Di sebuah sudut desa yang tenang, tepatnya di Desa Lawak, Kecamatan Ngimbang, Kabupaten Lamongan, saya hidup sederhana bersama keluarga, seperti aliran air sungai kecil yang mengalir pelan di musim kemarau, namun penuh makna dan keteguhan. Saya lahir dari keluarga petani yang bersahaja, ayah dan ibuku keduanya berprofesi sebagai petani.
Sejak kecil, saya sudah terbiasa dengan suara kokok ayam saat fajar, dan langkah kaki yang terburu-buru menuju sekolah dasar di ujung desa. Sepulang sekolah, saya sering membantu ayah di sawah. Saya tumbuh menjadi sosok yang tidak banyak bicara, namun pandai menyimpan tekad. Saya bukan anak yang menonjol secara akademik, namun selalu ingin tahu, selalu haus belajar, meski hanya dari buku-buku lama yang dipinjam dari perpustakaan sekolah atau majalah usang di balai desa.
Ketika menginjak SMP, saya mulai merasa bahwa hidup bukan sekadar tentang sawah dan ladang. Saya mulai sering memikirkan makna hidup dan ke mana saya akan melangkah. Saat teman-teman lain mulai bermimpi ingin menjadi polisi, tentara, atau bekerja di kota, aku menyimpan mimpiku dalam-dalam, saya ingin menjadi seseorang yang bisa menebar manfaat, entah sebagai guru, penulis, atau penceramah. Saya sendiri pun belum tahu, tapi yang jelas ingin hidup ini dapat memberi arti bagi orang lain.
Perjuangan terasa lebih berat saat SMA. Jarak tempuh dari rumah ke sekolah di kecamatan cukup jauh dan harus ditempuh dengan sepeda tua milik ayah. Namun saya tidak pernah mengeluh. Justru semakin rajin belajar dan aktif di beberapa organisasi. Di sana saya mengenal dunia dakwah, mengenal Al-Qur’an lebih dalam, dan belajar menyampaikan kebaikan.
Selepas SMA, keluarga saya sempat kebingungan. Mereka tak memiliki cukup uang untuk membiayai saya saat kuliah. Namun, saya yang sejak awal tak pernah menyerah, mendaftarkan diri ke Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung. Dengan usaha, semangat dan juga doa dari orang tua, saya mengikuti tes ujian tulis masuk kampus. Alhamdulillah lulus.
Kini, saya telah menjadi mahasiswa komunikasi dan penyiaran islam (KPI) semester dua. Di Tulungagung, saya tinggal di sebuah kontrakan kecil yang sederhana bersama teman teman yang tak jauh dari kampus. Karena kondisi saya pun harus bisa hidup hemat, hanya makan dua kali sehari, dan sesekali keluar untuk membeli secangkir kopi.
Meski jauh dari keluarga dan hidup dalam keterbatasan, saya selalu membawa Desa Lawak dalam hati. Suara jangkrik malam dan aroma tanah basah di musim hujan selalu saya rindukan. Saya tahu bahwa jalan hidup masih panjang. Tapi saya percaya, setiap langkah yang saya ambil, sekecil apapun itu, adalah bagian dari rencana besar Tuhan.
Dan di malam-malam sepi Tulungagung, ketika angin menembus jendela kontrakan yang sederhana, saya sering menatap langit, sembari berbisik dalam hati, “Ya Allah, semoga saya bisa menjadi cahaya, meski hanya setitik, bagi desa kecil saya, bagi keluarga, dan bagi siapa saja yang Kau hadirkan dalam hidup saya .”

Penulis : M Rosyid Ramadhani Mahasiswa UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung. IG : rosyidramadhani2

