiri di tepi pantai. Wajahnya tampak lebih pucat dari sebelumnya, dan ia bergetar.

“Pak Agung, apakah ini sudah berakhir?” Naya bertanya, tetapi dukun itu hanya menatap mereka dengan tatapan kosong.
“Larung sesaji… tidak boleh didengar…” ia mengulangi suaranya semakin lemah.
Naya merasakan ketakutan kembali padanya. “Pak Agung! Apa yang harus kami lakukan?” teriaknya, tetapi tidak ada jawaban.

Tiba-tiba, gelombang besar datang dari laut, menghantam pantai dengan keras. Naya dan Dhika terjatuh, terjebak dalam ombak yang mengamuk. Naya merasa terhisap ke dalam air, dan dalam sekejap, semuanya menjadi gelap.

Ketika Naya membuka matanya, ia menemukan dirinya terbaring di tepi pantai, sendirian. Dhika tidak ada di sampingnya. Ia berusaha bangkit, tetapi tubuhnya lemas. Naya melihat sekeliling, tapi tidak ada tanda-tanda kehidupan. Suara ombak terdengar jauh, dan suasana terasa sunyi.

“Dhika!” teriaknya, tetapi tidak ada jawaban. Naya merasa putus asa, air mata mengalir di pipinya. Ia berlari menyusuri pantai, memanggil nama sahabatnya, tetapi tidak ada jawaban.

Saat ia berjalan, Naya melihat sesuatu dari kejauhan. Sebuah bayangan tampak bergerak di antara ombak. Ia berlari ke arah itu, berharap itu adalah Dhika. Namun, saat ia mendekat, ia menyadari bahwa itu bukan Dhika. Itu adalah sosok-sosok yang pernah dilihatnya, dengan wajah pucat dan tatapan kosong.

“Larung sesaji… tidak boleh didengar…” Mereka berbisik.

Naya berlalu menjauh, tetapi sosok-sosok itu terus mengikutinya. Ia merasa terjebak dalam mimpi buruk yang tidak berujung. “Tolong! Aku tidak ingin mati!” teriaknya, tetapi suara ombak menenggelamkan jeritannya.

Akhirnya, Naya terjatuh di pasir, kehabisan tenaga. Ia menutup mata, berharap semua ini hanya mimpi. Tetapi saat ia membuka mata, sosok-sosok itu sudah sangat dekat.
“Larung sesaji… kami datang untuk menuntut…” suara mereka menggema di telinganya.

Naya sudah tidak tahu harus melakukan apa. Saat sosok-sosok itu mendekat, ia merasakan hawa dingin menyelimuti tubuhnya. Dalam sekejap, semuanya menjadi gelap.

Ketika Naya membuka matanya lagi, ia menemukan dirinya terbaring di rumah, seolah tidak terjadi apa-apa. Namun, saat ia melihat ke cermin, ia melihat bayangan Dhika di belakangnya, dengan wajah sangat pucat.

“Dhika?” Naya berbisik, tetapi tidak ada jawaban. Ia merasa ketakutan yang mendalam. “Apa ini?”

Naya berlari keluar rumah, mencari Dhika, tetapi tidak ada siapa pun di desa. Semua orang tampak menghilang. Ia merasakan kesepian yang menyakitkan, dan saat ia menoleh ke arah laut, ia melihat sosok-sosok itu berdiri di tepi pantai, menatapnya dengan mata kosong.

“Larung sesaji… tidak boleh didengar… Larung sesaji… kami datang untuk menuntut… jiwa yang mendengarkan lagu.”
Naya benar-benar putus asa. Selamanya, ia akan terjebak dalam Larung Sesaji, terikat oleh lagu yang tak boleh di dengar.

Penulis: Anastasia Chandra Wijaya
Domisili: Padang, Sumatra Barat
Instagram: @venathheaa

Editor : Deni Iska Dian Nita

Back To Top