Cerpen romantis

Sampai Kapan Tetap Bertahan?

Spread the love

Butuh perjuangan setengah mati cuma buat nyari jadwal luang. Harus cocokin tanggal, nentuin jam, sampai debat kecil soal siapa yang bisa nyusul duluan. Tapi begitu akhirnya mereka duduk berdua—saling tatap, ngobrol basa-basi, ketawa kecil—waktu rasanya jalan sepuluh kali lebih cepat.

Sore merangkak turun. Lantunan musik dari kafe pinggir jalan mulai terdengar membosankan, sementara bayangan pohon-pohon di tepi jalan mulai memanjang, membawa sinyal horor bagi hubungan jarak jauh yang terbentur restu: waktu habis.

“Emmm… mau sampai kapan gini terus?” Raina memulai, suaranya pelan tapi menusuk. “Kenapa sih sikap kamu tuh selalu bikin orang bingung?”

Kalimat itu lagi. Kalimat usang yang jadi mantra wajib setiap kali pertemuan mereka mendekati garis akhir. Seolah-olah, kamus bahasa di kepala mereka sudah kosong, menyisakan satu kalimat tanya yang paling ditakuti.

“Mau sampai kapan terus-terusan kayak gini?” ujar Raina lagi, pasrah tapi geram saat mereka bersiap berpamitan. “Apa mau selesai aja? Daripada aku terus yang selalu merasa bertahan sendirian?”

Adit mendesah pelan. Cowok itu memainkan ujung jaketnya, menghindari tatapan mata Raina sebelum akhirnya menjawab dengan nada datar yang bikin dada Raina panas.

“Lah, gimana lo enaknya?”

Kok malah tanya balik. Huh, batin Raina mendengkus sebal.

“Gimana? Mau lanjut apa udah aja?” Raina mendesak.

“Apa diudahin aja?” Adit melontarkan kalimat itu begitu saja.

Raina tertegun sesaat. Jantungnya seperti berhenti. Di dalam kepalanya, perang batin langsung pecah. Sebenarnya, Raina enggak mau melepas Adit. Mereka tahu betul musuh terbesar hubungan ini bukan bos galak atau orang ketiga, tapi restu orang tua. Ironisnya, di balik tembok restu yang belum tentu bisa dijebol itu, mereka justru merasa aman karena punya alasan untuk jalan di tempat.

Masak, belum dapet step yang lebih lanjut aja mau stop dulu? batin Raina memberontak. Kalau mau stop, kenapa nggak dari dulu sekalian? Tau gitu kan nggak buang-buang waktu sejauh ini.

Tapi Raina juga sadar, dia sendiri bingung harus bersikap bagaimana. Di satu sisi, Adit itu tipe cowok yang kurang tegas kalau ambil keputusan. Adit enggak tega ngeliat muka Raina yang langsung sendu setiap kali bahas soal udahan—ia takut bikin keputusan ekstrem karena enggak mau menanggung beban berat kalau hubungan ini benar-benar tamat di ujung jalan. Adit memilih menggantung semuanya karena takut salah langkah, padahal ketidakpastian itu justru menjadi pisau bermata dua yang perlahan mengiris kesabaran Raina.

Dan di sinilah letak letihnya kepala Raina. Adit itu ada secara fisik, tapi sering kali terasa hampa. Datang untuk menemaninya tidak sendiri, tapi kenyataannya, Raina tetap harus menanggung sepi itu sendirian. Kehadiran Adit di sisinya kerap terasa seperti bayangan. Wujudnya nyata, tapi tidak bisa dipeluk untuk menghalau dingin.

Apalagi kalau sudah mikirin akar masalah yang paling mendasar, restu orang tua dan jarak antara Malang dan Kudus yang terbentang begitu jauh. Adit memiliki tanggung jawab moral yang besar untuk tetap tinggal di daerah orang tuanya, meneruskan hidup di tanah kelahirannya.

Sementara Raina? Ia adalah anak satu-satunya di rumah. Kemungkinan kecil, hampir nol persen, kalau Raina bakal diizinkan diboyong jauh meninggalkan rumah orang tuanya untuk menetap di Kudus. Dua kutub bumi yang keras kepala. Malang dan Kudus. Anak tunggal yang diandalkan di rumah dan anak laki-laki yang harus berbakti dekat dengan keluarga.

Raina menatap Adit lekat-lekat. Menunggu cowok itu meralat ucapannya, atau setidaknya, menunjukkan sedikit saja keberanian.

Angin sore berhembus pelan, menerbangkan helai rambut Raina yang tidak diikat. Suara kendaraan yang melintas di jalan raya mendadak terdengar samar, tenggelam oleh debar jantung mereka masing-masing. Adit masih menunduk, seolah butir-butir kerikil di bawah sepatunya jauh lebih menarik daripada menatap mata perempuan yang sudah bertahun-tahun menemaninya.

“Adit,” panggil Raina sekali lagi, suaranya kini terdengar lebih tenang, namun menyimpan sisa-sisa badai emosi. “Kamu sadar enggak sih, kita ini lagi jalan di tempat? Kalau emang dari awal kamu enggak punya niat buat ngerubah keadaan, kenapa kita masih di sini?”

Adit mengangkat wajahnya. Ada kilat ragu di matanya, sebuah pantulan dari ketakutan yang selama ini ia pendam rapat-rapat. “Bukannya aku enggak mau usaha, Rai,” jawab Adit akhirnya, suaranya serak. “Tapi kamu juga tahu, omongan orang tua itu bukan hal gampang yang bisa kita langgar begitu saja. Aku enggak mau egois. Kalau kita paksain sekarang tanpa jalan keluar yang jelas, yang ada malah hancur di tengah jalan. Dan aku… aku takut enggak sanggup kalau harus ngecewain kamu lebih dari ini.”

Raina tersenyum tipis, senyum getir yang menyayat hati. “Dan dengan cara kamu menggantung semuanya kayak gini, kamu pikir kamu enggak ngecewain aku, Dit? Kamu pikir sikap aman-aman aja yang kamu ambil ini enggak bikin aku tersiksa?”

Perdebatan itu kembali mereda, menyisakan keheningan yang jauh lebih berat dari sebelumnya. Langit di atas kota Malang perlahan berubah gelap, menyambut malam yang bersiap menggantikan senja. Mereka berdua tahu, pertemuan hari ini tidak akan menghasilkan jawaban final. Tidak ada pelukan hangat sebagai penutup, tidak ada janji manis untuk masa depan yang pasti.

Yang ada hanyalah sisa-sisa napas panjang, lelah yang menumpuk, dan sebuah pertanyaan abadi yang kembali menggantung di udara dingin: Sampai kapan mereka harus bertahan dalam ketidakpastian ini?

Nur Afifah Najma, Domisili di Malang Jawa Timur
Medsos: @afifah.najmaaa

Editor : Deni Iska Dian Nita

Back To Top