Eri Hendro Kusuma Budayawan

“Bah” : Bahasa Sunyi dari Pikiran yang Lelah

Spread the love

Akhir-akhir ini saya merasa kadar idealisme saya sedang menurun. Sebagai seorang yang terlalu berpikir dan berkeinginan “ndakik-ndakik”, harus diakui jika itu semua pada akhirnya membuat saya menjadi mudah stres, tensi darah tinggi, dan sulit tidur.

Sebenarnya saya seringkali diingatkan oleh banyak kolega agar berpikir realistis. Hari ini ya dipikir hari ini, besok ya urusan besok, serta dengan kalimat lain yang intinya sama, yaitu jangan berpikir jauh-jauh.

Sejujurnya saya juga tidak ingin memiliki sifat “kepikiran” seperti saat ini. Tapi ini masalahnya sudah melekat pada diri saya yang kelahiran wage. Orang kelahiran wage dalam mitos jawa sering dikaitkan dengan seorang yang memiliki “angen-angene gedhe” — keinginannya besar.

Ya mau percaya atau tidak, terkadang saya merasa begitu adanya. Dalam hal bekerja, berorganisasi, bahkan berkeluarga pun terkadang saya memiliki ekspektasi yang berlebihan. Saya tahu jika ini tidak baik. Apalagi ketika ekspektasi saya tidak tercapai, maka saya akan mudah frustasi.

Ingin rasanya seperti teman-teman yang bisa santai dan apatis dalam berpikir. Tapi sampai sekarang masih belum menemukan cara jitunya. Sementara ini hanya berusaha menurunkan standar dari ekpektasi saya dengan kata “bah”. Satu kata tapi bermakna sangat dalam. Kalau dalam bahasa “ndakik-ndakiknya” adalah apatis atau dalam bahasa yang sederhananya adalah “cuek”.

Dari sosok yang idealis menjadi apatis tentu bukan perkara yang mudah. Akan tetapi akhir-akhir ini saya sudah mulai bisa menjadi seorang apatis. Ketika sudah mencurahkan gagasan, pendapat, harapan, strategi, dan tenaga agar sesuatu itu mencapai kata ideal, akan tetapi mendapat balasan atau jawaban sebaliknya, maka saya cukup mengeluarkan kata “bah”.

Kata “bah” ini pencapaian atau penurunan, bagi saya tidak terlalu penting. Tapi saya sudah mulai menikmati fase ini. Apapun yang terjadi di tempat A atau B, saya selalu ucapkan kata “bah”. Mendengar cerita menjengkelkan dari teman-teman di tempat A, saya cukup berkata “bah”. Mendapat informasi dan formasi terbaru dari teman-teman di tempat B, saya juga cukup berkata “bah”.

Minimal dengan sering berkata “bah” ini ada dampak positifnya bagi saya. Pertama, obat penurun tensi darah saya semakin tidak banyak saya konsumsi. Kedua, sifat “kepikiran” saya jadi hilang karena memang tidak perlu dipikir.

Eri Hendro Kusuma
Penulis dan Pegiat Literasi

Back To Top