Langkah Kecil Santriwati

Spread the love

Pagi itu, mentari belum sepenuhnya menampakkan sinarnya. Aku telah bersiap dengan pakaian rapi dan syar’i. Tak kusangka, hari itu menjadi hari pertamaku menginjakkan kaki di tempat yang kerap mereka sebut sebagai “penjara suci.” Tanganku menggenggam erat tangan ibu. Perasaanku campur aduk. Takut, canggung, dan sedih. Karena aku tahu jika harus berpisah dari rumah yang telah membesarkanku. Kakiku terasa berat melangkah, karena aku tahu, akan ada rindu yang mendalam dan hari-hari yang padat menantiku.

Aku masih mengingat jelas saat langkahku berhenti di depan sebuah pintu bertuliskan “Marwa 3.” Di situlah, kehidupan baruku sebagai santriwati dimulai. Dengan langkah ragu, aku memasuki kamar itu dan disambut oleh banyak wajah baru. Namun aku bersyukur karena ada Aya, teman lamaku yang juga menjadi santriwati baru sepertiku.

Tak lama kemudian, seorang pengurus kamar datang menyapaku dengan ramah. Ia memintaku memilih lemari kosong agar barang-barangku bisa segera ditata. Ia juga mengajariku istilah yang digunakan di pondok: pengurus kamar disebut mudabbiroh, dan kepada kakak tingkat, kami memanggil dengan sebutan ukhty.

Hari-hari awal di pondok terasa begitu berat. Aku harus bangun pukul 03.45 dini hari untuk salat Subuh berjamaah, dilanjutkan mengaji selama kurang lebih 20 menit. Setelah itu, aku harus segera antri mandi, makan, lalu berangkat ke tempat belajar mengajar. Semua harus dilakukan tepat waktu.

Sebagai anak yang terbiasa hidup santai di rumah, menjalani kehidupan yang sangat teratur dengan berbagai aturan membuatku sering menangis diam-diam di sudut kamar. Aku merindukan pelukan ibu dan nasi goreng buatan ayah di pagi hari.

Namun perlahan, aku mulai belajar menerima. Aku mulai menghafal kosakata baru dalam bahasa Arab dan Inggris. Pondokku memang berbasis modern dan menggunakan kedua bahasa itu dalam percakapan sehari-hari. Aku juga mulai belajar kitab kuning yang sebelumnya belum pernah kupelajari, dan ikut aktif dalam berbagai kegiatan seperti pramuka, muhadloroh, dan lainnya.

Aya, sahabat lamaku, selalu menjadi penyemangat. Ia sering berkata,“Kita ini seperti benih. Harus kuat melewati panas, hujan, dan badai supaya bisa tumbuh jadi pohon.”

Tahun demi tahun berlalu. Aku mulai terbiasa dengan kehidupan pondok. Tapi ketika aku naik ke kelas 9 MTs, ada banyak tantangan baru. Aku dihadapkan pada pilihan: melanjutkan ke jenjang MA di pondok ini, atau keluar. Apalagi, saat itu aku sering mendapat hukuman dari pengurus pondok. Banyak teman-temanku memilih keluar.

Orang tuaku terus meyakinkanku bahwa perjalanan menuju keberhasilan tidaklah mudah. Jangan sampai aku menjadi bagian dari mereka yang menyerah di tengah jalan. Aya juga terus menguatkanku agar bertahan.

Beberapa ustadz dan ustadzah berkata bahwa kehidupan di pondok tidak sekeras kehidupan di luar sana. Aku mulai merenungi kata-kata mereka, meskipun hatiku masih bimbang. Di tengah kebingungan itu, aku memutuskan melakukan salat istikharah, memohon petunjuk dari Allah SWT.

Akhirnya, aku menemukan jawabannya. Aku memutuskan untuk tetap melanjutkan pendidikan MA di pondok ini. Aku merasa, jika keluar, justru akan muncul banyak persoalan baru yang lebih berat.

