“Krekk!!!” Suara pintu rumah terbuka. Nampak seorang perempuan yang berdiri dengan raut wajah yang penuh waspada. Wajah perempuan itu melirik ke semua ruangan memastikan tidak ada seorang pun yang tahu jika ia pulang larut malam.
Tapi harapannya pun pupus setelah lampu rumah menyala dan muncul seseorang dengan wajah yang sudah merah padam. Ya benar, itu adalah seorang ayah yang siap untuk mengeluarkan amarah.
“Aisyah, kenapa pulang larut malam?” “Maaf ayah, tadi keasikan ngobrol sama temen-temen jadi lupa kalau udah waktunya pulang.” ucap Aisyah sambil menampilkan wajahnya yang takut akan dimarahi.
“Perjanjiannya gimana tadi?” ucap ayah. “Harus pulang sebelum jam 9.” jawab Aisyah.
“Sekarang jam berapa?” ucap ayah. “Jam 1 yah.” jawab Aisyah.
“Itu tahu kenapa kamu langgar, kamu itu cewek tidak baik pulang malem-malem.” Ucap ayah. “Iya yah, maaf Aisyah khilaf, maafin Aisyah ya yah, janji deh ini yang terakhir.” jawab Aisyah.
“Sudah berapa kali kamu ngomong kayak gitu, ribuann!” ucap sang ayah dengan nada tingginya.
Aisyah yang mulai takut ayahnya sudah berbicara dengan nada tinggi pun menunduk.
“Iya ayah, maafin Aisyah.” ucap Aisyah. “Baik, ini kali terakhir ayah izinin kamu buat pergi malem-malem.” ucap ayah sambil mengusap wajahnya.
“Tapi yah..” tolak Aisyah.
“Gak ada tapi-tapian kalau nggak mau ayah bawa kamu ke Pesantren.” titah sang ayah.
“Aisyah, gak mau.”
“Kalau tidak mau, patuhi semua ucapan ayah, ayah tidak mau anak ayah satu-satunya jadi seperti anak yang tidak pernah diurus oleh orang tuanya. Ini semua demi kebaikan kamu Aisyah, ayah tidak mau jadi ayah yang gagal mendidik anaknya. Jadi ayah mohon sama kamu untuk merubah diri kamu menjadi lebih baik. Ayah mohon Aisyah.” ucap ayah sambil meneteskan air mata.
Ucapan ayahnya tersebut membuat Aisyah merasa bersalah dan hatinya sesak. Dia merasa sudah menjadi anak yang tidak berbakti, durhaka, dan tidak pernah membahagiakan orang tuanya.
“Ayah pergi ke kamar dulu, kamu cepat cuci kaki, wudhu, jangan lupa baca doa sebelum tidur.” ucap ayah meninggalkan aisyah di ruang tamu.
Aisyah hanya diam melihat punggung sang ayah pergi. Ia pun segera pergi ke kamar. Sebelum tidur ia melakukan apa yang dikatakan sang ayah tadi.
“Apa aku udah gagal jadi anak yang berbakti kepada orang tua? Apa aku masih bisa membahagiakan orang tuaku? Setelah apa yang sudah banyak aku lakukan?” ucapnya dalam hati. Tak berselang lama dia pun akhirnya tertidur.
Tak seperti biasanya, hari itu Aisyah bangun sangat pagi dari tidurnya. Tiga jam adalah waktu yang cukup baginya untuk tidur. Segera ia bergegas untuk mengambil air wudhu dan melaksanakan Sholat Subuh.
Selesai sholat, ia membuka Al-Quran pemberian ayahnya waktu ulang tahun kemarin. Seingatnya, Al Qur’an itu pernah dibaca walau sebentar. Meskipun, pada akhirnya dibiarkan begitu saja sampai berdebu.
Ia pun melanjutkan membuka surat Al-Waqi’ah dan membacanya dengan sepenuh hati.
“Audzubillah himinas syaiton nirojim bismillah hirrohmanir rahim.” dan Aisyah pun mulai membacanya dengan sangat sungguh-sungguh meskipun ada sedikit kekeliruan dalam bacaannya. Memang dia baru bisa membaca Al-Quran.
Sang bunda yang ingin membangunkan Aisyah pun mendengar ada lantunan surat Al-Quran yang sedang dibaca oleh suara yang tak asing di telinganya. Sang bunda pun mendengarnya lewat celah pintu.
Sang ayah melihat istrinya yang sedang mendengarkan Aisyah mengaji pun menghampirinya. “Ada apa bund?” ucap ayah sambil menghampirinya.
“Sini yah, Aisyah lagi ngaji yah.” Sang ayah yang mendengarnya pun ikut menguping di pintu.
“Masya allah, mungkin aisyah dapat hidayah dari Allah SWT.” ucap ayah.
“Shodaqollahuladzim. Alhamdulillah selesai.” Aisyah pun membereskan alat sholat dan menaruh Al-Qurannya di atas rak. Dan ia pun bergegas ke ruang makan.
“Assalamualaikum, pagi bunda ayah.” sapa Aisyah.
“Waalaikumussalam pagi juga Aisyah.” jawab ayah dan bunda.
“Bunda masak sayur sop sama nugget ayam kesukaan kamu, cobain sini.” titah bunda.
“Wahh! bunda tau aja kesukaan aku.” jawab Aisyah.
Mereka pun sarapan bersama.
Selesai sarapan sang ayah bertanya “Aisyah, ayah mau tanya, tadi kamu baca Al-Quran ya?” Aisyah pun kaget, seolah tidak percaya jika ayahnya tahu ia membaca Al-Quran .
“Tadi ayah sama bunda gak sengaja denger kamu ngaji, ayah sama bunda seneng banget karena kamu akhirnya mau mengaji lagi. Alhamdullilah kamu ada perubahan.” Ucap ayah.
“Alhamdulillah yah, aku mau hijrah mulai hari ini.” jawab Aisyah.
“Alhamdulilah, semoga istiqomah ya.” “Amin.” Ucap mereka bersama.
Peristiwa larut malam itu membawa Aisyah tersadar dan menghantarkan kembali untuk ia membaca Al-Quran.
Perubahan demi perubahan sangat terlihat jelas. Aisyah yang dulu sering keluar malam, sekarang lebih memilih diam di rumah. Dulu sering berpakaian yang ketat, sekarang ia mulai memakai pakaian yang lebih longgar. Dulu sering kesiangan sholatnya, sekarang ia lebih tepat waktu mengerjakan sholat 5 waktu dan sholat sunnah.
Banyak perubahan yang ditunjukkan oleh Aisyah. Temannya sekarang juga hanya beberapa orang saja. Teman-teman lamanya mulai menjauhi Aisyah karena perubahannya.
Hal itu tidak menjadi masalah bagi Aisyah. Baginya, sekarang teman tidak harus banyak. Teman sedikit tapi berkualitas, sudah cukup bagi dirinya. Berteman sampai jannah-Nya yang ia harapkan. Perubahan Aisyah ini menjadi momen paling bahagia yang pernah ia jalani. Meskipun tidak mudah untuk menjalaninya, tapi Aisyah mampu melewati semua itu.

Penulis: Menik Nur Afifah, mahasiswa Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam. Penulis memiliki minat di bidang literasi khususnya cerpen dan novel. Selalu berkeinginan memiliki keahlian dalam kepenulisan dan berkomitmen untuk menghasilkan karya yang berkualitas.
Instagram : @menik_afifah_

