Bola, Mimpi, dan Pilihan

Spread the love

“Keren ya mereka, nanti kalau aku udah besar, aku mau jadi seperti mereka ya, Yah, Bu.” Ucapnya antusias penuh harap. Alfath, anak kecil yang bermimpi menjadi pemain sepak bola profesional ini berharap ketika ia dewasa bisa berada diantara barisan pesepakbola profesional yang lain.

Terlahir dari keluarga yang terbilang cukup sederhana, tidak membuat nya merasa kecil hati untuk meraih mimpinya. Menurutnya, mimpi bukan hanya sekadar harapan, tetapi kemauan yang harus diwujudkan. Alfath kecil masih belum mengerti bagaimana sebuah proses untuk mencapai suatu keberhasilan. Bagaimana cara agar sampai pada tujuan, dan apa saja yang harus dikorbankan.

Seperti sore-sore biasanya, Alfath bersama teman kecilnya bersiap untuk bermain bola di tanah lapang, “Berangkat dulu, Bu, assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam, hati-hati ya, Nak. ” balas sang ibu sambil tersenyum. Dalam hati kecilnya ia berharap suatu saat dapat mewujudkan mimpi sang anak, namun tak dapat dipungkiri bahwa kondisi ekonomi mereka tidak mencukupi.

Suatu ketika, Alfath bertemu dengan anak seumuran yang ternyata mempunyai mimpi yang sama dengannya. Cukup lama ia berbincang. Alfath juga merasa nyaman dengan teman barunya, karena menurutnya mereka mempunyai hobi dan tujuan yang sejalan. Sampai pada akhir pembahasan ia diberi tawaran oleh temannya.

“Al, kamu kalau mau ikut sekolah sepakbola kaya aku bisa loh, nanti aku bilang ke papa biar dibantu daftar.”

Mendengar tawaran dari temannya, Alfath cukup tertarik, tetapi ia juga tidak bisa mengambil keputusan sendiri. “Boleh…boleh, tapi nanti coba aku tanyakan ke ayah dan ibuku dulu ya, terima kasih atas tawarannya.”

Mereka mempunyai mimpi yang sama, namun ekonomi keluarga mereka yang berbeda. Alfath hanya anak dari keluarga sederhana, tidak seperti temannya yang pada dasarnya dari keluarga yang berkecukupan.

Suatu hari Alfath dan kedua orang tuanya sedang menonton televisi di ruang tengah. Alfath pun menyampaikan tawaran dari temannya beberapa waktu yang lalu. “Ayah, ibu, kemarin waktu Alfath main bola di tanah lapang ada teman baru. Dia juga ngasih tawaran ke Alfath buat ikut sekolah sepak bola seperti dia. Alfath pengen banget ikut sepertu dia. Gimana? Apa boleh, Yah, Bu?”

Sejenak kedua orang tua itu diam, merenungkan keinginan anaknya. “Iya, Nak, gak papa kamu ikut aja. Nanti tanya temanmu ya gimana cara daftarnya.” ucap sang ayah.

“Beneran, Yah ini?” jawab Alfath tak percaya.

Ayahnya menyetujui keinginannya. Jika memang itu keinginan putranya dia berjanji bahwa akan selalu mengusahakan. Sang ibu hanya tersenyum dengan haru mendengarkan keduanya.

Alfath amat bahagia karena tawaran yang diberikan temannya akhirnya disetujui oleh orangtuanya. Ia berfikir bahwa ini adalah jalan untuk menuju mimpinya. Dengan penuh antusias dan semangat Alfath pun mengikuti sekolah sepak bola itu. Setiap latihan ia selalu diantar oleh ayahnya.

Selama ini Alfath hanya bermain sepak bola secara otodidak bersama teman-temannya. Sejak mengikuti sekolah sepak bola, kini ia mulai menguasai beberapa teknik sepak bola dengan baik dan benar. Beberapa kali mengikuti liga dan pertandingan antar tim. skill Alfath kini sudah mulai sepadan dengan teman-teman yang lain.

Pada saat menduduki bangku SMA, Alfath mendapat kesempatan menjadi salah satu pemain yang dipilih untuk mengikuti turnamen sepak bola di tingkat provinsi. Banyak pengalaman dan juga pengetahuan baru yang ia dapatkan ketika mengikuti turnamen ini. Mulai dari latihan, sharing antar tim, kegiatan pada saat karantina, dan juga momen saat membawa nama kota tercinta dalam ajang sepak bola.

Perjuangan, kerjasama, tanggung jawab, dan semangat pada saat itu menjadikan kenangan yang tak terlupakan dalam sejarah hidupnya.

Namun, semua ada masanya. Kondisi ekonomi yang tidak stabil membuat Alfath harus berhenti dari dunia sepak bola. Saat itu memang kondisi ekonomi keluarganya betul-betul sedang jatuh. Sehingga ayah harus mengambil keputusan yang sangat berat

“Nak, maaf ayah sekarang sudah tidak bisa membiayai sekolah sepak bolamu. Tolong jangan berkecil hati ya. Ayah tahu itu mimpimu sedari kecil. Semoga kamu bisa sukses dengan jalan yang lain ya.” Dengan perasaan yang tidak tega dan penuh haru, ayahnya tetap berusaha memberi semangat pada Alfath.

Melihat Alfath yang terlihat murung, ibunya mendekat sambil mengelus kepalanya.
“Nak, hidup itu pilihan. Kamu bisa sukses melalui jalan apapun yang ingin kamu pilih. Terkadang kehidupan memang tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan, tapi siapa tahu jika itu memang jalan yang Tuhan berikan.”

Sejak saat itu Alfath berusaha mengubur satu-satunya mimpi yang dimilikinya dalam-dalam. Walaupun itu merupakan keinginan terbesarnya, tetapi dia juga tidak boleh egois. Ia juga harus peduli dengan kondisi keluarganya. Alfath hanya berharap apapun jalan yang akan diambil kedepan merupakan yang terbaik. Dia yakin bahwa itu adalah garis yang sudah ditakdirkan untuk kehidupannya.

Biodata Penulis:
Fa’is Roukhaya Nurlatif adalah mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah Universitas Islam negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung. Ia masuk menjadi Mahasiswa UIN SATU Tulungagung pada tahun 2024 melalui jalur mandiri dan mengikuti Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB). Sebelum belajar diUIN SATU Tulungagung, fathi bersekolah di SMAN 1 CAMPURDARAT pada tahun 2020 – 2023. Silakan kunjungi akun IG: @faisrn6 untuk kenal lebih dekat. Email : faisrn160@gmail.com

Editor : Deni Iska Dian Nita

Back To Top