Hari-hariku kembali berjalan seperti biasa, hingga akhirnya aku memasuki semester dua. Di semester ini, aku diamanahi menjadi mudabbiroh di kamar Arofah 1, bersama tiga teman lainnya. Kami harus mengatur, mengayomi, dan menjaga kondisi kamar serta para anggotanya agar tetap tertib.

Tugas ini cukup berat, karena aku bukan hanya menjadi santri, tapi juga harus mengurus santri lainnya. Suatu hari, aku terkena pelanggaran karena kamar masih berantakan saat waktu piket. Padahal saat itu aku sedang mengikuti kegiatan SKU Penegak Bantara Pramuka selama satu minggu. Akibatnya, aku harus menjalani hukuman bersamaan dengan kegiatan kepramukaan.

Lelah tentu saja kurasakan, tapi aku selalu menyemangati diri sendiri untuk tetap kuat. Biasanya aku menguatkan hati dengan salat malam, curhat kepada Allah SWT, dan menangis sepuasnya. Setelah itu, hatiku terasa lebih tenang dan lega.

Waktu terus bergulir. Aku telah duduk di kelas 11 MA, dan di sinilah pengalaman yang lebih berat dimulai. Aku menjadi bagian dari organisasi santri putri pondok yang disebut OPPM. Kami mengatur seluruh kegiatan santriwati.

Pada hari pelantikan, rasa gugup menyelimuti hati kami. Kami mengikrarkan janji di hadapan banyak orang, siap memikul tanggung jawab besar. Aku ditugaskan di bidang kepramukaan, sebuah bidang yang memang sangat kusukai sejak awal.

Meskipun masa kepengurusan penuh dengan kelelahan, aku merasa sangat puas karena akhirnya aku bisa meraih apa yang sejak lama kuimpikan.

Kini, semua amanah telah berhasil kuselesaikan. Tak terasa, aku berada di kelas 12 MA semester 2, menjadi santriwati tingkat akhir. Di awal semester, kami mendapat tugas wajib, amaliyah tadris, yaitu praktik mengajar dengan menggunakan bahasa Arab atau Inggris sesuai materi yang ditentukan.

Setelah kegiatan itu selesai, fokus kami diarahkan untuk menghadapi ujian akhir. Hari-hari pondok terasa lebih longgar, meski tetap dalam bingkai aturan yang harus dihormati. Sebab, pelanggaran sekecil apapun bisa mengancam kelulusan kami.

Aku terus berusaha menjaga etika dan menjauhi pelanggaran agar dapat menghadapi semua ujian dengan kelancaran dan rasa syukur.

Tahap terakhir adalah penentuan kelulusan dari pondok. Setelah acara perpisahan, kami masih harus menanti pengumuman kelulusan pondok. Kebetulan pondok kami mengeluarkan dua ijazah. Pertama ijazah negara dan kedua ijazah pondok. Kebetulan hari itu yang akan diumumkan adalah kelulusan pondok.

Rasa cemas meliputi aku dan teman-teman. Kami hanya bisa berdoa dan berserah pada kehendak-Nya. Proses pemanggilan nama dilakukan dalam tiga kloter. Namaku disebut pada kloter terakhir. Saat itu, hatiku benar-benar tidak karuan.

Akhirnya, aku memasuki ruangan yang sakral itu. Dengan kepala tertunduk, kugenggam erat surat kelulusan. Ketika ustadz dan ustadzah mempersilakan kami membukanya, jantungku berdebar kencang.

Alhamdulillah. Aku dinyatakan lulus.

Rasa lega menyelimuti hati. Semua perjuangan dan air mata selama ini terasa sangat terbayarkan.

Tentang Penulis:
Silfi Nurul Hikmah tinggal di Blitar, Jawa Timur. Saat ini sedang menempuh studi di UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung.
Instagram: @silfiinrl_

Editor: Deni Iska Dian Nita

Back To Top